Perut buncit kerap menjadi persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga sering dikaitkan dengan penilaian moral dan keagamaan. Di tengah masyarakat, muncul anggapan bahwa perut buncit identik dengan kemalasan, kurang menjaga diri, bahkan dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Pertanyaan pun datang: benarkah Islam membenci perut buncit, atau justru yang dicela adalah sikap hidup tertentu yang melatarbelakanginya?
Dalam ajaran Islam, penilaian terhadap manusia tidak pernah bertumpu pada bentuk fisik semata. Tubuh yang tinggi atau pendek, kurus atau gemuk, indah atau biasa saja, bukanlah ukuran kemuliaan di sisi Allah Swt. Rasulullah saw. secara tegas menegaskan bahwa Allah tidak menilai hamba-Nya dari rupa dan fisik, melainkan dari hati dan amal perbuatannya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadis sahih riwayat Muslim dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Prinsip ini menjadi landasan penting bahwa kondisi fisik, termasuk perut buncit, tidak serta-merta menjadi sesuatu yang tercela dalam Islam.
Namun demikian, Islam juga mengajarkan keseimbangan dan pengendalian diri, terutama dalam urusan makan dan gaya hidup. Sejumlah hadis Rasulullah saw. dan penjelasan para ulama menunjukkan adanya kritik terhadap kegemukan yang muncul akibat sikap berlebihan, kerakusan terhadap makanan, serta kelalaian dalam menjaga amanah tubuh. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. menggambarkan generasi setelah masa terbaik umat Islam sebagai generasi yang di antaranya ditandai dengan kegemukan, yang oleh para ulama dipahami sebagai simbol gaya hidup berlebihan dan tenggelam dalam kenikmatan dunia. Artinya, yang dicela bukanlah fisik gemuk itu sendiri, melainkan sebab dan sikap hidup di baliknya.
Para ulama terdahulu memberikan penjelasan yang sangat proporsional dalam hal ini. Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kegemukan yang tercela adalah kegemukan yang lahir dari kebiasaan banyak makan, bermalas-malasan, dan mengikuti hawa nafsu tanpa kendali, hingga menjauhkan seseorang dari ibadah dan ketaatan. Dalam kondisi seperti ini, perut buncit dapat menjadi simbol kelalaian spiritual, karena membuat tubuh berat beribadah, malas shalat, dan lalai dari tanggung jawab sebagai hamba Allah. Sebaliknya, kegemukan yang disebabkan faktor genetik, kondisi alami tubuh, usia, atau sebab-sebab yang tidak berada dalam kendali seseorang, tidak termasuk dalam kategori tercela.
Sejarah Islam bahkan mencatat banyak tokoh mulia yang bertubuh gemuk atau berperut besar, namun memiliki derajat keimanan dan keilmuan yang tinggi. Ali bin Abi Thalib r.a. diriwayatkan memiliki perut besar, namun beliau dikenal sebagai sahabat Nabi yang zuhud, ahli ibadah, dan dijamin surga. Demikian pula Ath-Thufail bin ‘Amr, seorang tabi’in besar, yang dijuluki “Abu Bathn” tanpa maksud merendahkan, melainkan sebagai deskripsi fisik yang bersifat akrab. Bahkan Rasulullah saw. sendiri, di usia lanjut, mengalami perubahan fisik dengan tubuh yang lebih berisi, namun hal tersebut sama sekali tidak mengurangi kualitas ibadah beliau, baik yang wajib maupun sunnah.
Nasihat keras tentang bahaya perut buncit juga datang dari Umar bin Khattab r.a., yang menekankan bahwa perut besar akibat makan berlebihan dapat merusak tubuh, menimbulkan penyakit, dan melemahkan semangat ibadah. Pesan Umar ini sejatinya bukan celaan terhadap fisik, melainkan peringatan agar kaum Muslimin menjaga pola makan dan gaya hidup secara seimbang. Kesederhanaan dalam makan, menurut Umar, justru akan membuat seseorang lebih kuat beribadah, lebih sehat, dan lebih dekat kepada sikap zuhud yang diajarkan Islam.
Dengan demikian, pertanyaan “benarkah Islam membenci perut buncit?” perlu dijawab secara jernih dan adil. Islam tidak membenci perut buncit sebagai kondisi fisik, karena fisik bukan ukuran kemuliaan di sisi Allah. Yang dicela dalam Islam adalah sikap berlebihan dalam makan, ketergantungan pada kenikmatan dunia, serta gaya hidup yang melalaikan ibadah dan tanggung jawab spiritual. Perut buncit menjadi tercela apabila ia lahir dari kerakusan dan kelalaian, bukan karena faktor alami atau kondisi yang tidak bisa dihindari.
Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga tubuh sebagai amanah, bersikap sederhana dalam makan dan minum, serta menempatkan kesehatan fisik sebagai penunjang ketaatan, bukan tujuan utama. Tubuh yang sehat dan terjaga akan membantu seorang hamba lebih khusyuk dalam ibadah dan lebih kuat dalam menjalani amanah hidup. Dengan pemahaman ini, perbincangan tentang perut buncit tidak lagi menjadi ajang menghakimi fisik, melainkan sarana muhasabah untuk menata pola hidup yang lebih seimbang antara kebutuhan jasmani dan tuntutan rohani.