Dalam keseharian, manusia kerap merasa hidup masih panjang dan kesempatan selalu tersedia. Kita sering menunda banyak hal dengan keyakinan bahwa masih ada waktu esok hari untuk berubah, memperbaiki diri, atau meningkatkan kualitas ibadah. Kalimat “nanti saja” menjadi penghibur diri yang menenangkan, seolah-olah usia dan kesempatan adalah sesuatu yang pasti dan bisa dijadwalkan sesuai kehendak kita. Padahal, tidak satu pun manusia yang benar-benar dijamin masih memiliki kata “nanti” dalam hidupnya.
Pertanyaan sederhana namun menggugah pun layak diajukan kepada diri sendiri: bagaimana jika hari ini adalah kesempatan terakhir kita untuk hidup? Pertanyaan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan bahwa hidup memiliki batas yang tidak bisa ditawar. Allah Swt. telah mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian, sebagaimana firman-Nya:
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian” (QS. Ali ‘Imran: 185)
Ayat ini menjadi pengingat tegas bahwa hidup bukanlah milik kita sepenuhnya, melainkan amanah yang suatu saat akan diambil kembali.
Rasulullah saw. pun mendidik para sahabat agar tidak tenggelam dalam angan-angan panjang tentang dunia. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian)” (HR. At-Tirmidzi, shahih)
Mengingat kematian bukan berarti menjauh dari kehidupan, melainkan justru membantu manusia menilai hidup dengan lebih jujur, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab. Orang yang ingat kematian akan lebih berhati-hati dalam bertindak, lebih tulus dalam beramal, dan lebih serius dalam memperbaiki hubungannya dengan Allah maupun sesama manusia.
Orang-orang shalih terdahulu dikenal sebagai pribadi yang tidak pernah merasa aman dengan amalnya sendiri. Mereka takut terhadap dosa-dosa kecil dan khawatir amal besar mereka tidak diterima oleh Allah. Rasa takut ini bukan lahir dari kekurangan iman, tetapi dari pemahaman yang mendalam tentang siapa mereka dan kepada siapa kelak mereka akan kembali. Mereka menyadari bahwa pertemuan dengan Allah Azza wa Jalla adalah kepastian yang tidak bisa dihindari, sehingga setiap hari dijalani seolah menjadi kesempatan terakhir untuk beramal.
Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata bahwa dunia hanyalah terdiri dari tiga hari: hari kemarin yang telah berlalu, hari ini yang sedang dijalani, dan hari esok yang belum tentu ditemui. Kesadaran inilah yang membuat seseorang hidup dengan penuh makna, tidak menunda kebaikan, dan tidak meremehkan kesempatan berbuat amal. Hari ini adalah ruang nyata untuk memperbaiki diri, sementara hari esok masih berada dalam wilayah yang tidak pasti.
Jika hari ini benar-benar adalah hari terakhir, maka pertanyaan penting yang perlu kita renungkan bukanlah tentang apa yang telah kita rencanakan, melainkan apa yang masih perlu kita perbaiki. Shalat yang sering ditunda, lisan yang mudah melukai, hati yang berat untuk bertaubat, serta hubungan yang renggang dengan Allah dan manusia, semuanya menunggu untuk dibenahi. Pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan kata-kata, tetapi dengan amal nyata yang dilakukan sekarang juga.
Allah Swt. Maha Pengasih dan Maha Penerima taubat. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung” (QS. An-Nur: 31)
Selama ruh belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka lebar. Inilah bentuk kasih sayang Allah yang tidak pernah menutup harapan hamba-Nya, meski dosa telah berulang kali dilakukan.
Orang yang bijak bukanlah mereka yang paling banyak membuat rencana panjang, tetapi mereka yang paling cepat kembali kepada Allah ketika berbuat salah. Ia tidak menunggu usia tua untuk bertaubat, tidak menunggu lapang untuk taat, dan tidak menunda kebaikan dengan alasan apa pun. Ia sadar bahwa kesempatan hidup bisa diambil kapan saja dan di mana saja, tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Jika hari ini Allah masih memberi kita nafas, maka itulah tanda bahwa masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Bukan besok, bukan nanti, melainkan sekarang. Semoga Allah memudahkan langkah kita untuk kembali kepada-Nya dalam keadaan taat, membersihkan hati, memperbaiki amal, dan menutup hidup kita dengan husnul khatimah. Aamiin.