Jangan Biarkan Puasa Hanya Menjadi Lapar dan Dahaga

Jangan Biarkan Puasa Hanya Menjadi Lapar dan Dahaga


Nurul Aisyah
11/03/2026
16 VIEWS
SHARE

Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan keberkahan dan menjadi kesempatan besar bagi setiap Muslim untuk memperbanyak amal saleh. Pada bulan ini, pahala ibadah dilipatgandakan dan pintu-pintu kebaikan dibuka seluas-luasnya. Karena itu, Ramadan sering disebut sebagai momentum emas untuk memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Allah Swt. Seorang Muslim dianjurkan untuk memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya, baik dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki akhlak, maupun meninggalkan berbagai kebiasaan buruk yang mungkin masih dilakukan pada hari-hari biasa.

Namun sangat disayangkan jika kesempatan besar ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Banyak orang yang menjalankan puasa hanya sebatas menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, tetapi tidak diiringi dengan upaya menjaga lisan dan perilaku. Padahal, puasa yang sebenarnya bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari segala bentuk perbuatan yang dilarang oleh Allah Swt. Jika seseorang masih tetap melakukan perbuatan maksiat, berkata tidak jujur, atau menyakiti orang lain, maka tujuan utama dari ibadah puasa tidak akan tercapai dengan sempurna.

Salah satu perbuatan yang dapat merusak pahala puasa adalah kedustaan. Kedustaan dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti berkata bohong, menyampaikan informasi yang tidak benar, melakukan transaksi yang tidak jujur, hingga memberikan kesaksian palsu. Jika kebiasaan-kebiasaan buruk seperti ini masih terus dilakukan selama bulan Ramadan, maka puasa yang dijalankan berpotensi menjadi sia-sia. Allah Swt tidak menghendaki hamba-Nya hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi tetap melakukan perbuatan yang buruk.

Rasulullah saw telah mengingatkan hal ini dalam sebuah hadis. Beliau bersabda:

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani)

Hadis ini menjadi peringatan bagi setiap Muslim agar tidak menjalankan puasa hanya secara lahiriah, tetapi juga menjaga diri dari berbagai perbuatan yang dapat menghilangkan pahala puasa tersebut.

Dalam hadis lain, Rasulullah saw juga bersabda:

“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan masih mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan rasa lapar dan haus yang ia tahan.” (HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari ucapan dan perbuatan yang buruk. Dengan demikian, menjaga lisan dan perilaku menjadi bagian penting dari kesempurnaan ibadah puasa.

Karena itu, Ramadan seharusnya menjadi waktu yang tepat untuk melakukan perubahan dalam diri. Bulan ini adalah kesempatan bagi setiap Muslim untuk memperbaiki akhlak, menjaga lisan, serta meninggalkan kebiasaan buruk yang dapat merusak pahala ibadah. Dengan berusaha menjaga kejujuran, menghindari maksiat, serta memperbaiki niat dalam beribadah, puasa yang dijalankan akan menjadi lebih bermakna dan bernilai di sisi Allah Swt.

 

Jangan sampai puasa yang kita jalankan hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa memberikan perubahan yang berarti dalam kehidupan. Puasa seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki hubungan dengan Allah Swt serta dengan sesama manusia. Dengan menjaga ucapan, meninggalkan kedustaan, dan menjauhi berbagai perbuatan yang dilarang, seorang Muslim dapat memastikan bahwa puasanya tidak hanya menghasilkan lapar dan dahaga, tetapi juga pahala dan keberkahan yang besar di sisi Allah Swt.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA