Pensiun Bukan Akhir, Kisah Ngatino Jadi Petani Sejahtera

Pensiun Bukan Akhir, Kisah Ngatino Jadi Petani Sejahtera


Risdawati
28/04/2026
9 VIEWS
SHARE

Bagi Ngatino, usia 56 bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan titik awal sebuah perjalanan baru. Setelah seperempat abad menghabiskan waktu bergelut dengan teriknya matahari dan beratnya memanen tandan sawit di lapangan, pria asal Jawa Tengah ini harus menghadapi fase baru: masa pensiun telah tiba, namun dapur harus tetap mengepul.

Bukannya menyerah pada keadaan, ia memilih untuk kembali “berkawan” dengan tanah. Dengan sisa tenaga yang ada, Ngatino mulai mengolah dua hektare lahan belantara yang ia pinjam dari warga setempat. Di bawah bimbingan LAZ Al Azhar, tangan yang biasanya memegang galah dan egrek itu kini mulai akrab dengan cangkul serta benih. Ia menanam padi dan hortikultura dengan ketelatenan seorang ayah yang memendam harapan besar.

Tak disangka, tanah Mangkalapi membalas keringatnya dengan berlimpah. Hasil dari bertani ternyata berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan dengan upah bulanan saat masih menjadi buruh panen dulu. Semangatnya pun kian terbakar. Dari dua hektare awal, kini ia telah mengelola empat hektare lahan yang subur.

Keberhasilan demi keberhasilan mulai hadir di rumahnya. Tabungan dari hasil panen perlahan mampu ia gunakan untuk membeli tanah sendiri dan membangun rumah yang lebih layak untuk bernaung. Namun, prestasi yang paling membanggakan baginya adalah saat melihat anak bungsunya berhasil melangkah ke gerbang perguruan tinggi, sebuah mimpi yang dulu terasa sangat jauh bagi seorang pensiunan buruh lapangan.

Ngatino adalah bukti bahwa keberanian untuk berubah dan ketekunan akan selalu menemukan jalannya. Sambil memandang hamparan lahan yang kini menjadi sumber penghidupannya, ia menguntai doa dan syukur yang mendalam:

“Terima kasih LAZ Al Azhar. Hidup saya dan keluarga kini jauh lebih sejahtera. Semoga program ini terus berlanjut agar petani kecil lain juga bisa merasakan manfaatnya,” ucapnya tulus.

Bagi Ngatino, menjadi petani bukan sekadar pekerjaan di masa tua, melainkan jalan menuju martabat dan kesejahteraan yang sesungguhnya.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA