Perjuangan Angjal, Yatim Penghafal Al-Qur’an yang Bermimpi Jadi Psikolog

Perjuangan Angjal, Yatim Penghafal Al-Qur’an yang Bermimpi Jadi Psikolog


Risdawati
12/06/2026
15 VIEWS
SHARE

Namanya Angjal Hidayat. Pemuda berusia 18 tahun ini baru saja menuntaskan pendidikan menengah atas setelah menempuh perjalanan panjang yang penuh perjuangan dan ketekunan.

Pendidikan dasarnya ia jalani di SD Negeri Cimanggu 01. Setelah lulus, Angjal mengambil keputusan besar yang mengubah hidupnya: merantau ke Yogyakarta untuk menimba ilmu di Pondok Pesantren Taruna Al-Qur'an, Sleman. Di sanalah ia menjalani pendidikan formal sekaligus pendidikan agama sejak jenjang SMP hingga SMA.

Alhamdulillah, pada tahun ini Angjal dinyatakan lulus. Sebagai bentuk rasa syukur sekaligus pengabdian kepada almamaternya, ia kini menjalani masa khidmah atau pengabdian selama satu tahun di pondok pesantren.

Ditempa oleh Disiplin dan Kebiasaan Baik

Kehidupan di pesantren membentuk Angjal menjadi pribadi yang disiplin dan mandiri. Hari-harinya dimulai sejak dini hari. Saat sebagian besar orang masih terlelap, ia sudah bangun untuk melaksanakan salat tahajud dan mengisi waktu dengan membaca Al-Qur'an hingga menjelang subuh.

Selepas salat subuh berjamaah, kegiatan menghafal Al-Qur'an menjadi rutinitas utama yang terus dijalani. Di sela-sela aktivitas belajar, para santri juga dibiasakan untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengatur kebutuhan pribadi secara mandiri, serta mengikuti berbagai kegiatan pendidikan dan pembinaan karakter.

Rutinitas yang padat itu terus berlangsung hingga malam hari. Selain mengikuti pembelajaran formal, Angjal dan para santri juga mempelajari berbagai ilmu agama, melakukan murajaah hafalan, serta membiasakan diri hidup teratur. Meski melelahkan, lingkungan pesantren telah menjadi tempat yang membentuk mental, kedisiplinan, dan keteguhan dirinya hingga saat ini.

Menuntaskan Hafalan 30 Juz di Usia Muda

Kecintaan Angjal terhadap Al-Qur'an sebenarnya telah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, saat itu ia baru mampu menghafal beberapa surat pendek.

Perjalanan menghafal secara serius baru dimulai ketika ia masuk kelas 1 SMP di pesantren. Dengan bimbingan para ustaz serta lingkungan yang mendukung, Angjal terus berusaha menjaga konsistensi hafalannya dari hari ke hari.

Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan. Saat duduk di kelas 3 SMP, ia berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qur'an 30 juz secara penuh, sebuah pencapaian yang menjadi salah satu tonggak penting dalam hidupnya.

Tetap Teguh di Tengah Ujian Kehidupan

Di balik pencapaiannya, Angjal menyimpan kisah perjuangan yang tidak ringan. Ia berasal dari keluarga sederhana dan sejak usia 12 tahun harus menerima kenyataan pahit kehilangan sosok ayah tercinta.

Ayahnya meninggal dunia ketika Angjal masih duduk di kelas 6 SD. Kehilangan tersebut meninggalkan kesedihan yang mendalam. Pada usia ketika banyak anak masih menikmati kebersamaan dengan kedua orang tua, Angjal justru harus belajar menerima takdir dan melanjutkan hidup tanpa kehadiran seorang ayah.

Rasa haru terkadang masih datang menghampiri. Terlebih ketika ia melihat teman-temannya di pondok dikunjungi oleh kedua orang tua mereka saat hari penjengukan. Namun, kesedihan itu tidak membuatnya larut dalam keterpurukan.

Sebaliknya, Angjal memilih untuk bersyukur. Ia merasa beruntung karena masih dikelilingi keluarga yang penuh kasih sayang. Sosok ibu, kakak-kakak, dan keluarga besarnya menjadi sumber kekuatan yang selalu mendorongnya untuk terus melangkah. Sebagai anak keempat dari empat bersaudara, ia menyadari bahwa dukungan keluarga adalah anugerah yang sangat berharga.

Bermimpi Menjadi Psikolog dan Membahagiakan Ibu

Meski telah menyelesaikan pendidikan menengah dan hafalan 30 juz Al-Qur'an, Angjal merasa perjalanannya masih panjang. Ia memiliki banyak impian yang ingin diwujudkan.

Salah satu cita-cita terbesarnya adalah membahagiakan ibu dan keluarganya. Selain itu, ia juga bercita-cita menjadi seorang psikolog yang mampu membantu banyak orang menghadapi persoalan hidup mereka. Di sisi lain, ia juga ingin menjadi pengusaha sukses agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Angjal bertekad untuk terus menjaga hafalan Al-Qur'annya, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terbaik, serta mengabdikan ilmu yang dimilikinya untuk membantu sesama.

Perjalanan pendidikannya hingga lulus SMA tidak lepas dari dukungan GOTAAZ (Gerakan Orang Tua Murid Al Azhar Cilacap) yang telah mendampingi dan membantu pendidikannya sejak bangku sekolah dasar. Dukungan tersebut menjadi salah satu penyemangat baginya untuk terus berjuang meraih masa depan yang lebih baik.

Dengan doa, usaha, dan keyakinan kepada Allah Swt, Angjal berharap setiap langkah yang ditempuh dapat mengantarkannya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi agama, keluarga, dan masyarakat. Semoga Allah memudahkan segala ikhtiarnya dan mengabulkan cita-cita yang ia perjuangkan.

Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA