“Ada kalanya sebuah cerita selesai, tetapi tokohnya tidak ikut pergi.”
Drama yang ditonton sudah tamat. Novel yang dibaca telah sampai halaman terakhir. Namun, entah mengapa tokoh utamanya masih saja memenuhi pikiran. Rasanya ingin mengulang adegan favorit, mencari cuplikan di media sosial, atau membaca ulang cerita hanya untuk “bertemu” dengannya lagi.
Mungkin kamu juga pernah tersenyum sendiri ketika tokoh favorit akhirnya bahagia, ikut menangis saat ia kehilangan orang yang dicintai, atau bahkan merasa cemburu ketika karakter tersebut dipasangkan dengan tokoh lain. Tak sedikit pula yang berharap, “Andai saja dia benar-benar ada.”
Pengalaman seperti itu ternyata cukup umum dialami oleh penikmat buku, film, drama, anime, komik, game, hingga Alternate Universe (AU). Dalam psikologi, ketertarikan emosional yang begitu kuat terhadap karakter fiksi dikenal sebagai fictophilia.
Apa Itu Fictophilia?
Fictophilia adalah kondisi ketika seseorang merasakan ketertarikan emosional atau romantis terhadap karakter fiksi yang muncul dalam novel, film, serial, anime, komik, game, maupun media hiburan lainnya. Perasaan tersebut bisa berupa rasa kagum, sayang, hingga merasa seolah memiliki hubungan khusus dengan karakter tersebut.
Meski istilah ini semakin sering dibicarakan di media sosial, fictophilia bukanlah diagnosis gangguan mental. Para ahli menjelaskan bahwa ketertarikan pada karakter fiksi pada dasarnya merupakan bagian dari respons emosional manusia terhadap sebuah cerita. Selama tidak mengganggu kehidupan sehari-hari, kondisi ini masih dianggap sebagai pengalaman yang wajar.
Mengapa Kita Bisa Sangat Menyukai Karakter Fiksi?
Pernah bertanya-tanya mengapa kita bisa merasa sedih ketika tokoh favorit meninggal, padahal kita tahu ia tidak pernah benar-benar ada? Jawabannya terletak pada cara otak merespons sebuah cerita. Penulis novel, sutradara film, atau kreator gim berusaha membangun karakter dengan latar belakang, konflik, kepribadian, dan emosi yang terasa nyata. Semakin baik karakter tersebut ditulis, semakin mudah pula pembaca atau penonton memahami, berempati, bahkan merasa memiliki kedekatan dengannya.
Dalam psikologi, kedekatan emosional semacam ini juga berkaitan dengan parasocial relationship, yaitu hubungan emosional satu arah yang terjalin antara seseorang dengan figur di media, termasuk karakter fiksi. Karena sering mengikuti perjalanan hidup mereka, otak dapat memproses emosi yang muncul hampir seperti saat kita mengenal seseorang di dunia nyata. (Horton dan Wohl, 1956).
Itulah sebabnya tokoh fiksi bisa terasa begitu hidup. Kita bukan hanya mengikuti ceritanya, melainkan juga ikut merasakan perjuangan, kegagalan, hingga kebahagiaannya.
Jadi, Apakah Fictophilia Itu Wajar?
Jawabannya, ya. Menyukai karakter fiksi bukan berarti seseorang tidak bisa membedakan mana dunia nyata dan mana dunia cerita. Bahkan, banyak orang pernah mengalami hal serupa, meski dengan intensitas yang berbeda-beda.
Perasaan ini justru menunjukkan bahwa sebuah cerita berhasil membangun karakter yang kuat dan mampu mengajak pembaca atau penonton terhubung secara emosional. Tak heran jika ada karakter yang terus dikenang bertahun-tahun setelah cerita berakhir.
Dalam banyak kasus, fictophilia hanya menjadi bagian dari pengalaman menikmati karya fiksi. Setelah cerita selesai, kehidupan tetap berjalan seperti biasa dan ketertarikan tersebut perlahan memudar seiring waktu.
Kapan Perlu Diwaspadai?
Meski umumnya tidak berbahaya, fictophilia dapat menjadi masalah apabila keterikatan terhadap karakter fiksi mulai mengambil alih kehidupan nyata. Beberapa tanda yang perlu diperhatikan apabila kamu telah mengalami hal-hal berikut:
1. Terus-menerus memikirkan karakter hingga sulit berkonsentrasi saat belajar atau bekerja
2. Kehilangan minat untuk menjalin hubungan dengan orang di sekitar
3. Lebih memilih tenggelam dalam dunia fantasi dibanding menjalani aktivitas sehari-hari
4. Terus membandingkan pasangan atau orang lain dengan karakter fiksi sehingga sulit menerima kenyataan; atau
5. Merasa sedih berlebihan ketika tidak dapat mengikuti atau membayangkan karakter tersebut.
Apabila kondisi tersebut berlangsung lama dan mulai mengganggu aktivitas, hubungan sosial, atau kesehatan emosional, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog untuk mendapatkan pendampingan yang tepat.
Menikmati Cerita, Tanpa Kehilangan Dunia Nyata
Cerita diciptakan untuk menghibur, menginspirasi, bahkan membuat kita ikut merasakan berbagai emosi yang dialami para tokohnya. Karena itu, bukan hal yang aneh jika sesekali kita merasa begitu dekat dengan karakter yang sebenarnya hanya hidup di atas kertas atau layar.
Namun, seindah apa pun dunia fiksi, ia tetaplah tempat untuk dikunjungi, bukan ditinggali. Tokoh favorit mungkin bisa memberi pelajaran, keberanian, atau menemani kita melewati hari-hari tertentu. Akan tetapi, hubungan, pengalaman, dan orang-orang di dunia nyata tetap menjadi bagian yang tak tergantikan dalam kehidupan.
Jadi, jika suatu hari kamu masih teringat pada tokoh drama yang sudah lama tamat, tak perlu buru-buru merasa aneh. Nikmati saja ceritanya, ambil inspirasinya, lalu biarkan kisah itu tetap menjadi kenangan yang indah, tanpa membuatmu kehilangan cerita yang sedang kamu jalani hari ini.