Memahami Makna “Berlebihan” dalam Sedekah

Memahami Makna “Berlebihan” dalam Sedekah


Risdawati
20/07/2026
23 VIEWS
SHARE

Kita sering mendengar nasihat agar tidak berlebihan dalam makan, minum, berbelanja, atau merayakan sesuatu. Namun, bagaimana dengan sedekah? Bukankah semakin banyak bersedekah semakin baik?

Islam memang sangat menganjurkan umatnya untuk bersedekah. Namun, anjuran tersebut tetap disertai dengan prinsip keseimbangan. Karena itu, memahami makna “berlebihan” dalam sedekah menjadi penting agar semangat berbagi tidak mengabaikan hak diri sendiri maupun orang-orang yang menjadi tanggungan.

Prinsip tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an dan hadis Rasulullah saw yang mengajarkan agar setiap amal dilakukan secara bijaksana, tanpa berlebihan maupun kikir. Allah Swt berfirman:

“Dan, orang-orang yang apabila berinfak tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. (Infak mereka) adalah pertengahan antara keduanya.” (QS. Al-Furqan: 67).

Ayat ini menunjukkan bahwa Islam mengajarkan sikap pertengahan dalam berinfak. Bersedekah bukan berarti menghabiskan seluruh harta tanpa pertimbangan, melainkan menunaikannya secara proporsional sesuai kemampuan dan kebutuhan. Sebaliknya, menahan harta karena kikir juga bukanlah sikap yang dianjurkan.

Penegasan serupa juga terdapat dalam firman Allah Swt:

“Janganlah engkau jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan jangan (pula) engkau mengulurkannya secara berlebihan sebab nanti engkau menjadi tercela lagi menyesal.” (QS. Al-Isra: 29).

Melalui ayat ini, Allah mengingatkan agar seorang muslim menjauhi dua sikap yang sama-sama tercela, yaitu terlalu pelit hingga enggan berbagi dan terlalu berlebihan hingga mengabaikan kemaslahatan diri sendiri maupun orang yang menjadi tanggungannya.

Prinsip tersebut juga ditegaskan oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Beliau saw bersabda:

“Tahanlah sebagian hartamu, itu lebih baik bagimu.” (HR. Bukhari no. 2757).

Hadis ini merupakan nasihat Rasulullah saw kepada Sa’ad bin Abi Waqqash ketika beliau ingin menyedekahkan hampir seluruh hartanya. Rasulullah saw mengingatkan agar sebagian harta tetap disimpan karena keluarga yang ditinggalkan juga memiliki hak yang harus dipenuhi.

Dengan demikian, makna “berlebihan” dalam sedekah bukanlah larangan untuk banyak memberi. Yang dilarang adalah bersedekah tanpa mempertimbangkan kemampuan hingga mengabaikan kewajiban terhadap diri sendiri dan keluarga atau menimbulkan kesulitan di kemudian hari.

Islam mengajarkan keseimbangan, yakni menjadi pribadi yang dermawan tanpa bersikap boros, serta menjaga amanah harta dengan penuh kebijaksanaan. Sebab, sedekah yang terbaik bukan hanya dilihat dari jumlahnya, melainkan juga dari ketepatan, keikhlasan, dan kemampuannya menghadirkan maslahat tanpa menimbulkan mudarat.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA