Ketika Opini Lebih Cepat daripada Tabayun

Ketika Opini Lebih Cepat daripada Tabayun


Risdawati
20/07/2026
20 VIEWS
SHARE

Pernah membaca sebuah unggahan di media sosial, langsung percaya, lalu tanpa berpikir panjang ikut membagikannya?

Beberapa menit kemudian, ternyata informasi itu keliru. Judulnya dipotong, videonya diambil di luar konteks, atau bahkan sama sekali tidak sesuai dengan fakta. Sayangnya, klarifikasi hampir selalu datang terlambat. Orang lebih dulu membentuk opini daripada mencari kebenaran.

Fenomena seperti ini semakin sering terjadi di era digital. Arus informasi bergerak begitu cepat, sementara kebiasaan memeriksa sumber justru kerap tertinggal.

Menurut Reuters Institute Digital News Report, media sosial masih menjadi salah satu sumber utama masyarakat Indonesia dalam memperoleh berita. Di sisi lain, tingginya penggunaan platform digital juga membuat penyebaran disinformasi dan hoaks berlangsung jauh lebih cepat. Di sinilah tabayun menjadi semakin relevan.

Tabayun Bukan Hanya Soal Hoaks

Banyak orang memahami tabayun sebatas mengecek apakah sebuah berita benar atau salah. Padahal, maknanya lebih luas daripada itu. Allah Swt berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini turun pada konteks tertentu, tetapi pesannya tetap relevan hingga sekarang. Perintah tabayun mengajarkan agar seseorang tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan, apalagi menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Sejumlah kajian tafsir kontemporer juga menegaskan bahwa tabayun bukan sekadar proses memeriksa fakta, melainkan etika berkomunikasi yang menuntut seseorang untuk memverifikasi sumber, memahami konteks, dan mempertimbangkan dampak dari informasi yang akan disampaikan.

Yang Cepat Belum Tentu Benar

Media sosial memberi ruang bagi siapa saja untuk berbicara. Dalam hitungan detik, sebuah unggahan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Namun, masalahnya, kecepatan sering kali lebih dihargai daripada ketepatan. Tidak sedikit orang merasa perlu segera berkomentar agar tidak dianggap ketinggalan. Akibatnya, opini terbentuk bahkan sebelum fakta benar-benar diketahui.

Padahal, sekali informasi yang keliru tersebar, dampaknya bisa panjang. Nama baik seseorang rusak, kesalahpahaman meluas, bahkan konflik dapat muncul hanya karena informasi yang belum diverifikasi.

Komunitas antihoaks mencatat ribuan hoaks beredar setiap tahunnya, dengan isu politik, kesehatan, hingga sosial menjadi yang paling sering ditemukan. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan masyarakat saat ini bukan kekurangan informasi, melainkan kesulitan membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan.

Tidak Semua Hal Harus Dikomentari

Islam juga mengajarkan sikap berhati-hati dalam berbicara. Rasulullah saw bersabda,

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini bukan berarti kita tidak boleh berpendapat. Namun, setiap pendapat seharusnya lahir dari informasi yang jelas, bukan dari dugaan, potongan video, atau judul yang belum tentu menggambarkan isi sebenarnya.

Sikap diam sesaat untuk mencari tahu sering kali jauh lebih bijaksana daripada berbicara cepat lalu menyesal kemudian.

Belajar Menekan Tombol “Tunda”

Di era digital, tabayun mungkin tidak lagi berarti mendatangi seseorang untuk memastikan kabar yang diterima. Bentuknya bisa sesederhana membaca berita sampai tuntas, memeriksa sumbernya, mencari pembanding, atau menahan diri agar tidak langsung menekan tombol bagikan.

Kebiasaan itu memang terdengar sederhana. Namun, justru dari situlah kualitas percakapan di ruang digital ikut dibentuk. Mungkin kita tidak bisa menghentikan semua hoaks atau disinformasi yang beredar. Namun, setidaknya kita bisa memastikan bahwa diri kita bukan bagian dari rantai penyebarannya. Sebab, dalam Islam, menyampaikan informasi bukan hanya soal kebebasan berbicara, melainkan juga amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA