Hari Anak Nasional: Ketika Sebagian Anak Masih Tumbuh di Jalanan

Hari Anak Nasional: Ketika Sebagian Anak Masih Tumbuh di Jalanan


Risdawati
23/07/2026
10 VIEWS
SHARE

Setiap 23 Juli, Hari Anak Nasional (HAN) kembali dirayakan. Tema-tema penuh harapan digaungkan, anak-anak tampil menari dan bernyanyi, sementara pidato tentang Indonesia Emas memenuhi panggung-panggung peringatan.

Namun, hanya beberapa kilometer dari kemeriahan itu, pemandangan berbeda masih mudah ditemui. Di bawah terik matahari dan kepulan asap kendaraan, seorang anak mengetuk kaca mobil dengan kecrekan atau menawarkan dagangan kecil. Bagi mereka, 23 Juli hanyalah hari biasa ketika kebutuhan hidup harus tetap dipenuhi.

Kontras ini mengingatkan kita pada satu kenyataan: di saat negara merayakan anak sebagai aset masa depan, masih ada anak-anak yang belum menikmati hak-hak paling mendasar.

Ikhtiar Sudah Ada, Mengapa Masalah Belum Usai?

Indonesia sejatinya telah memiliki komitmen yang kuat dalam melindungi anak. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menjadi landasan hukum, diperkuat dengan ratifikasi Konvensi Hak-Hak Anak PBB sejak 1990.

Pemerintah juga menjalankan berbagai program, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Program Indonesia Pintar (PIP), dan jaminan kesehatan. Di sisi lain, organisasi masyarakat, komunitas pendidikan, dan dunia usaha melalui program CSR turut menghadirkan berbagai bentuk pendampingan.

Namun, pertanyaan yang masih menggantung adalah: mengapa anak-anak tetap berada di jalanan? Jawabannya tidak sesederhana karena mereka enggan bersekolah. Persoalan utamanya adalah kemiskinan yang membuat anak ikut memikul beban ekonomi keluarga.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan pekerja anak usia 10-17 tahun masih menjadi tantangan di Indonesia. Sebagian besar dari mereka bekerja bukan atas pilihan sendiri, melainkan karena tuntutan ekonomi.

Ironisnya, banyak anak dari keluarga marjinal juga tidak memiliki dokumen kependudukan, seperti Kartu Keluarga atau akta kelahiran. Akibatnya, mereka tidak tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) sehingga sulit mengakses bantuan pendidikan, layanan kesehatan, maupun program perlindungan sosial lainnya.

Di sisi lain, banyak program masih mengharapkan anak kembali ke bangku sekolah tanpa lebih dahulu memperbaiki kondisi ekonomi keluarganya. Padahal, selama orang tua belum memiliki penghasilan yang memadai, anak akan terus menjadi penopang ekonomi rumah tangga.

Melindungi Anak Dimulai dari Melindungi Keluarganya

Karena itu, persoalan anak jalanan tidak dapat diselesaikan hanya melalui razia atau penertiban. Mengeluarkan anak dari jalan tanpa mengubah kondisi keluarganya hanya akan membuat mereka kembali ke tempat yang sama.

Langkah yang dibutuhkan adalah pendekatan yang lebih menyeluruh. Layanan administrasi kependudukan harus lebih aktif menjangkau keluarga marginal agar setiap anak memiliki identitas resmi sebagai pintu masuk memperoleh hak-haknya. Sekolah alternatif, seperti PKBM dan sekolah berbasis komunitas, perlu diperkuat agar pendidikan lebih mudah dijangkau oleh anak-anak yang rentan.

Yang tak kalah penting, pemberdayaan ekonomi orang tua harus menjadi prioritas melalui pelatihan keterampilan, pendampingan usaha, dan bantuan yang berkelanjutan. Dunia usaha dan masyarakat juga dapat mengambil peran melalui program CSR, rumah singgah, maupun dukungan terhadap usaha keluarga.

Sebab, anak bekerja bukan karena ingin meninggalkan sekolah, melainkan karena keluarganya belum memiliki pilihan lain.

Janji yang Harus Ditepati

Kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari megahnya perayaan Hari Anak Nasional atau tingginya gedung pencakar langit. Peradaban justru diuji dari bagaimana bangsa itu memperlakukan anak-anak yang paling rentan.

Hari Anak Nasional seharusnya menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh, belajar, bermain, dan bermimpi tanpa dibebani tanggung jawab mencari nafkah. Sudah saatnya pemerintah, dunia usaha, akademisi, media, organisasi masyarakat, dan seluruh warga bergandengan tangan memperkuat jaring pengaman sosial yang masih menyisakan banyak celah. Sebab, Hari Anak Nasional baru benar-benar layak dirayakan ketika tak ada lagi anak yang harus memilih antara belajar atau bekerja demi bertahan hidup.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA