Musim Kemarau Mulai Tiba, Saatnya Menghidupkan Sunah Salat Istisqa

Musim Kemarau Mulai Tiba, Saatnya Menghidupkan Sunah Salat Istisqa


Risdawati
21/07/2026
9 VIEWS
SHARE

Musim kemarau mulai berlangsung di berbagai wilayah Indonesia. Curah hujan yang semakin berkurang berdampak pada menurunnya ketersediaan air, mengeringnya lahan pertanian, hingga meningkatnya risiko kekeringan. Di tengah berbagai upaya yang dilakukan untuk menghadapi kondisi tersebut, Islam mengajarkan satu ikhtiar yang tak kalah penting, yaitu Salat Istisqa.

Salat Istisqa merupakan salat sunah yang dilaksanakan untuk memohon kepada Allah Swt agar menurunkan hujan ketika suatu daerah mengalami kekeringan atau hujan tak kunjung turun. Ibadah ini mengingatkan bahwa di balik berbagai teknologi dan usaha manusia, ada kuasa Allah yang menentukan turunnya hujan.

Allah Swt berfirman,

“Maka aku (Nuh) berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.’” (QS. Nuh: 10–11)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa istigfar bukan hanya menjadi jalan meraih ampunan, tetapi juga sebab datangnya berbagai bentuk rahmat Allah, termasuk hujan yang menjadi sumber kehidupan.

Karena itu, Salat Istisqa bukan sekadar rangkaian salat dan doa. Rasulullah saw menganjurkan umatnya untuk memperbanyak istigfar, bertobat, bersedekah, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta meninggalkan berbagai bentuk kezaliman sebelum memohon turunnya hujan. Hati yang kembali kepada Allah menjadi bagian dari ikhtiar yang tidak terpisahkan dalam ibadah ini.

Dari Abdullah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju tempat salat untuk melaksanakan Salat Istisqa. Beliau menghadap kiblat, berdoa meminta hujan, lalu membalikkan selendangnya, kemudian mengerjakan salat dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Salat istisqa dilaksanakan sebanyak dua rakaat secara berjemaah di lapangan atau tempat terbuka, kemudian dilanjutkan dengan khutbah. Saat berdoa, imam dan jemaah dianjurkan mengangkat kedua tangan dengan penuh kerendahan hati. Dalam hadis di atas juga disebutkan bahwa Rasulullah saw membalikkan selendangnya sebagai simbol harapan agar Allah mengubah keadaan dari kekeringan menjadi keberkahan.

Meski demikian, Islam tidak mengajarkan umatnya hanya mengandalkan doa. Ikhtiar lahiriah tetap harus dilakukan. Menghemat penggunaan air, menjaga kelestarian lingkungan, melindungi daerah resapan, serta membantu masyarakat yang terdampak kekeringan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Doa dan usaha berjalan beriringan, bukan saling menggantikan.

Musim kemarau juga menjadi momentum untuk mengevaluasi diri. Air yang selama ini mudah diperoleh sering kali baru terasa berharga ketika mulai sulit didapatkan. Salat Istisqa mengajarkan bahwa setiap nikmat berasal dari Allah dan sudah sepatutnya disyukuri, dijaga, serta dimanfaatkan dengan bijaksana.

Ketika langit tak kunjung menurunkan hujan, seorang muslim tidak hanya menengadah dengan harapan, tetapi juga memperbaiki diri, memperbanyak istigfar, dan menguatkan kepedulian kepada sesama. Sebab, boleh jadi yang paling dibutuhkan bukan hanya turunnya air dari langit, melainkan juga turunnya rahmat Allah ke dalam hati-hati manusia.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA