Fenomena Second-Hand Embarrassment, Ikut Malu Padahal Tidak Terlibat

Fenomena Second-Hand Embarrassment, Ikut Malu Padahal Tidak Terlibat


Risdawati
21/07/2026
11 VIEWS
SHARE

Kita sering ikut larut dalam kebahagiaan orang lain. Saat teman diterima bekerja, anggota keluarga meraih prestasi, atau seseorang berhasil mewujudkan impiannya, kita pun ikut merasa senang. Namun, emosi manusia tidak berhenti sampai di situ. Ketika melihat seseorang mengalami momen yang memalukan, bahkan orang yang sama sekali tidak kita kenal, kita bisa ikut merasa kikuk, gelisah, hingga ingin segera mengalihkan pandangan.

Fenomena psikologis ini dikenal sebagai second-hand embarrassment, yaitu rasa malu yang muncul ketika menyaksikan orang lain mengalami situasi yang memalukan.

Apa Itu Second-Hand Embarrassment?

Second-hand embarrassment, yang juga dikenal sebagai vicarious embarrassment, adalah respons emosional ketika seseorang merasa malu atau tidak nyaman karena melihat orang lain melakukan sesuatu yang canggung, memalukan, atau berpotensi membuatnya dipandang negatif oleh orang lain.

Fenomena ini sangat umum terjadi. Misalnya, ketika melihat seseorang terpeleset di tempat umum, salah mengucapkan kata saat presentasi, atau tanpa sengaja menjatuhkan makanan di hadapan banyak orang. Meski kita hanya menjadi penonton dan tidak memiliki hubungan apa pun dengan orang tersebut, rasa tidak nyaman bisa muncul secara spontan.

Reaksi itu terjadi karena otak manusia memiliki kemampuan untuk memahami dan “merasakan” pengalaman emosional orang lain. Menurut psikolog kesehatan klinis Dr. Marielle Collins dari Cleveland Clinic, otak kita mampu mensimulasikan pengalaman emosional yang sedang dialami orang lain. Kemampuan inilah yang membuat kita dapat berempati, sekaligus ikut merasakan kecanggungan atau rasa malu yang mereka alami.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa saat melihat orang lain mengalami pengalaman yang menyakitkan atau memalukan, area tertentu pada otak yang berkaitan dengan empati dapat ikut aktif. Akibatnya, tubuh merespons dengan perasaan gelisah, meringis, ingin menutup wajah, atau bahkan berharap situasi tersebut segera berakhir.

Mengapa Kita Bisa Ikut Merasa Malu?

Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial yang terbiasa membayangkan diri berada di posisi orang lain. Ketika menyaksikan seseorang mengalami kejadian memalukan, otak secara otomatis membayangkan, “Bagaimana jika itu terjadi pada saya?” Proses inilah yang memunculkan rasa malu meski kita tidak terlibat secara langsung.

Semakin tinggi rasa empati seseorang, semakin besar pula kemungkinan ia mengalami second-hand embarrassment. Meski terkadang terasa mengganggu, fenomena ini sebenarnya menunjukkan bahwa kita memiliki kemampuan untuk memahami dan merasakan emosi orang lain.

Tips Mengelola Second-Hand Embarrassment

Rasa malu yang muncul karena melihat pengalaman orang lain memang sering datang tanpa diduga. Meski tidak selalu bisa dihindari, ada beberapa cara yang dapat membantu mengurangi rasa tidak nyaman tersebut.

1. Sadari bahwa perasaan itu wajar: Tidak perlu merasa aneh ketika ikut malu atas kejadian yang dialami orang lain. Respons ini merupakan bagian dari cara kerja empati dalam otak dan merupakan pengalaman yang umum dialami banyak orang.

2. Kenali sumber perasaanmu: Cobalah menyadari bahwa rasa malu tersebut bukan berasal dari pengalamanmu sendiri, melainkan respons emosional terhadap situasi yang sedang disaksikan. Kesadaran ini dapat membantu mengurangi intensitas emosi yang muncul.

3. Beri jarak dari situasi: Jika rasa tidak nyaman mulai berlebihan, alihkan perhatian sejenak. Misalnya, hentikan menonton video yang membuatmu terus meringis, lihat ke arah lain, atau lakukan aktivitas singkat agar pikiran tidak terus terpaku pada kejadian tersebut.

4. Gunakan humor secara bijak: Dalam beberapa situasi, melihat sisi lucu dari sebuah kejadian dapat membantu meredakan ketegangan. Namun, pastikan humor yang digunakan tidak bertujuan merendahkan atau mempermalukan orang yang sedang mengalami kejadian tersebut.

5. Fokus pada sisi positif: Ingatlah bahwa setiap orang pernah melakukan kesalahan atau mengalami momen yang memalukan. Alih-alih terus memikirkan rasa malunya, cobalah melihat bagaimana seseorang mampu bangkit, menertawakan dirinya sendiri, atau melanjutkan aktivitasnya setelah kejadian tersebut.

Selama rasa malu tersebut tidak mengganggu aktivitas sehari-hari atau memicu kecemasan berlebihan, second-hand embarrassment bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Justru, pengalaman ini mengingatkan kita bahwa kemampuan memahami dan merasakan emosi orang lain merupakan bagian alami dari kehidupan sosial manusia.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA