Kekuasaan sering kali dianggap sebagai jalan untuk memperoleh keuntungan. Semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula peluang mendapatkan imbalan. Namun, Dzulqarnain justru menunjukkan sikap yang berbeda.
Dalam Surah Al-Kahfi, Allah Swt mengisahkan perjalanan Dzulqarnain hingga tiba di suatu negeri yang penduduknya mengadu karena terus-menerus diganggu oleh Ya’juj dan Ma’juj. Mereka berharap Dzulqarnain bersedia membangun penghalang untuk melindungi mereka. Sebagai balas jasa, mereka menawarkan sejumlah harta.
Tidak Tergiur Imbalan
Alih-alih menerima tawaran tersebut, Dzulqarnain menjawab, “Apa yang telah dianugerahkan Tuhanku kepadaku lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatanmu, niscaya aku akan membuatkan dinding antara kamu dan mereka.” (QS. Al-Kahfi: 95).
Dzulqarnain tidak meminta bayaran. Ia justru mengajak masyarakat terlibat dalam pembangunan penghalang itu dengan menyumbangkan tenaga dan bahan yang dibutuhkan. Sikap ini menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan tentang mencari keuntungan, melainkan menghadirkan solusi dan memberdayakan orang lain.
Keberhasilan Bukan untuk Dibanggakan
Setelah penghalang itu selesai dibangun, Ya’juj dan Ma’juj tidak mampu memanjat (mendaki) ataupun melubanginya (QS. Al-Kahfi: 97). Meski berhasil menyelesaikan tugas yang besar, Dzulqarnain tidak menyombongkan diri.
Ia berkata, “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur lulu; dan janji Tuhanku itu benar.” (QS. Al-Kahfi: 98).
Ucapan tersebut menunjukkan bahwa ia menyadari semua kemampuan, kekuasaan, dan keberhasilan berasal dari Allah Swt, bukan semata-mata karena kehebatannya.
Pelajaran yang Masih Relevan
Kisah Dzulqarnain mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah, bukan alat untuk mencari keuntungan pribadi. Pemimpin yang baik tidak hanya mampu menyelesaikan persoalan, tetapi juga mengajak masyarakat untuk ikut berperan dan tidak lupa bersyukur ketika hasilnya tercapai.
Di tengah kehidupan yang sering mengukur keberhasilan dari materi dan kedudukan, Dzulqarnain memberikan teladan yang berbeda. Ia memiliki kekuasaan, tetapi tidak diperbudak oleh kekuasaan itu. Ia mampu membantu tanpa meminta imbalan dan tetap rendah hati setelah berhasil.
Barangkali, di situlah letak kebesaran seorang pemimpin. Bukan pada seberapa luas wilayah yang dipimpin dan seberapa banyak sumber daya alam di wilayahnya, melainkan pada seberapa tulus ia menggunakan amanah untuk menghadirkan manfaat bagi orang lain.