Atasi Krisis Iklim dengan Infak Hijau, Memangnya Bisa?

Atasi Krisis Iklim dengan Infak Hijau, Memangnya Bisa?


Risdawati
09/06/2026
15 VIEWS
SHARE

Dunia hari ini sedang tidak baik-baik saja, dan generasi muda adalah kelompok yang paling merasakan kecemasannya. Ketakutan akan masa depan bumi yang rusak bukan lagi sekadar bualan ilmiah, melainkan beban mental nyata yang dipikul oleh Gen Z. Jurnal ilmiah The Lancet Planetary Health bahkan pernah melansir data global yang menyebutkan bahwa mayoritas anak muda di usia belasan hingga dua puluhan tahun mengalami kecemasan akut terkait krisis iklim.

Di tengah kepungan berita tentang polusi udara yang kian pekat, cuaca ekstrem yang tak menentu, dan tumpukan sampah yang tak kunjung terurai, muncul sebuah pertanyaan besar tentang bagaimana tindakan nyata bisa diambil tanpa harus merasa tidak berdaya.

Menariknya, jawaban atas kecemasan global ini justru bisa ditemukan dalam salah satu praktik spiritual yang sudah mengakar lama, yaitu infak. Selama ini, narasi seputar infak kerap kali diidentikkan dengan pembangunan fisik rumah ibadah atau bantuan sosial konvensional. Padahal, instrumen finansial sosial Islam ini memiliki fleksibilitas yang luar biasa luas, termasuk untuk mendanai penyelamatan lingkungan melalui gerakan yang kini mulai digalakkan lewat konsep Infak Hijau.

Mengaitkan filantropi Islam dengan krisis iklim adalah sebuah langkah progresif yang sangat selaras dengan cara pandang Gen Z. Bagi generasi yang kritis dan mengutamakan dampak ini, menjaga bumi bukan lagi sekadar imbauan moral, melainkan sebuah kewajiban mutlak untuk bertahan hidup. Secara teologis, gagasan ini diperkuat oleh Majelis Ulama Indonesia yang telah mengeluarkan fatwa khusus mengenai pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan hidup.

Fatwa ini menegaskan bahwa dana sosial umat seperti infak sah-sah saja mengalir untuk menjaga ekosistem. Ketika doktrin agama tentang peran manusia sebagai penjaga bumi dipertemukan dengan aksi nyata, infak bertransformasi menjadi bahan bakar bagi gerakan lingkungan yang berkelanjutan.

Melalui Infak Hijau, dana pengumpulan umat tidak lagi mengendap dalam bentuk beton, melainkan mengalir menjadi program penanaman pohon mangrove di pesisir yang terancam abrasi, penyediaan sarana air bersih berbasis tenaga surya di pelosok desa, hingga pendanaan sistem pengolahan sampah organik yang mandiri. Konsep ini memberikan ruang bagi anak muda untuk berkontribusi secara finansial dalam skala yang mereka sanggupi, namun dengan hasil yang bisa ditelusuri dampaknya secara transparan.

Barangkali, selama ini kita terlalu sering merasa kecil di hadapan kerusakan bumi yang begitu masif. Namun, lewat selembar uang yang disisihkan secara digital untuk menanam pohon atau mengolah limbah, keputusasaan itu perlahan luruh. Berinfak untuk alam bukan lagi soal menunaikan kewajiban ritual semata, melainkan cara paling intim bagi anak muda untuk berdamai dengan kecemasan mereka, sekaligus patungan membeli masa depan bumi yang lebih layak huni.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA