Apakah Salat yang Tidak Khusyuk Tetap Diterima?

Apakah Salat yang Tidak Khusyuk Tetap Diterima?


Risdawati
28/04/2026
17 VIEWS
SHARE

Salat lima waktu adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Ibadah ini bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi juga menjadi cara seorang hamba terhubung dengan Allah Swt serta penenang bagi hati yang gelisah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat atau bahkan mengkritik sebagian Muslim yang meninggalkan salat karena kesibukan duniawi. Padahal, tanpa disadari, kita juga memiliki persoalan besar dalam ibadah yang sering luput diperhatikan, yaitu kekhusyukan saat salat.

Sering kali, kita terlalu sibuk menilai orang lain, sementara diri sendiri jarang diajak untuk introspeksi. Sudahkah salat yang kita lakukan benar-benar dijalankan dengan penuh kesadaran, ketenangan, dan hati yang hadir di hadapan Allah? Ataukah justru salat kita masih dipenuhi distraksi, pikiran yang melayang, dan dilakukan sekadar menggugurkan kewajiban?

Mengajak orang yang meninggalkan salat tentu merupakan hal baik, tetapi hendaknya dilakukan dengan nasihat yang lembut, penuh adab, dan tanpa menghakimi. Sebab, memperbaiki orang lain juga harus diiringi dengan upaya memperbaiki diri sendiri.

Jangan sampai kita sibuk menyoroti kekurangan orang lain, sementara kualitas salat kita sendiri masih jauh dari sempurna. Karena pada akhirnya, bukan hanya soal mendirikan salat, tetapi juga bagaimana menjaga hati agar benar-benar hadir dan khusyuk dalam setiap ibadah yang kita lakukan.

Persoalan kekhusyukan inilah yang sering luput dari perhatian kita. Bahkan, kegelisahan tentang salat yang tidak sempurna ternyata bukan hanya dirasakan oleh umat Muslim hari ini, tetapi juga pernah menjadi keresahan para sahabat di masa Rasulullah saw. Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengisahkan bagaimana seorang sahabat datang dengan hati penuh kecemasan, mempertanyakan kualitas ibadahnya.

Di sebuah majelis yang tenang, seorang sahabat duduk dengan wajah tertunduk, penuh rasa malu dan takut. Dengan suara bergetar, ia bertanya kepada Rasulullah saw:

“Wahai Rasulullah, aku merasa malu karena salatku sering kehilangan khusyuk. Pikiranku melayang ke mana-mana, dan aku takut Allah menolaknya. Apakah salatku yang penuh kekurangan ini masih bernilai di sisi Allah?”

Seketika majlis menjadi sunyi. Pertanyaan tersebut seakan mewakili kegelisahan banyak hati. Namun, Rasulullah saw menjawab dengan penuh kasih, tanpa celaan maupun penghakiman. Justru beliau menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang begitu dalam, hingga perlahan bulir-bulir air jatuh dari kelopak matanya. Beliau saw tahu betapa berat perjuangan umatnya melawan gangguan setan di tengah ibadahnya.

Dengan suara bergetar dan penuh kasih, Rasulullah saw menjelaskan bahwa:

“Allah melihat perjuangan hamba-Nya. Setan memang selalu berusaha mengganggu dan mencuri fokus dalam salat, tetapi selama seseorang terus berusaha kembali mengingat Allah, maka perjuangan itu bernilai di sisi-Nya. Justru, menyerah dan meninggalkan salat karena merasa tidak sempurna adalah kemenangan bagi setan.”

Pesan ini mengajarkan bahwa Allah tidak menuntut manusia langsung sempurna, melainkan menilai kesungguhan untuk terus memperbaiki diri dan kembali kepada-Nya. Hal ini selaras dengan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Abu Daud, An-Nasa’i dan Ibnu Hibban, Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya seseorang selesai dari salatnya, namun tidak dituliskan baginya kecuali sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima, seperempat, sepertiga, atau setengah dari salatnya.” (HR. Abu Daud, An-Nasa'i, dan Ibnu Hibban; dinilai sahih oleh Al-Albani).

Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas kekhusyukan memang memengaruhi nilai pahala salat, tetapi bukan berarti salat yang kurang khusyuk otomatis gugur selama syarat dan rukunnya terpenuhi.

Syekh Mahmud juga menjelaskan adanya perbedaan antara salat yang sah dan salat yang diterima. Salat dinilai sah apabila dikerjakan tepat waktu serta memenuhi syarat dan rukunnya. Namun, diterimanya salat sepenuhnya menjadi hak Allah, karena berkaitan dengan keikhlasan dan kondisi hati seseorang.

Karena itu, merasa belum khusyuk bukan alasan untuk meninggalkan salat. Sebaliknya, hal tersebut harus menjadi dorongan untuk terus melatih hati, memperbaiki kualitas ibadah, dan memohon pertolongan Allah agar diberikan kekhusyukan.

Pada akhirnya, salat bukan tentang menjadi sempurna dalam sekejap, melainkan tentang kesediaan untuk terus kembali, terus berjuang, dan terus mengetuk pintu Allah meski dengan hati yang masih belajar. Sebab, hamba yang terus berusaha mendekat kepada-Nya jauh lebih berharga daripada mereka yang menyerah lalu menjauh.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA