Di tengah hiruk pikuk pengabdian sosial, muncul sosok pria berusia 42 tahun asal Surabaya bernama Dhoifur Rohman, atau yang akrab disapa Edo. Sebagai seorang Dai Sahabat Masyarakat (Dasamas) di bawah naungan Lembaga Amil Zakat Al Azhar, Edo membawa misi mulia jauh dari kampung halamannya menuju Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya. Di sana, ia mendedikasikan waktunya untuk mendampingi warga di Desa Manggung Sari dan Desa Sukahaji demi menciptakan perubahan yang bermakna.
Langkah Edo di tanah Pasundan tidak selalu mulus. Perbedaan latar belakang budaya dan bahasa menjadi tantangan awal yang harus ia hadapi, mengingat ia merupakan orang Jawa yang harus berbaur dengan masyarakat Sunda. Namun, dengan kesabaran dan niat yang tulus, ia terus menjalin silaturahmi hingga kehadirannya diterima dengan hangat oleh warga setempat. Ia percaya bahwa untuk melakukan perubahan, seseorang harus terlebih dahulu merangkul masyarakat melalui pendekatan keagamaan agar program-program selanjutnya dapat berjalan dengan harmonis.
Fokus utama Edo adalah pemberdayaan ekonomi melalui Program Rumah Pembiayaan Pertanian. Dengan skema akad Bai’ Salam, ia berupaya membantu para petani agar memiliki akses permodalan yang lebih adil dan produktif. Selain ekonomi, ia juga aktif bergerak di bidang kesehatan, pendidikan, dan dakwah keagamaan. Bagi Edo, tugasnya bukan sekadar membenarkan kebiasaan yang sudah ada, melainkan mengajak masyarakat untuk mulai membiasakan hal-hal yang benar demi kemajuan bersama.
Kini, Edo terus melangkah dengan prinsip bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Melalui perannya sebagai Dasamas, ia tidak hanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga menyebarkan semangat kebaikan yang ia sebut sebagai "virus positif". Ia meyakini bahwa setiap langkah kecil yang dilakukan dengan istiqamah akan membuahkan hasil yang manis, baik bagi masyarakat yang mendampinginya maupun bagi pengembangan kapasitas dirinya sendiri.