Setiap tahun, Hari Kusta Internasional diperingati pada Minggu terakhir bulan Januari sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit kusta, sekaligus menghapus stigma dan diskriminasi yang masih melekat kuat pada penderitanya. Pada tahun 2026, peringatan ini jatuh pada tanggal 25 Januari dan kembali menjadi pengingat bahwa kusta bukan hanya persoalan medis, tetapi juga persoalan sosial dan kemanusiaan yang memerlukan perhatian bersama.
Hari Kusta Internasional hadir untuk menegaskan satu pesan penting, yakni bahwa kusta dapat disembuhkan. Sayangnya, hingga kini masih banyak kesalahpahaman di tengah masyarakat yang menganggap kusta sebagai penyakit menular yang berbahaya, tidak dapat diobati, atau bahkan dikaitkan dengan kutukan dan dosa. Pandangan keliru inilah yang menjadi akar diskriminasi terhadap penyintas kusta, yang kerap dijauhi, disembunyikan, bahkan kehilangan hak-hak sosialnya. Padahal, dengan penanganan medis yang tepat, penderita kusta dapat pulih dan menjalani kehidupan normal seperti masyarakat pada umumnya.
Secara historis, Hari Kusta Internasional pertama kali diperingati pada tahun 1954 atas prakarsa Raoul Follereau, seorang jurnalis dan filantropis asal Prancis. Ia dikenal sebagai tokoh yang mendedikasikan hidupnya untuk membela hak dan martabat penderita kusta di berbagai belahan dunia. Peringatan ini juga dipilih untuk menghormati kepedulian Mahatma Gandhi, yang semasa hidupnya aktif merawat dan mendampingi penyintas kusta. Hingga kini, peringatan Hari Kusta Internasional didukung oleh lembaga-lembaga kesehatan dunia, termasuk World Health Organization (WHO).
Dari sisi medis, kusta merupakan penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit ini menyerang kulit, saraf tepi, mata, dan saluran pernapasan atas, dengan gejala yang sering kali tidak disadari pada tahap awal. Gejala umum kusta antara lain munculnya bercak kulit mati rasa, penebalan kulit, gangguan saraf yang menyebabkan kesemutan atau kelemahan otot, hingga gangguan penglihatan. Karena berkembang secara perlahan, kusta kerap terlambat terdeteksi, sehingga berisiko menimbulkan kecacatan permanen apabila tidak segera ditangani.
Meskipun demikian, penting untuk ditegaskan bahwa kusta tidak mudah menular. Penularan hanya terjadi melalui kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita yang belum diobati, umumnya melalui droplet saat batuk atau bersin. Kusta juga tidak menular melalui sentuhan biasa, seperti berjabat tangan, berpelukan, atau berbagi makanan. Setelah penderita menjalani pengobatan secara rutin, risiko penularan dapat dihentikan sepenuhnya.
Pengobatan kusta dilakukan dengan metode multidrug therapy (MDT), yaitu kombinasi antibiotik yang direkomendasikan secara global dan disediakan secara gratis oleh pemerintah. Jika pengobatan dilakukan sejak dini dan diselesaikan sesuai anjuran tenaga medis, penderita kusta dapat sembuh total tanpa mengalami komplikasi. Dengan kata lain, tantangan terbesar dalam penanggulangan kusta saat ini bukan lagi terletak pada keterbatasan obat, melainkan pada hambatan stigma yang membuat penderita enggan memeriksakan diri dan menjalani pengobatan.
Di Indonesia, jumlah kasus kusta memang menunjukkan tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Namun, penyakit ini masih ditemukan di sejumlah wilayah, sehingga upaya eliminasi kusta tetap menjadi perhatian pemerintah dan tenaga kesehatan. Program deteksi dini, edukasi masyarakat, serta pendampingan sosial bagi penyintas kusta terus digencarkan untuk memutus rantai penularan sekaligus mencegah terjadinya diskriminasi yang berkepanjangan.
Peringatan Hari Kusta Internasional juga dilakukan secara luas di berbagai negara, baik di wilayah yang masih memiliki kasus kusta maupun di negara-negara yang sudah jarang menemukannya. Di negara dengan angka kusta rendah, peringatan ini biasanya diinisiasi oleh organisasi keagamaan, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas pegiat kemanusiaan untuk mengingatkan bahwa kusta masih menjadi persoalan global. Sementara itu, di negara-negara dengan kasus kusta yang masih ada, pemerintah dan masyarakat bergandengan tangan menggelar kampanye edukasi, penyuluhan kesehatan, serta kegiatan sosial yang bertujuan menghapus stigma dan mendukung penyintas kusta.
Hari Kusta Internasional bukan sekadar peringatan kesehatan, melainkan seruan moral untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Mengenal kusta secara benar adalah langkah awal untuk mengakhiri diskriminasi yang selama ini lebih menyakitkan daripada penyakit itu sendiri. Dengan pengetahuan yang tepat, empati yang kuat, serta dukungan terhadap pengobatan dan rehabilitasi, masyarakat dapat bersama-sama menciptakan lingkungan yang inklusif, adil, dan bebas stigma bagi setiap penyintas kusta.