Pendidikan sebagai Harapan di Tengah Konflik Berkepanjangan

Pendidikan sebagai Harapan di Tengah Konflik Berkepanjangan


Nurul Aisyahra
24/01/2026
18 VIEWS
SHARE

Pendidikan di Palestina hingga awal 2026 masih berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan akibat konflik berkepanjangan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di wilayah Gaza dan Tepi Barat, sekolah bukan lagi sekadar ruang belajar, tetapi menjadi simbol perjuangan untuk mempertahankan hak dasar anak-anak di tengah situasi darurat kemanusiaan. Ribuan gedung sekolah rusak bahkan hancur, sementara jutaan anak harus menjalani masa tumbuh kembang tanpa kepastian akses pendidikan yang layak. Dalam kondisi seperti ini, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga sebagai penopang harapan dan ketahanan psikologis generasi muda Palestina.

Secara sistem, Palestina memiliki struktur pendidikan formal yang cukup jelas dan terorganisir. Pendidikan dasar diwajibkan hingga kelas 10, yang terbagi dalam tahap persiapan dan pemberdayaan, kemudian dilanjutkan ke pendidikan menengah umum maupun kejuruan. Di tingkat pendidikan tinggi, Palestina memiliki sejumlah universitas dan perguruan tinggi yang selama bertahun-tahun menjadi pusat intelektual dan perlawanan kultural. Namun, struktur yang mapan ini terus-menerus terganggu oleh serangan militer, pembatasan wilayah, serta penutupan institusi pendidikan yang membuat proses belajar tidak berjalan secara normal.

Dampak konflik yang terjadi sejak 2023 hingga 2026 membawa konsekuensi yang sangat besar bagi dunia pendidikan Palestina. Data dari berbagai lembaga kemanusiaan menunjukkan bahwa puluhan ribu pelajar dan mahasiswa menjadi korban, baik meninggal dunia maupun mengalami luka-luka. Di Gaza, sebagian besar sekolah rusak parah atau hancur total, memaksa ratusan ribu anak kehilangan ruang belajar selama bertahun-tahun. Banyak siswa terpaksa belajar di tenda darurat, tempat pengungsian, atau bahkan tidak belajar sama sekali karena trauma, keterbatasan fasilitas, dan kondisi keamanan yang tidak memungkinkan.

Situasi ini semakin diperparah dengan keterbatasan akses digital dan sarana pendukung pendidikan. Di tengah dunia yang bergerak menuju pembelajaran berbasis teknologi, anak-anak Palestina justru menghadapi pemadaman listrik berkepanjangan, keterbatasan internet, serta minimnya perangkat belajar. Kesenjangan ini membuat mereka semakin tertinggal, bukan karena kurangnya kemampuan atau semangat, tetapi karena situasi struktural yang menutup kesempatan belajar mereka secara adil.

Meski demikian, di tengah keterbatasan dan kehancuran, semangat untuk mempertahankan pendidikan tidak pernah benar-benar padam. Berbagai inisiatif lokal dan internasional terus berupaya menjaga keberlangsungan pendidikan, mulai dari pembukaan kembali sekolah darurat, program pembelajaran komunitas, hingga dukungan kesehatan mental bagi siswa dan guru. Lembaga seperti UNRWA, UNICEF, serta inisiatif pendidikan independen berusaha memastikan bahwa anak-anak Palestina tetap memiliki ruang untuk belajar, meskipun dalam kondisi yang jauh dari ideal.

Pemuda Palestina juga memainkan peran penting dalam menjaga nyala pendidikan di tengah konflik. Banyak dari mereka terlibat sebagai relawan pengajar, penggerak komunitas belajar, hingga pengembang metode pembelajaran alternatif yang menyesuaikan dengan kondisi darurat. Ketangguhan dan kreativitas generasi muda ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya soal bangunan sekolah, tetapi juga tentang kemauan kolektif untuk terus belajar dan mengajar meski dalam tekanan yang sangat berat.

Pendidikan di Palestina pada akhirnya menjadi bentuk perlawanan non-kekerasan yang paling mendasar. Dengan terus belajar, membaca, dan berpikir kritis, anak-anak dan pemuda Palestina mempertahankan identitas, martabat, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Di tengah konflik berkepanjangan, pendidikan hadir sebagai jalan untuk menjaga kemanusiaan tetap hidup, sekaligus sebagai investasi jangka panjang bagi perdamaian dan keadilan yang diharapkan suatu hari nanti benar-benar terwujud.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA