Hari Gizi Nasional: Menjadikan Gizi Seimbang Bagian dari Gaya Hidup

Hari Gizi Nasional: Menjadikan Gizi Seimbang Bagian dari Gaya Hidup


Nurul Aisyahra
25/01/2026
16 VIEWS
SHARE

Setiap tanggal 25 Januari, peringatan Hari Gizi Nasional menjadi momentum penting untuk mengajak masyarakat merefleksikan kembali pola konsumsi sehari-hari yang secara langsung memengaruhi kualitas kesehatan dan masa depan bangsa. Gizi tidak lagi bisa dipahami sebatas urusan makan agar kenyang, melainkan sebagai fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Di tengah tantangan kesehatan global dan perubahan gaya hidup masyarakat modern, pemenuhan gizi seimbang menjadi kebutuhan mendesak yang harus diupayakan secara kolektif, mulai dari tingkat keluarga hingga kebijakan nasional.

Hari Gizi Nasional ke-66 tahun 2026 mengusung tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal” dengan slogan “Sehat Dimulai dari Piringku.” Tema ini menegaskan bahwa solusi atas berbagai persoalan gizi sebenarnya tersedia di sekitar masyarakat, melalui pemanfaatan pangan lokal yang beragam, terjangkau, dan bernilai gizi tinggi. Pangan lokal seperti ikan, telur, tempe, sayur, buah, dan sumber karbohidrat alternatif tidak hanya mendukung kecukupan nutrisi, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan serta ekonomi masyarakat. Melalui tema ini, masyarakat diajak untuk lebih sadar bahwa pilihan makanan sehari-hari memiliki dampak jangka panjang bagi kesehatan individu dan bangsa.

Kondisi gizi masyarakat Indonesia saat ini masih menghadapi tantangan yang kompleks. Indonesia tidak hanya berhadapan dengan masalah kekurangan gizi dan stunting pada anak, tetapi juga peningkatan kasus gizi lebih, obesitas, serta penyakit tidak menular akibat pola makan tidak seimbang. Fenomena ini dikenal sebagai beban gizi ganda, bahkan kini berkembang menjadi beban gizi rangkap, di mana kekurangan mikronutrien seperti zat besi, yodium, dan vitamin masih banyak ditemukan meskipun asupan kalori tercukupi. Situasi ini menunjukkan bahwa kualitas gizi lebih penting dibandingkan sekadar kuantitas makanan yang dikonsumsi.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan adanya kemajuan dalam upaya penurunan prevalensi stunting, yang berhasil turun hingga di bawah 20 persen. Capaian ini patut diapresiasi sebagai hasil kerja bersama lintas sektor, namun sekaligus menjadi pengingat bahwa pekerjaan besar masih menanti. Ketimpangan antarwilayah, tingginya angka anemia pada remaja putri dan ibu hamil, serta kerentanan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi tantangan nyata dalam pemenuhan gizi yang merata. Tanpa intervensi berkelanjutan dan perubahan perilaku di tingkat rumah tangga, perbaikan gizi berisiko mengalami stagnasi bahkan kemunduran.

Dalam konteks inilah, peran keluarga menjadi sangat krusial. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kebiasaan makan yang sehat. Edukasi tentang gizi seimbang perlu dimulai sejak dini, dengan membiasakan konsumsi makanan beragam, memperbanyak sayur dan buah, mencukupi protein hewani, serta membatasi gula, garam, dan lemak. Konsep “Isi Piringku” hadir sebagai panduan sederhana namun aplikatif agar setiap anggota keluarga dapat memenuhi kebutuhan gizinya secara proporsional. Ketika kebiasaan ini diterapkan secara konsisten, gizi seimbang tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Selain keluarga, lingkungan sekolah dan komunitas juga memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran gizi. Berbagai program edukasi gizi yang melibatkan anak sekolah sebagai agen perubahan menunjukkan bahwa pemahaman gizi dapat menyebar hingga ke lingkungan keluarga. Anak-anak yang memahami pentingnya komposisi makanan sehat diharapkan mampu membawa pengetahuan tersebut ke rumah, sekaligus membentuk generasi yang lebih sadar gizi dan kesehatan. Pendekatan edukatif jangka panjang ini menjadi investasi penting untuk memutus mata rantai masalah gizi antargenerasi. Namun, keberhasilan program-program tersebut sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dalam menerapkan pola makan sehat di kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, Hari Gizi Nasional bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan ajakan untuk mengubah cara pandang terhadap makanan dan kesehatan. Menjadikan gizi seimbang sebagai bagian dari gaya hidup berarti menempatkan kesehatan sebagai prioritas jangka panjang, bukan hanya solusi sesaat. Dengan kesadaran bersama, mulai dari memilih pangan lokal yang bergizi hingga membangun kebiasaan makan sehat di keluarga dan lingkungan sekitar, masyarakat Indonesia dapat melangkah menuju masa depan yang lebih sehat, kuat, dan berdaya saing.

 

 

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA