Menampilkan postingan artikel "lainnya"
Hal Kecil yang Akan Kita Syukuri Saat Ramadan Datang
Nurul Aisyah 29/01/2026
Ramadan sering dibayangkan melalui hal-hal besar, tetapi kehadirannya justru membuat manusia lebih peka terhadap nikmat-nikmat kecil dalam keseharian. Suasana sahur yang sunyi, kesederhanaan berbuka, ibadah yang terasa lebih hidup, serta kehangatan berbagi dengan sesama menjadi pengalaman yang menumbuhkan rasa syukur. Ramadan mengajarkan bahwa kebahagiaan dan kedamaian tidak selalu datang dari kelimpahan, melainkan dari kesadaran untuk menghargai hal-hal sederhana yang selama ini sering terabaikan.
Belajar Bersyukur dari Rasa Kehilangan
Nurul Aisyah 28/01/2026
Rasa sedih sering muncul karena cara pandang yang keliru terhadap kekurangan. Hikmah Sa’di Shirazi mengajarkan bahwa banyak keluhan lahir dari perbandingan yang salah, sementara Islam menuntun manusia untuk melihat ke bawah agar rasa syukur tumbuh. Dari sikap inilah ketenangan dan rasa cukup dalam hidup perlahan terbentuk.
Board of Peace dan Kesabaran Gaza: Keteguhan yang Tidak Pernah Tawar
Risdawati 27/01/2026
Akhir-akhir ini, dunia kembali riuh oleh pengumuman Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait pembentukan Board of Peace. Perhatian publik Indonesia pun menguat seiring keikutsertaan Indonesia dalam keanggotaan dewan yang digagas Amerika Serikat tersebut. Keterlibatan ini memunculkan kegelisahan, terutama karena menyangkut masa depan Gaza, Palestina, wilayah yang hingga kini masih berada dalam bayang-bayang penjajahan dan kekerasan.
Benarkah Islam Membenci Perut Buncit?
Nurul Aisyah 27/01/2026
Perut buncit sering dikaitkan dengan penilaian moral dalam kehidupan beragama, padahal Islam tidak menilai kemuliaan seseorang dari bentuk fisiknya. Dalam ajaran Islam, ukuran utama adalah hati dan amal perbuatan, bukan rupa atau kondisi tubuh. Kegemukan atau perut buncit menjadi tercela bukan karena bentuk fisiknya, melainkan apabila lahir dari sikap berlebihan dalam makan, mengikuti hawa nafsu, dan melalaikan ibadah. Sebaliknya, perut buncit yang disebabkan faktor genetik, usia, atau kondisi alami tubuh tidak termasuk hal yang dicela. Islam mengajarkan keseimbangan, kesederhanaan, serta menjaga tubuh sebagai amanah agar mampu menunjang ketaatan dan kehidupan spiritual yang lebih baik.
Bagaimana Jika Hari Ini Adalah Kesempatan Terakhir untuk Hidup?
Nurul Aisyah 26/01/2026
Kehidupan sering membuat manusia merasa memiliki banyak waktu, sehingga kebaikan dan taubat kerap ditunda dengan alasan “nanti”. Padahal, kematian adalah kepastian yang bisa datang kapan saja, sebagaimana diingatkan dalam Al-Qur’an dan hadis Nabi. Mengingat kematian bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menumbuhkan kesadaran agar hidup dijalani dengan lebih jujur, bertanggung jawab, dan penuh amal. Selama Allah masih memberi nafas, pintu taubat tetap terbuka, dan hari ini adalah kesempatan terbaik untuk kembali kepada-Nya dengan perbaikan nyata, bukan sekadar rencana.
Mengenal Kusta dan Mengakhiri Diskriminasi
Nurul Aisyahra 25/01/2026
Hari Kusta Internasional diperingati sebagai momentum global untuk meningkatkan kesadaran tentang penyakit kusta sekaligus menghapus stigma dan diskriminasi terhadap penderitanya. Kusta merupakan penyakit infeksi yang dapat disembuhkan dengan pengobatan medis yang tepat, namun masih kerap disalahpahami sehingga penyintasnya mengalami pengucilan sosial. Melalui edukasi, deteksi dini, dan dukungan pengobatan, peringatan ini menegaskan pentingnya empati dan penghormatan terhadap hak kemanusiaan penyintas kusta demi terciptanya lingkungan yang inklusif dan bebas stigma.
Hari Gizi Nasional: Menjadikan Gizi Seimbang Bagian dari Gaya Hidup
Nurul Aisyahra 25/01/2026
Hari Gizi Nasional menjadi pengingat penting akan peran gizi seimbang dalam menjaga kesehatan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Melalui tema “Penuhi Gizi Seimbang dari Pangan Lokal”, masyarakat diajak untuk lebih sadar terhadap pilihan makanan sehari-hari yang bergizi, terjangkau, dan berkelanjutan. Di tengah tantangan gizi seperti stunting, gizi lebih, dan kekurangan mikronutrien, peran keluarga, sekolah, dan lingkungan menjadi kunci dalam membangun kebiasaan makan sehat. Menjadikan gizi seimbang sebagai gaya hidup diharapkan mampu mendorong terwujudnya masyarakat Indonesia yang lebih sehat dan berdaya saing.
Pendidikan sebagai Harapan di Tengah Konflik Berkepanjangan
Nurul Aisyahra 24/01/2026
Pendidikan di Palestina hingga awal 2026 berada dalam kondisi kritis akibat konflik berkepanjangan yang merusak infrastruktur sekolah dan menghilangkan akses belajar bagi ratusan ribu anak. Meski memiliki sistem pendidikan formal yang terstruktur, proses pembelajaran terus terganggu oleh kekerasan, keterbatasan fasilitas, serta kesenjangan akses digital. Di tengah situasi darurat ini, berbagai inisiatif lokal dan internasional serta peran aktif pemuda Palestina menjaga pendidikan tetap hidup sebagai bentuk ketahanan, harapan, dan perlawanan non-kekerasan untuk mempertahankan martabat dan masa depan generasi muda.
Hari Pendidikan Internasional: Menegaskan Peran Pemuda dalam Masa Depan Pendidikan
Nurul Aisyahra 24/01/2026
Hari Pendidikan Internasional menjadi pengingat global bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap manusia dan fondasi penting bagi terwujudnya masyarakat yang adil dan berkelanjutan. Peringatan tahun 2026 menekankan peran pemuda sebagai subjek aktif dalam menciptakan dan memperbaiki sistem pendidikan, bukan sekadar penerima pembelajaran. Dengan keterlibatan generasi muda, pemanfaatan teknologi yang inklusif, serta kolaborasi semua pihak, pendidikan diharapkan mampu menjawab tantangan global dan membentuk masa depan yang lebih baik.
Bolehkah Loyal kepada Orang Kafir dalam Pandangan Islam?
Nurul Aisyahra 22/01/2026
Islam membedakan secara tegas antara interaksi sosial dan loyalitas akidah dalam menyikapi hubungan dengan non-Muslim. Melalui teladan Nabi Ibrahim a.s. dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 4, Islam menegaskan larangan wala’, yakni loyalitas batin dan keberpihakan iman kepada orang kafir atau keyakinan mereka. Namun, Islam tetap membolehkan pertemanan, hubungan sosial, serta perbuatan baik selama tidak mencampuradukkan akidah. Prinsip ini menegaskan keseimbangan Islam: tegas dalam iman, tetapi tetap adil, lembut, dan berakhlak mulia dalam kehidupan bermasyarakat.