Hal Kecil yang Akan Kita Syukuri Saat Ramadan Datang

Hal Kecil yang Akan Kita Syukuri Saat Ramadan Datang


Nurul Aisyah
29/01/2026
15 VIEWS
SHARE

Sering kali, menjelang datangnya Ramadan, manusia membayangkan hal-hal besar: ibadah yang lebih khusyuk, pahala yang berlipat ganda, atau suasana religius yang berbeda dari hari-hari biasa. Namun, ketika Ramadan benar-benar hadir, justru hal-hal kecil dalam keseharianlah yang perlahan terasa paling bermakna. Hal-hal yang selama ini luput dari perhatian tiba-tiba menjadi nikmat yang begitu disyukuri, seolah Ramadan mengajarkan kita untuk kembali peka terhadap detail sederhana dalam hidup.

Bangun lebih awal di waktu sahur, bukan hanya tentang makan sebelum fajar. Di sana ada ketenangan yang jarang ditemui di hari-hari biasa: udara yang masih sunyi, doa yang dilantunkan dengan suara pelan, serta rasa kebersamaan yang hangat meski hanya duduk sederhana bersama keluarga. Bahkan bagi mereka yang sahur sendirian, keheningan itu justru menjadi ruang refleksi yang menenangkan, seakan waktu sengaja diperlambat agar manusia bisa lebih dekat dengan dirinya sendiri dan dengan Allah.

Begitu pula dengan waktu berbuka. Segelas air putih, sebutir kurma, atau sepiring makanan sederhana terasa jauh lebih nikmat dibandingkan hidangan mewah di luar Ramadan. Rasa lapar yang ditahan sejak pagi membuat tubuh dan jiwa belajar tentang cukup, bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari kelimpahan, tetapi dari rasa syukur yang lahir setelah kesabaran. Pada saat itu, manusia disadarkan bahwa nikmat paling dasar yaitu, makan dan minum yang sebenarnya adalah karunia besar yang sering diremehkan.

Ramadan juga membuat waktu terasa berbeda. Langkah menuju masjid, lantunan ayat Al-Qur’an yang lebih sering terdengar, serta suasana malam yang dipenuhi tarawih dan doa, semuanya membentuk pengalaman spiritual yang lembut namun dalam. Hal-hal kecil seperti mampu berdiri lebih lama dalam shalat, membaca satu halaman Al-Qur’an dengan tenang, atau sekadar menahan lisan dari berkata sia-sia, menjadi pencapaian yang patut disyukuri. Ramadan mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan dengan istiqamah.

Di bulan ini pula, hubungan dengan sesama terasa lebih hangat. Senyum saat berbagi takjil, sapaan sederhana kepada tetangga, atau niat untuk menahan ego dalam perbedaan, menjadi bagian dari latihan jiwa. Ramadan tidak selalu mengubah dunia secara drastis, tetapi ia mengubah cara pandang manusia terhadap dunia. Hal kecil seperti memberi, memaafkan, dan bersabar menjadi jalan untuk merasakan kedamaian yang lebih luas.

Ramadan datang bukan hanya membawa kewajiban, tetapi juga menghadirkan kepekaan. Ia mengajarkan bahwa banyak nikmat besar tersembunyi dalam hal-hal yang tampak sepele. Ketika Ramadan tiba, manusia belajar bahwa rasa syukur tidak selalu lahir dari sesuatu yang luar biasa, melainkan dari kesadaran atas hal-hal kecil yang selama ini terabaikan. Dari sanalah, Ramadan menjadi bulan yang bukan hanya dijalani, tetapi benar-benar dirasakan.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA