Waspadai Tipu Daya Setan di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

Waspadai Tipu Daya Setan di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan


Nurul Aisyah
14/03/2026
12 VIEWS
SHARE

Sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan waktu yang sangat istimewa bagi kaum Muslimin. Pada malam-malam inilah Rasulullah saw memperbanyak ibadah, menghidupkan malam dengan salat, zikir, dan doa. Banyak kaum Muslimin juga berusaha melakukan i’tikaf di masjid untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah dan berharap mendapatkan keutamaan malam Lailatulqadar. Namun tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan i’tikaf. Ada sebagian orang yang memiliki uzur syar’i, seperti wanita yang sedang haid atau nifas, serta orang-orang yang memiliki kewajiban pekerjaan sehingga tidak bisa berdiam di masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

“Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadan, Rasulullah saw menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bagi mereka yang memiliki uzur, kondisi ini terkadang menimbulkan perasaan sedih atau kecewa karena merasa kehilangan kesempatan meraih keutamaan malam-malam tersebut. Di sinilah setan sering memanfaatkan keadaan dengan menanamkan rasa putus asa dan kekecewaan dalam hati. Setan berusaha membuat seseorang merasa seolah-olah seluruh kesempatan beribadah telah hilang darinya. Setelah perasaan itu muncul, setan kemudian memalingkan perhatian dari ibadah kepada berbagai kesibukan dunia yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Sebagian wanita yang sedang haid atau nifas, misalnya, dipalingkan oleh setan untuk terlalu sibuk dengan hal-hal yang melalaikan, seperti berlebihan dalam menghias rumah, sering keluar masuk pasar untuk berbelanja, atau menghabiskan waktu dengan aktivitas yang tidak berkaitan dengan ibadah. Demikian pula orang-orang yang tidak bisa i’tikaf karena pekerjaan atau kewajiban lainnya, terkadang justru larut dalam kesibukan dunia sehingga malam-malam yang penuh keutamaan itu berlalu tanpa diisi dengan ibadah yang berarti.

Padahal, meskipun tidak bisa melaksanakan i’tikaf atau beberapa bentuk ibadah tertentu, masih banyak amalan yang tetap bisa dilakukan. Wanita yang sedang haid atau nifas tetap dapat berzikir, berdoa, mendengarkan kajian, bersedekah, atau membantu menyiapkan hidangan bagi orang yang beribadah. Demikian pula bagi mereka yang tidak bisa i’tikaf karena pekerjaan, tetap dapat menghidupkan malam dengan salat ketika memiliki waktu, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak zikir kepada Allah.

Karena itu, yang perlu diwaspadai adalah tipu daya setan yang membuat seseorang merasa putus asa lalu memalingkannya dari ibadah kepada kesibukan dunia yang tidak perlu. Setiap Muslim tetap memiliki peluang untuk mendekatkan diri kepada Allah sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Jangan sampai sepuluh malam terakhir Ramadan berlalu begitu saja karena kita terlalai oleh hal-hal yang tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan memberikan keberkahan pada malam-malam terakhir Ramadan.

 

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA