Anak-anak yang ikut salat Jumat ke masjid merupakan pemandangan yang cukup sering ditemui. Ada yang sudah mampu mengikuti rangkaian ibadah dengan tenang, tetapi ada pula yang masih asyik bermain, berbicara, atau berpindah-pindah tempat hingga menimbulkan suara berisik.
Situasi seperti ini terkadang membuat jamaah lain merasa terganggu. Namun, di sisi lain, menegur anak dengan cara yang kurang tepat juga dikhawatirkan membuat mereka merasa tidak diterima di masjid. Lantas, bagaimana sebaiknya menyikapi anak-anak yang ribut ketika salat Jumat?
Adab Jemaah dalam Salat Jumat
Pada dasarnya, anak-anak boleh diajak mengikuti salat Jumat dan dikenalkan dengan ibadah sejak dini. Kehadiran mereka di masjid juga dapat menjadi bagian dari proses mengenalkan dan membiasakan ibadah sejak dini. Karena itu, ketika anak belum mampu sepenuhnya menjaga ketenangan, orang dewasa perlu menyikapinya dengan sabar sekaligus tetap memperhatikan adab di masjid.
Terlebih ketika khatib sedang menyampaikan khutbah. Rasulullah saw bersabda:
“Barang siapa yang berwudu lalu memperbagus wudunya kemudian dia mendatangi salat Jumat, dia mendengarkan khutbah dan diam, maka akan diampuni dosa-dosanya antara Jumat ini dengan Jumat yang akan datang, ditambah tiga hari. Dan barang siapa yang bermain kerikil, sungguh ia telah berbuat sia-sia.” (HR. Muslim).
Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda, “Jika engkau berkata pada sahabatmu pada hari Jumat, ‘Diamlah, khatib sedang berkhutbah!’ Sungguh engkau telah berkata sia-sia.” (HR. Bukhari no. 934 dan Muslim no. 851).
Hadis tersebut menunjukkan pentingnya menjaga ketenangan dan menyimak khutbah. Karena itu, ketika ada anak yang berisik, jamaah tetap perlu berusaha menjaga adab tersebut. Lalu, apa yang dapat dilakukan tanpa harus menghardik atau membuat anak merasa dijauhkan dari masjid?
Cara Menyikapi Anak-Anak yang Ribut
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan agar ketenangan selama salat Jumat tetap terjaga tanpa menghilangkan kesempatan anak untuk belajar mengenal masjid.
1. Ingatkan sebelum khutbah dimulai
Sebelum pelaksanaan salat Jumat, petugas masjid atau orang tua dapat mengingatkan anak-anak untuk menjaga ketenangan selama khutbah dan salat berlangsung. Nasihat yang disampaikan dengan bahasa sederhana akan lebih mudah dipahami anak.
2. Utamakan pendampingan orang tua
Anak-anak yang masih kecil tentu belum selalu mampu mengendalikan perilakunya. Karena itu, orang tua atau orang dewasa yang mendampinginya memiliki peran penting untuk mengawasi dan mengarahkan mereka agar tidak mengganggu jamaah lain.
3. Jika terjadi saat khutbah, gunakan isyarat
Apabila anak masih berisik ketika khutbah berlangsung, jamaah sebaiknya tidak menegurnya dengan perkataan karena berbicara saat khutbah juga perlu dihindari. Sebagai gantinya, teguran dapat disampaikan melalui isyarat yang mudah dipahami, misalnya memberi tanda agar anak diam atau meminta mereka berpindah ke tempat yang lebih tenang.
4. Berikan pemahaman setelah salat
Edukasi kepada anak tidak harus dilakukan ketika khutbah sedang berlangsung. Setelah salat Jumat selesai, orang tua atau orang dewasa dapat menjelaskan dengan bahasa yang sederhana mengapa mereka perlu tenang selama khutbah dan salat.
Dengan begitu, anak tidak hanya mengetahui bahwa dirinya diminta untuk diam, tetapi juga memahami alasan di balik aturan tersebut. Pendekatan seperti ini membantu anak belajar menghormati orang lain sekaligus mengenal adab ketika berada di masjid.
Menyikapi anak-anak yang ribut ketika salat Jumat memang membutuhkan kesabaran. Menjaga kekhusyukan ibadah tetap penting, tetapi mengenalkan anak kepada masjid juga tidak kalah penting. Karena itu, ketegasan tidak harus diwujudkan dengan hardikan atau larangan yang membuat anak merasa tidak diterima.
Masjid semestinya menjadi tempat anak belajar mencintai ibadah sekaligus memahami adab. Dengan pendampingan dan cara mengingatkan yang tepat, ketenangan jamaah dapat tetap terjaga tanpa memutus langkah anak-anak untuk tumbuh dekat dengan masjid.
Author: Rafi Hamdallah