Kisah Miskan: Mengubah Pekarangan Rumah Menjadi Sumber Pangan dan Penghasilan Keluarga

Kisah Miskan: Mengubah Pekarangan Rumah Menjadi Sumber Pangan dan Penghasilan Keluarga


Risdawati
03/08/2026
8 VIEWS
SHARE

Deretan cabai, lombok, terong, timun, dan aneka sayuran tumbuh subur di pekarangan rumah seluas sekitar 10 meter persegi milik Miskan di Desa Mangkalapi. Siapa sangka, lahan sederhana yang kini menjadi sumber pangan sekaligus tambahan penghasilan keluarga itu dulunya hanyalah pekarangan yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Sebelum bergabung dengan Program Pemberdayaan Masyarakat Lingkup Pengaruh dan Kendali binaan LAZ Al Azhar pada 2016, pria berusia 56 tahun itu bekerja sebagai buruh harian alias serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Melalui pendampingan yang diberikan, Miskan mendapat edukasi mengenai pemanfaatan lahan pekarangan sebagai sumber pangan keluarga. Edukasi tersebut mendorongnya untuk mengubah halaman rumah menjadi Dapur Hidup.

Dalam proses awal, Miskan didampingi oleh Da’i Sahabat Masyarakat (Dasamas), mulai dari pengenalan hingga pengelolaan media tanam. Setelah itu, ia bersama sang istri merawat kebun sederhana tersebut sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari.

Berbagai jenis tanaman seperti cabai, lombok, terong, timun, dan sayuran lainnya ditanam di media tanah maupun polibag. Dengan perawatan yang rutin, tanaman-tanaman tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat bulan hingga memasuki masa panen.

Hasil panennya tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur keluarga. Sebagian hasil panen juga dibagikan kepada tetangga sebagai sedekah, sementara sisanya dijual kepada warga sekitar dan warung sayur. Dari hasil penjualan tersebut, Miskan memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp50.000 hingga Rp100.000 per hari. Kehadiran Dapur Hidup pun membantu mengurangi pengeluaran belanja sekaligus menjadi tambahan pemasukan bagi keluarga.

Perjalanan itu tidak selalu berjalan tanpa hambatan. Kesibukan sehari-hari terkadang membuat perawatan tanaman kurang konsisten. Namun, seiring berjalannya waktu, berkebun telah menjadi kebiasaan sekaligus hobi yang membuat Miskan tetap tekun merawat pekarangannya.

Hampir satu dekade mengikuti program pemberdayaan, Miskan merasakan bahwa pekarangan rumah dapat memberikan manfaat lebih dari sekadar ruang kosong. Dengan memanfaatkan lahan yang ada, keluarga dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangan, berbagi hasil panen kepada sesama, sekaligus memperoleh tambahan penghasilan.

Ke depan, Miskan berharap semakin banyak warga yang tergerak memanfaatkan pekarangan rumah mereka. Menurutnya, lahan sekecil apa pun dapat menghasilkan manfaat apabila dikelola dengan baik dan dilakukan secara konsisten.

Kisah Miskan menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak hanya berbicara tentang bantuan yang diberikan, tetapi juga tentang kemauan untuk belajar dan memanfaatkan peluang yang ada. Dari pekarangan yang sederhana, tumbuh ketahanan pangan keluarga, semangat berbagi, dan ikhtiar untuk meningkatkan kesejahteraan secara bertahap.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA