Manusia pada dasarnya makhluk yang suka meniru dan mengikuti orang lain. Sifat ini muncul sejak zaman nenek moyang, tatkala mereka senantiasa berkumpul agar terlindung dari keganasan alam liar. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai membentuk kelompok kecil sampai sistem sosial yang berdasarkan kesepakatan bersama. Mereka yang berada dalam kelompok dominan cenderung merasa nyaman, sedangkan orang lain tersisih dalam pergaulan.
Watak “tiru-tiruan” ini lebih dikenal sebagai herd mentality (mental kawanan). Sekilas mirip dengan istilah yang lebih familiar, yaitu “FOMO”, hanya saja kedua mental ini berbeda makna. FOMO membuat seseorang takut dicap ketinggalan zaman, terlebih bagi orang yang hedonis. Sedangkan herd mentality membuat seseorang kehilangan pendirian dan bergantung pada orang lain.
Sebagai ilustrasi, ketika teman membeli baju baru, teman lain juga ingin membelinya walaupun mahal. Lalu dalam setiap rapat organisasi, kebanyakan anggota hanya “setuju” atau diam meski memberatkan. Begitupun dalam pertandingan sepak bola, klub yang menang lebih banyak diidolakan fansnya daripada klub lain. Bahkan ketika ada isu yang viral, banyak warganet yang ramai berkomentar, tanpa ada klarifikasi yang benar.
Sikap semacam ini ternyata ada dampak negatifnya. Seseorang yang tidak punya pendirian akan merasa “tidak enakan”, walaupun alasannya benar. Sebaliknya, orang atau kelompok lain akan merasa lebih dominan, walaupun salah. Selain itu, gejala ini bisa menimbulkan kemalasan berpikir dan menjerumuskan ke dalam kesesatan berpikir. Padahal, benar atau tidaknya suatu hal tidak ditentukan dari banyak orangnya, tetapi isi atau pesan yang akan disampaikan.
Dalam pandangan Islam, Allah Swt melarang hamba-Nya untuk ikut-ikutan pada sesuatu yang belum tentu benar, apalagi menyesatkan. Sebagaimana dalam Surah Al-An’am ayat 116 yang berbunyi:
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنْ يَّتَّبِعُوْنَ اِلَّا الظَّنَّ وَاِنْ هُمْ اِلَّا يَخْرُصُوْنَ
“Jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang (kafir) di bumi ini (dalam urusan agama), niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.” (QS. Al-An’am: 116).
Ayat tersebut diturunkan ketika kaum musyrikin di Makkah mengejek Nabi saw dan para sahabat soal memakan bangkai hewan. Mereka berkata, “Mengapa kalian mau memakan hewan yang kalian sembelih sendiri, tetapi tidak mau memakan hewan yang Allah matikan (bangkai)?” Mendengar ejekan tersebut, Allah Swt menurunkan ayat ini sebagai jawaban yang diperuntukkan untuk Nabi saw dan umatnya.
Intinya, Allah mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya untuk tidak mengikuti kemauan orang kafir dalam urusan kebenaran dan agama (memakan bangkai). Sebab kebanyakan dari mereka hanya berpijak pada prasangka dan dugaan, bukan kebenaran yang berasal dari Allah Swt. Apalagi jika membicarakan perkara agama tanpa dilandasi dengan ilmu yang kuat dan kebenaran yang nyata.