Pelajaran Surah Yasin tentang Rezeki, Syukur, dan Infak

Pelajaran Surah Yasin tentang Rezeki, Syukur, dan Infak


Risdawati
28/07/2026
16 VIEWS
SHARE

Setiap manusia dianugerahkan Allah Swt berupa kecukupan rezeki sepanjang hidupnya, baik disadari maupun tidak disadari. Rezeki tersebut dianugerahkan Allah dengan ukuran dan hikmah yang telah ditetapkan-Nya. Tetapi tidak sedikit manusia yang kurang menyadari bahkan mengingkari keberadaan rezeki tersebut, apalagi jika mereka terkadang membandingkan rezekinya dengan orang lain.

Hal ini dikhawatirkan memicu rasa iri, dengki, bahkan sampai berbuat aniaya. Karena itu, manusia hendaklah mensyukuri setiap rezeki yang Allah karuniakan. Syukur bukan hanya sekadar melafazkan tahmid, tetapi juga mengungkapkannya dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Salah satu wujud dari syukur itu adalah infak dari sebagian rezeki (baik harta maupun non-harta) agar juga dirasakan oleh manusia lain yang membutuhkan.

Konsep terkait rezeki, syukur, dan infak merupakan tiga nilai yang saling berkaitan dalam ajaran Islam karena secara hakikat manusia mampu bersyukur apabila ia menyadari rezeki yang berasal dari Allah Swt dan mempergunakannya sebaik mungkin menuju ketakwaan. Dalam Surah Yasin ayat 45-47, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاِذَا قِيْلَ لَهُمُ اتَّقُوْا مَا بَيْنَ اَيْدِيْكُمْ وَمَا خَلْفَكُمْ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ ۝ وَمَا تَأْتِيْهِمْ مِّنْ اٰيَةٍ مِّنْ اٰيٰتِ رَبِّهِمْ اِلَّا كَانُوْا عَنْهَا مُعْرِضِيْنَ ۝ وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ اَنْفِقُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ ۙقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنُطْعِمُ مَنْ لَّوْ يَشَاۤءُ اللّٰهُ اَطْعَمَهٗٓ  ۖاِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ۝

“Ketika dikatakan kepada mereka, “Takutlah kamu akan (siksa) yang ada di hadapanmu (di dunia) dan azab yang ada di belakangmu (akhirat) agar kamu mendapat rahmat,” (maka mereka berpaling).”

“Tidak satu pun dari tanda-tanda (kebesaran) Tuhan datang kepada mereka, kecuali mereka berpaling darinya.”

“Apabila dikatakan kepada mereka, 'Infakkanlah sebagian rezeki yang diberikan Allah kepadamu,' orang-orang yang kufur itu berkata kepada orang-orang yang beriman, 'Apakah pantas kami memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, Dia akan memberinya makan? Kamu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.'"

Ayat tersebut diawali dengan peringatan tegas dari Allah Swt kepada hamba-hambanya yang perlu mewaspadai siksaan dan azab dari segala arah. M. Quraish Shihab, dalam Tafsir Al-Misbah, menerangkan sebab turunnya ayat tersebut berkaitan dengan masa sulit yang dihadapi penduduk Mekah. Ketika itu, Nabi Muhammad saw. menganjurkan kepada semua pihak (termasuk kaum musyrik) agar membantu fakir miskin, namun mereka menolaknya. Boleh jadi fakir miskin yang memeluk Islam (sebelumnya menerima bantuan) enggan diberi bantuan lagi oleh kaum musyrik Mekah yang kaya dan terpandang. 

Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir Mafatih Al-Ghaib menyebutkan bahwa ayat itu masih berkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya yang membahas keberadaan bumi, bulan, matahari, hingga samudra. Semua itu diciptakan untuk meyakinkan manusia akan keberadaan ayat-ayat Allah Swt, namun mereka tidak mengacuhkannya. Akibatnya, Allah Swt mengancam mereka dengan azab yang akan ditampakkan di akhirat (maa bayna aydikum) ataupun siksaan di dunia yang akan ditinggalkan (wa ma khalfakum). Keduanya perlu ditinggalkan agar manusia mendapatkan rahmat.

Pada ayat selanjutnya, Allah Swt menyindir mereka yang memalingkan muka atau membutakan hatinya dari keberadaan ayat-Nya, serta mengakui kerasulan utusan-Nya. Mereka tidak mau mengakui, menerima, dan tidak pula mengambil manfaat darinya. Begitu pun pada ayat berikutnya, mereka juga enggan berinfak dari sebagian harta atau rezeki walau sedikit. Kalaupun Nabi Muhammad saw atau para sahabat mengajak kaum musyrik untuk berinfak, mereka akan berdalih, “Untuk apa mengasihani orang lain jika Allah Swt telah mengatur rezekinya?” Artinya, mereka membiarkan orang miskin tetap menjadi miskin karena jika Tuhan menghendaki, pasti semua manusia menjadi kaya. Anggapan itu bisa dianggap sesat bagi orang kafir ataupun bantahan bagi orang beriman.

Ketiga ayat tersebut hendaknya dijadikan pelajaran bahwa manusia perlu menyadari hakikat rezeki yang dianugerahkan Allah Swt serta mengungkapkannya dalam bentuk syukur dan infak. Janganlah seperti kaum musyrik yang enggan menyadarinya, apalagi sampai menyangkal keutamaan rezeki yang harusnya diwujudkan dalam bentuk infak kepada orang lain yang membutuhkan.

 

Author: Rafi Hamdallah

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA