Safar kerap dikaitkan dengan berbagai mitos, termasuk anggapan sebagai bulan yang membawa kesialan. Padahal, dalam Islam tidak ada satu pun dalil yang menetapkan Safar sebagai bulan sial. Sebaliknya, jika menelusuri sejarah Islam, justru ada sejumlah peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini. Peristiwa-peristiwa tersebut bukan hanya menjadi bagian dari perjalanan dakwah Rasulullah saw, tetapi juga menyimpan pelajaran berharga bagi umat Islam. Berikut tiga peristiwa penting di bulan Safar yang patut kita ketahui.
1. Pernikahan Rasulullah saw dengan Khadijah
Salah satu peristiwa penting yang terjadi pada bulan Safar adalah pernikahan Rasulullah saw dengan Khadijah radhiyallahu ‘anha. Menurut Sirah Nabawiyah karya Syafiyur Rahman al-Mubarakfuri, pernikahan tersebut berlangsung sekitar dua bulan setelah Rasulullah saw kembali dari perjalanan dagang ke Negeri Syam. Saat itu, beliau berusia 25 tahun, sedangkan Khadijah berusia 40 tahun.
Pernikahan yang penuh keberkahan ini menjadi bukti bahwa anggapan bulan Safar sebagai bulan pembawa kesialan tidak memiliki dasar dalam Islam. Justru pada bulan inilah Rasulullah saw memulai kehidupan rumah tangga bersama sosok yang kelak menjadi pendukung terbesar dakwah beliau.
2. Masuk Islamnya Khalid bin Walid, Amr bin’Ash, dan Utsman bin Thalhah
Bulan Safar juga menjadi saksi datangnya kabar gembira bagi umat Islam. Pada awal Safar tahun ke-8 Hijriah, Khalid bin Walid, Amr bin ‘Ash, dan Utsman bin Thalhah berangkat dari Makkah menuju Madinah untuk menemui Rasulullah saw. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dan menyadari bahwa tujuan mereka sama, yakni menyatakan keislaman di hadapan Nabi saw.
Setibanya di Madinah, Rasulullah saw menyambut mereka dengan penuh kegembiraan. Khalid bin Walid menjadi yang pertama mengucapkan baiat, disusul Amr bin ‘Ash, kemudian Utsman bin Thalhah. Keislaman ketiganya menjadi titik balik penting dalam sejarah Islam. Khalid bin Walid bahkan kemudian dikenal sebagai panglima besar berjuluk Saifullah (Pedang Allah) yang banyak mengantarkan kaum muslimin meraih kemenangan.
3. Rasullah Mulai Mengalami Sakit Menjelang Wafat
Peristiwa penting lainnya yang terjadi pada bulan Safar adalah awal sakit Rasulullah saw menjelang wafat. Dalam Sirah Nabawiyah karya Syafiyur Rahman al-Mubarakfuri disebutkan bahwa pada 28 atau 29 Safar tahun ke-11 Hijriah, Rasulullah saw menghadiri pemakaman seorang sahabat di Baqi’. Sepulang dari sana, beliau mulai merasakan sakit kepala yang disertai demam tinggi.
Demam tersebut begitu berat hingga para sahabat dapat merasakan panas yang menjalar dari sorban yang beliau kenakan. Meski kondisi tubuhnya melemah, Rasulullah saw tetap mengimami salat berjemaah selama beberapa hari. Sakit itu berlangsung sekitar 13 hingga 14 hari sebelum akhirnya beliau wafat, meninggalkan duka mendalam bagi seluruh umat Islam. Rasulullah saw wafat pada hari Senin, 12 Rabiul Awal 11 Hijriah.
Ketiga peristiwa tersebut menunjukkan bahwa bulan Safar bukanlah bulan yang identik dengan kesialan sebagaimana mitos yang berkembang di sebagian masyarakat. Sebaliknya, Safar menyimpan berbagai peristiwa bersejarah yang menghadirkan kebahagiaan, perjuangan, sekaligus pelajaran berharga bagi umat Islam.
Karena itu, alih-alih mempercayai mitos yang tidak memiliki dasar, sudah semestinya kita memaknai bulan Safar dengan memperbanyak amal saleh, mengambil ibrah dari perjalanan hidup Rasulullah saw, serta semakin menguatkan keyakinan bahwa setiap waktu yang Allah ciptakan adalah baik dan penuh hikmah bagi hamba-Nya.