Dari Usaha Rumahan, Isti Kembangkan Manggleng hingga Libatkan Warga Sekitar

Dari Usaha Rumahan, Isti Kembangkan Manggleng hingga Libatkan Warga Sekitar


Risdawati
29/07/2026
12 VIEWS
SHARE

Beberapa perempuan tampak sibuk mengiris singkong, menggoreng, hingga mengemas manggleng ke dalam plastik. Di antara aktivitas itu, Istikhorotun sesekali mengawasi jalannya produksi sambil memastikan setiap kemasan siap dipasarkan. Pemandangan tersebut menjadi bukti bahwa usaha rumahan yang dirintis bersama sang suami, Ahmad, kini perlahan berkembang dan mampu melibatkan warga di sekitarnya.

Perempuan yang akrab disapa Isti itu menekuni usaha olahan singkong berupa manggleng, serta produk kacang kedelai. Usaha yang dimulai dari skala rumahan tersebut menjadi sumber penghidupan keluarga sekaligus wujud ikhtiarnya untuk terus berkarya. Meski dijalankan secara sederhana, ia percaya bahwa usaha yang ditekuni dengan kesungguhan akan selalu memiliki kesempatan untuk berkembang.

Keyakinan itulah yang membuat perempuan berusia 52 tahun tersebut tetap istikamah menjalankan usahanya. Berbagai tantangan yang datang tidak membuatnya berhenti. Sebaliknya, setiap hambatan dijadikan pelajaran untuk terus memperbaiki kualitas usaha dan menjaga agar usahanya tetap bertahan.

Sebagai anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), usaha yang dijalankannya kini telah mandiri dari akad Rumah Pembiayaan Pertanian (RPP). Dalam proses pengembangannya, ia juga pernah memperoleh pembiayaan melalui akad murabahah untuk membeli mesin pemotong singkong. Bantuan tersebut membuat proses produksi menjadi lebih efektif. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan secara manual kini dapat diselesaikan lebih cepat sehingga kapasitas produksi ikut meningkat.

Perkembangan usaha itu pun membawa manfaat yang lebih luas. Jika dahulu hampir seluruh proses produksi dikerjakan bersama sang suami, kini beberapa perempuan di lingkungan sekitar turut membantu proses produksi, mulai dari menyiapkan bahan baku hingga mengemas manggleng. Kehadiran mereka tidak hanya meringankan pekerjaan, tetapi juga menunjukkan bahwa usaha rumahan yang dikelola dengan tekun dapat membuka peluang penghasilan bagi orang lain.

Untuk pemasaran, Isti memilih menitipkan produknya ke sejumlah toko oleh-oleh dengan harga Rp5.000 per kemasan. Cara tersebut menjadi pilihan setelah sebelumnya ia sempat memasarkan produk melalui tiga orang tenaga penjualan. Namun, sistem itu akhirnya dihentikan karena adanya kendala dalam penyetoran uang hasil penjualan.

Bagi Isti, membangun usaha bukan semata-mata tentang meningkatkan hasil produksi atau memperluas pemasaran. Di balik setiap kemasan manggleng yang dihasilkan, ada ikhtiar untuk menjaga kemandirian keluarga sekaligus menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar. Perjalanannya menunjukkan bahwa usaha yang dimulai dari langkah sederhana dapat terus bertumbuh ketika dijalankan dengan kesabaran, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA