Humor Rasulullah saw: Tiga Kisah Canda yang Penuh Hikmah

Humor Rasulullah saw: Tiga Kisah Canda yang Penuh Hikmah


Risdawati
03/08/2026
10 VIEWS
SHARE

Nabi Muhammad saw dikenal sebagai teladan bagi umatnya sekaligus rahmat bagi semesta alam. Kepribadiannya yang lembut kepada kaum duafa dan tegas terhadap kaum musyrik menjadikannya sosok yang patut dicontoh dalam kehidupan sehari-hari. Namun, siapa sangka bahwa Rasulullah saw juga memiliki sisi humoris yang mampu menghadirkan senyum bagi orang-orang di sekitarnya. Candaan beliau selalu disampaikan dengan jujur, penuh adab, dan tidak pernah menyakiti. Berikut tiga kisah humor Rasulullah saw yang menarik untuk disimak.

Canda Rasulullah saw kepada Seorang Nenek

Suatu hari, seorang nenek tua mendatangi Rasulullah saw seraya berkata, “Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku dapat masuk surga.”

Beliau pun bersabda, “Wahai ibunya si fulan, sesungguhnya surga tidak dimasuki oleh orang-orang yang renta.”

Mendengar jawaban tersebut, sang nenek berpaling dan menangis. Melihat hal itu, Rasulullah saw bersabda, “Kabarkanlah kepadanya bahwa ia tidak akan masuk surga dalam keadaan tua renta,” kemudian beliau membacakan Surah Al-Waqi'ah ayat 35–37.

Setelah mendengar penjelasan itu, sang nenek kembali tersenyum bahagia. Sebab, seluruh penghuni surga akan dibangkitkan dalam keadaan muda dan penuh keindahan.

Kisah ini diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Asy-Syamā'il Al-Muhammadiyyah. Hadis tersebut dinilai hasan oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan juga tercantum dalam Silsilah Al-Ahādīts Ash-Shahīhah.

Rasulullah saw Tersenyum karena Ulah Nu'aiman

Suatu ketika, Nu'aiman bin Amr bin Raf'ah ikut bepergian ke Negeri Syam bersama Abu Bakar radhiyallahu 'anhu dan Suwaibith bin Harmalah. Setibanya di sana, Nu'aiman merasa lapar lalu meminta roti kepada Suwaibith yang sedang menjaganya. Namun, permintaannya ditolak.

Nu'aiman kemudian berkeliling pasar sambil menawarkan seorang hamba sahaya kepada warga dengan harga sepuluh ekor unta. Ia mengatakan bahwa hamba sahaya tersebut memiliki “kekurangan”, yakni selalu mengaku sebagai orang merdeka. Mendengar hal itu, beberapa warga tertarik dan diajak Nu'aiman menemui orang yang dimaksud.

Sesampainya di sana, Nu'aiman berkata, “Itulah hamba sahaya saya yang sedang menjaga makanan.”

Suwaibith pun terkejut dan berkata, “Saya bukan hamba sahaya. Saya orang merdeka.”

Namun, karena terlanjur percaya kepada Nu'aiman, warga tetap membawanya. Tidak lama kemudian, Abu Bakar radhiyallahu 'anhu kembali dan mencari Suwaibith. Nu'aiman berkata, “Dia sudah saya jual, wahai Abu Bakar.”

Peristiwa tersebut akhirnya sampai kepada Rasulullah saw. Beliau pun tersenyum hingga tampak gigi gerahamnya.

Kisah ini diriwayatkan dalam Musnad Imam Ahmad dan Sunan Ibnu Majah (tahqiq Syaikh Syu'aib Al-Arnauth). Dalam sebagian riwayat terdapat perbedaan penyebutan tokoh yang “terjual”, apakah Suwaibith atau Nu'aiman.

Rasulullah saw dan Anak Unta

Suatu hari, Ummu Aiman, ibu asuh Rasulullah saw, datang menemui beliau untuk meminjam seekor unta.

“Wahai Rasulullah, tolong naikkan aku ke atas unta itu,” pintanya.

Rasulullah saw menjawab, “Aku akan menaikkanmu ke atas anak unta.”

Ummu Aiman pun merasa heran. Ia berkata, “Anak unta tidak akan kuat mengangkat tubuhku, dan aku pun tidak tega menaikinya.”

Rasulullah saw tersenyum lalu kembali bersabda, “Aku tidak akan menaikkanmu kecuali ke atas anak unta.”

Ummu Aiman kembali bertanya, “Apa yang dapat dilakukan oleh seekor anak unta?”

Beliau menjawab, “Bukankah setiap unta adalah anak dari induknya?”

Saat itulah Ummu Aiman memahami bahwa Rasulullah saw sedang bercanda dengannya. Candaan tersebut tetap benar, ringan, dan tidak mengandung kebohongan.

Kisah ini dimuat dalam buku Dan Rasul Pun Tersenyum yang diterbitkan oleh Salam Books pada 2017. Riwayat serupa juga disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Imam Ahmad.

Ketiga kisah di atas menunjukkan bahwa Rasulullah saw bukanlah sosok yang kaku. Beliau mampu mencairkan suasana melalui candaan yang santun, jujur, dan penuh hikmah. Humor beliau tidak pernah mengandung dusta, tidak merendahkan orang lain, serta tetap menjaga adab.

Di tengah budaya bercanda yang kerap berlebihan pada masa kini, teladan Rasulullah saw mengajarkan bahwa senyum dan tawa pun dapat menjadi bagian dari akhlak yang mulia. Humor yang baik bukan hanya mengundang tawa, melainkan juga menjaga kejujuran, menghormati sesama, dan mempererat ukhuwah. Itulah teladan yang dicontohkan Rasulullah saw dalam setiap candaannya.

 

Author: Rafi Hamdallah

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA