Ekonomi Kian Sulit, Islam Mengajarkan Hidup Hemat, Bukan Pelit

Ekonomi Kian Sulit, Islam Mengajarkan Hidup Hemat, Bukan Pelit


Risdawati
05/08/2026
15 VIEWS
SHARE

Di tengah kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan, banyak orang mulai lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan. Kenaikan harga sejumlah kebutuhan, perubahan kondisi ekonomi, hingga ketidakpastian di berbagai sektor membuat masyarakat dituntut lebih bijak dalam membelanjakan harta.

Tak sedikit yang kemudian memilih untuk mengurangi pengeluaran. Namun, ada pula yang justru menahan setiap pengeluaran karena khawatir kondisi keuangan semakin memburuk. Lantas, dalam situasi seperti ini, apakah Islam mengajarkan kita untuk hidup hemat atau justru menjadi pelit?

Hidup Hemat Bukan Berarti Pelit

Hidup hemat sering kali disalahartikan sebagai hidup pelit. Padahal, keduanya memiliki makna yang berbeda. Hemat adalah sikap menggunakan harta secara bijaksana sesuai kebutuhan dan kemampuan. Orang yang hidup hemat akan mendahulukan kebutuhan dibandingkan keinginan, menghindari pemborosan, serta memastikan setiap pengeluaran memberikan manfaat.

Sebaliknya, pelit adalah sikap enggan mengeluarkan harta, bahkan untuk kebutuhan yang semestinya dipenuhi atau hak yang harus ditunaikan. Sikap ini dapat membuat seseorang menahan pengeluaran secara berlebihan hingga merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Sebagai contoh, seseorang memiliki anggaran makan Rp50.000 per hari. Sikap hemat bukan berarti mengurangi porsi makan hingga mengganggu kesehatan, melainkan memilih makanan yang bergizi dengan harga yang sesuai kebutuhan. Sisa anggaran tersebut dapat disimpan sebagai tabungan, dana darurat, atau dialokasikan untuk kebutuhan lain yang lebih prioritas.

Dengan demikian, hidup hemat bukan berarti menahan semua pengeluaran, melainkan menggunakan rezeki secara bijaksana sesuai dengan kebutuhan dan skala prioritas.

Islam Mengajarkan Sikap Pertengahan

Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap seimbang dalam membelanjakan harta. Seorang muslim tidak dianjurkan menghamburkan rezeki, tetapi juga tidak dibenarkan bersikap kikir hingga mengabaikan hak diri sendiri maupun orang lain.

Allah Swt berfirman,

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak (pula) kikir. Di antara keduanya itulah jalan yang pertengahan.” (QS. Al-Furqan: 67).

Ayat ini menunjukkan bahwa cara terbaik dalam mengelola harta adalah berada di jalan tengah, yakni tidak berlebihan dalam membelanjakan harta dan tidak pula terlalu menahan diri.

Allah Swt juga berfirman, “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan, dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. Al-Isra: 26–27).

Kedua ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang muslim hendaknya menggunakan harta secara bertanggung jawab. Rezeki yang Allah titipkan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan, menjaga diri dan keluarga, serta ditunaikan hak-haknya, seperti zakat bagi yang telah memenuhi syarat, maupun infak, sedekah, dan wakaf sesuai kemampuan.

Cara Menerapkan Hidup Hemat

Hidup hemat bukan berarti hidup serba kekurangan. Sebaliknya, sikap ini membantu seseorang mengelola keuangan dengan lebih sehat dan terencana. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Menyusun anggaran bulanan agar pengeluaran lebih terkontrol.

2. Mendahulukan kebutuhan daripada keinginan.

3. Membandingkan harga dan kualitas barang sebelum membeli.

4. Menghindari pembelian impulsif yang didorong oleh diskon atau tren sesaat.

5. Menyisihkan sebagian penghasilan untuk tabungan dan dana darurat sesuai kemampuan.

6. Menghindari utang konsumtif yang dapat membebani kondisi keuangan.

7. Menunaikan zakat serta memperbanyak infak, sedekah, dan wakaf sebagai bentuk syukur atas rezeki yang Allah titipkan sekaligus membantu meringankan beban sesama.

Kondisi ekonomi yang tidak menentu memang menuntut kita untuk lebih bijaksana dalam mengelola keuangan. Namun, kehati-hatian bukan berarti menjadi pelit. Islam mengajarkan umatnya untuk hidup hemat, yaitu menggunakan harta secara proporsional, menghindari pemborosan, serta tidak menahan hak diri sendiri maupun hak orang lain.

Dengan demikian, harta yang dimiliki bukan sekadar untuk dinikmati, melainkan juga amanah yang harus dikelola dengan penuh tanggung jawab. Ketika digunakan secara bijaksana, setiap rezeki yang Allah titipkan tidak hanya membawa manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi jalan menghadirkan keberkahan bagi sesama.

 

Author: Rafi Hamdallah

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA