Sering Terpancing Emosi? Hati-Hati Mudah Diadu Domba

Sering Terpancing Emosi? Hati-Hati Mudah Diadu Domba


Nurul Aisyah
11/02/2026
18 VIEWS
SHARE

Di tengah sulitnya mencari pekerjaan dan kerasnya persaingan hidup, tidak sedikit orang berada dalam posisi yang rentan. Ketika kebutuhan mendesak sementara kesempatan terasa sempit, tawaran apa pun yang menjanjikan pemasukan cepat bisa tampak begitu menggiurkan. Dalam situasi seperti ini, prinsip sering kali diuji tanpa disadari. Apa yang awalnya dianggap sekadar pekerjaan biasa perlahan dapat berubah menjadi peran yang membawa dampak buruk bagi banyak orang.

Ada kisah tentang seseorang yang menerima pekerjaan mengelola akun media sosial, memotong video secara provokatif, lalu menulis keterangan yang sengaja dibuat menggantung untuk memancing perdebatan. Fenomena ini menunjukkan satu realitas yang patut direnungkan bahwa kemarahan telah menjadi komoditas. Konten yang memicu emosi dan memperkeruh suasana justru lebih cepat menyebar. Kolom komentar yang dipenuhi perdebatan panas dianggap sebagai tanda keberhasilan. Tingginya interaksi diterjemahkan sebagai performa yang baik, sementara di balik itu ada pihak yang diuntungkan secara materi dan masyarakat menanggung dampaknya secara sosial.

Dalam ajaran Islam, tindakan seperti ini bukan sekadar persoalan etika digital, tetapi menyangkut akhlak dan tanggung jawab moral. Allah Swt berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kalian menyesal atas perbuatan itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini menegaskan pentingnya klarifikasi dan kehati-hatian dalam menerima serta menyebarkan informasi. Memotong konteks, menggiring opini, atau sengaja membuat pesan ambigu agar orang lain saling menyerang jelas bertentangan dengan perintah tersebut. Keuntungan yang dibangun di atas kebingungan dan permusuhan bukanlah jalan yang dibenarkan dalam Islam.

Rasulullah saw juga bersabda:

“Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ukuran seorang muslim tidak hanya terlihat dari ibadah ritualnya, tetapi dari dampak keberadaannya bagi orang lain. Jika dari lisannya lahir kata-kata yang memprovokasi dan memecah belah, maka ia telah menghilangkan nilai keselamatan yang seharusnya dijaga. Di era media sosial, lisan bukan hanya ucapan, melainkan juga tulisan, caption, unggahan, dan potongan video yang disebarkan kepada publik.

Orang yang sering terpancing emosi memang mudah dimanfaatkan. Amarah yang tidak terkendali membuat seseorang cepat bereaksi tanpa berpikir panjang. Islam justru mengajarkan bahwa kekuatan sejati terletak pada kemampuan mengendalikan diri. Rasulullah saw pernah menasihati seorang sahabat dengan pesan singkat yang diulang beberapa kali: “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Nasihat ini bukan sekadar ajakan moral, tetapi peringatan agar seorang muslim tidak menjadi alat dalam permainan yang merugikan banyak pihak.

Menerima pekerjaan yang secara sadar bertujuan mengadu domba juga menuntut perenungan mendalam. Rezeki dalam Islam tidak hanya dinilai dari jumlahnya, tetapi dari keberkahannya. Harta yang diperoleh dengan cara memperkeruh hubungan antarmanusia dan menebar permusuhan berisiko kehilangan keberkahan serta menjadi sebab pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Islam mendorong umatnya menjadi pembawa kedamaian, bukan pemicu konflik. Dalam kehidupan sehari-hari, hal ini berarti menahan diri dari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, tidak ikut terpancing dalam perdebatan yang tidak produktif, serta tidak menjadikan kemarahan publik sebagai ladang keuntungan pribadi. Sikap tenang dan bijak justru menjadi benteng agar tidak mudah diadu domba.

Setiap orang dihadapkan pada pilihan, apakah ingin menjadi bagian dari lingkaran yang memperkeruh suasana atau menjadi penenang di tengah keruhnya keadaan. Di tengah tekanan ekonomi dan kebutuhan hidup, prinsip tetap harus dijaga. Kehormatan diri, ketenangan hati, dan keselamatan orang lain jauh lebih berharga daripada keuntungan yang lahir dari perpecahan.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA