Capek Selalu Bilang Iya? People Pleaser dan Batas Diri dalam Islam

Capek Selalu Bilang Iya? People Pleaser dan Batas Diri dalam Islam


Risdawati
09/02/2026
12 VIEWS
SHARE

“Selalu bilang iya, meski hati capek. Takut mengecewakan orang, tapi lupa menjaga diri sendiri.”

Menjalani kehidupan di zaman sekarang memang tidak mudah. Menjadi orang jahat jelas keliru, tetapi menjadi orang yang terlalu baik pun kerap berujung pada luka yang tak terlihat. Dalam keseharian, kita sering terjebak dalam dorongan untuk menyenangkan orang lain, bahkan ketika itu harus mengorbankan perasaan, batas diri, dan kejujuran hati sendiri.

Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai people pleasing. Dalam konteks ini, kebaikan tidak lagi lahir dari kesadaran dan keikhlasan, melainkan dari rasa takut akan penolakan. Erich Fromm, dalam karyanya yang berjudul The Art of Loving, menyebutkan bahwa kecenderungan tersebut sebagai bentuk masokisme, yaitu ketika seseorang rela menekan kehendak dirinya sendiri demi memenuhi kebutuhan dan kesenangan orang lain. Psikologi modern juga mengenalnya sebagai fawn response, yakni respons trauma berupa kepatuhan dan penghindaran konflik demi menjaga rasa aman secara emosional.

Jika psikologi memandang people pleasing sebagai mekanisme bertahan, Islam melihatnya sebagai persoalan orientasi dan keseimbangan. Menjaga hubungan dengan sesama merupakan bagian dari akhlak, tetapi tidak dengan cara mengorbankan kebenaran dan kejujuran hati. Orientasi hidup seorang Muslim bukanlah semata mencari penerimaan atau validasi manusia, apalagi hingga memaksakan diri demi disukai. Al-Qur’an menegaskan bahwa tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah Swt semata. (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Namun, Islam tidak berhenti pada perintah beribadah secara lahiriah. Ibadah sejati menuntut sikap batin yang lurus. Al-Qur’an menegaskan bahwa ketaatan kepada Allah Swt harus dilandasi keikhlasan beragama dengan kesadaran penuh, tanpa digerakkan oleh dorongan untuk dipuji, disukai, atau diterima manusia. Keikhlasan inilah yang menjaga ibadah, dan juga kebaikan sosial, tetap berada pada jalurnya, tidak berubah menjadi upaya mencari validasi.

Dalam ajaran Islam, keseimbangan menjadi prinsip utama. Seorang Muslim diajarkan untuk berkata benar meski tidak selalu menyenangkan, menolak dengan adab tanpa harus diliputi rasa bersalah, serta menjaga amanah, termasuk amanah terhadap diri sendiri. Rasulullah saw mencontohkan ketegasan yang dibalut akhlak mulia, lembut tanpa kehilangan prinsip, tegas tanpa menyakiti. Dari sini, menjaga batas diri tidak dipahami sebagai egoisme, melainkan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.

People pleasing kerap membuat seseorang sulit berkata tidak, bahkan pada hal-hal yang melampaui kemampuannya. Padahal Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan. Memaksakan diri demi memenuhi ekspektasi orang lain bukan hanya berpotensi melukai kesehatan mental, melainkan juga dapat menumbuhkan kelelahan spiritual. Ibadah terasa berat, hati kehilangan kelapangan, dan relasi sosial dijalani dengan keterpaksaan, bukan ketulusan.

Menjaga batas diri, dalam perspektif Islam, berarti menata ulang orientasi hidup, dari mencari rida manusia menuju mencari rida Allah Swt. Ketika orientasi ini jelas, seseorang tetap dapat berbuat baik tanpa mengorbankan diri, tetap peduli tanpa kehilangan arah, dan tetap hadir bagi orang lain tanpa mengabaikan kebutuhan batinnya sendiri. Batas bukanlah tembok pemisah, melainkan penanda agar kebaikan tumbuh secara sehat dan berkelanjutan.

Pada akhirnya, berhenti selalu mengatakan “iya” bukan berarti berhenti menjadi baik. Justru di sanalah kebaikan menemukan bentuknya yang lebih jujur dan bermakna. Islam mengajarkan bahwa kebaikan sejati lahir dari kesadaran, bukan keterpaksaan, dari keikhlasan, bukan ketakutan. Dengan memahami dan menjaga batas diri, seorang Muslim tidak hanya merawat hubungannya dengan sesama, tetapi juga memelihara hubungan yang utuh dengan Allah Swt dan dirinya sendiri.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA