Bagi banyak orang, sedekah bukan soal niat, melainkan soal keberanian. Niat sudah ada, tetapi tangan kerap tertahan oleh pikiran: "bagaimana kalau nanti kurang?" "bagaimana kalau kebutuhan mendesak?" Kekhawatiran ini membuat sedekah terasa seperti beban, bukan kebahagiaan. Kita menunda, menunggu cukup, menunggu aman, padahal rasa cukup itu sering kali tak pernah benar-benar datang.
Islam memahami kelemahan manusia ini. Namun, Islam juga menawarkan teladan tentang bagaimana mengalahkan rasa takut akan kehilangan. Teladan itu hadir dalam diri Rasulullah saw, sosok yang menjadikan sedekah sebagai kebiasaan hidup, bukan sekadar amal sesekali.
Rasulullah saw memberi bukan karena beliau selalu berlebih, melainkan karena keyakinannya yang utuh kepada Allah Swt. Imam Ibnu Qayyim menggambarkan bahwa tidak ada seorang pun yang meminta kepada Rasulullah saw kecuali beliau memberinya, baik sedikit maupun banyak, tanpa rasa takut akan kemiskinan. Memberi dan bersedekah adalah amalan yang paling beliau cintai. Bahkan, kebahagiaan beliau saat memberi melebihi kebahagiaan orang yang menerima. Kedermawanan beliau mengalir seperti angin yang membawa kebaikan ke mana pun ia berhembus.
Sikap ini bukanlah kemurahan hati tanpa dasar. Kebiasaan sedekah Rasulullah saw berakar dari keyakinan yang kokoh terhadap janji Allah Swt. Keyakinan yang menempatkan keberkahan di atas rasa takut, dan keimanan di atas perhitungan duniawi.
Al-Qur’an menegaskan bahwa sedekah tidak mengurangi harta, justru melipatgandakan keberkahannya. Dalam surah Al-Baqarah ayat 261–262, Allah Swt menjanjikan balasan berlipat bagi orang-orang yang menginfakkan hartanya dengan ikhlas, tanpa menyakiti perasaan penerima. Dalam surah Saba’ ayat 39, Allah Swt menegaskan bahwa apa pun yang diinfakkan akan diganti oleh-Nya. Bahkan, surah Al-Hasyr ayat 9 memuji mereka yang mampu mengalahkan kekikiran dan mengutamakan orang lain meski diri sendiri membutuhkan.
Dari sini menjadi jelas bahwa sedekah bukan sekadar perintah, melainkan jalan pembebasan jiwa. Ia membebaskan hati dari ketakutan akan kekurangan dan mengajarkan kepercayaan penuh kepada Allah Swt.
Meneladani kebiasaan sedekah Rasulullah saw tidak menuntut kita untuk selalu memberi dalam jumlah besar. Ia menuntut keberanian untuk memulai, keikhlasan dalam memberi, dan kepercayaan bahwa apa yang kita lepaskan di jalan Allah tidak pernah benar-benar hilang. Barangkali harta berpindah tangan, tetapi ketenangan, keberkahan, dan kekuatan iman justru menetap di hati.