Ketika Prasangka Mengalahkan Nurani

Ketika Prasangka Mengalahkan Nurani


Nurul Aisyah
03/02/2026
12 VIEWS
SHARE

Di era digital yang serba cepat, arus informasi bergerak tanpa henti dan sering kali diterima masyarakat secara mentah. Potongan video, gambar, atau narasi singkat dengan mudah membentuk opini publik tanpa proses pemahaman yang utuh. Banyak orang menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak di layar, tanpa mempertimbangkan konteks, latar belakang, maupun dampak yang akan ditimbulkan. Padahal di balik sebuah unggahan yang viral, ada kehidupan seseorang yang bisa terdampak secara sosial, psikologis, bahkan ekonomi.

Tidak sedikit masyarakat kecil yang harus menanggung kerugian besar akibat prasangka dan tuduhan yang belum tentu benar. Reputasi yang dibangun melalui kerja keras dan kejujuran selama bertahun-tahun dapat runtuh dalam waktu singkat ketika opini negatif menyebar luas di media sosial. Bahkan ketika kebenaran akhirnya terungkap, dampak sosial dan tekanan batin yang terlanjur terjadi sering kali tidak mudah dipulihkan, terutama bagi mereka yang tidak memiliki ruang dan kekuatan untuk membela diri di hadapan publik.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana praktik penghakiman massal di ruang digital semakin menguat. Penilaian dilakukan secara kolektif tanpa proses klarifikasi, tanpa ruang dialog, dan tanpa empati terhadap pihak yang disudutkan. Sesuatu yang bermula dari kecurigaan perlahan berubah menjadi hujatan yang terus berulang dan dibenarkan oleh banyaknya suara yang ikut menyebarkan, padahal kebenaran belum tentu berpihak pada narasi yang ramai diperbincangkan.

Islam sejak awal telah memberikan pedoman yang sangat jelas dalam menyikapi informasi dan menjaga hubungan antarmanusia. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak menimpakan suatu keburukan kepada suatu kaum karena kecerobohan, yang akhirnya membuatmu menyesali perbuatan itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat ini menegaskan bahwa kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi merupakan bagian dari tanggung jawab keimanan dan akhlak sosial seorang Muslim.

Selain itu, Rasulullah saw juga memberikan teladan dalam menjaga sikap dan ucapan agar tidak melukai sesama. Rasulullah saw bersabda:

“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Muslim).

Hadis ini mengingatkan bahwa prasangka tanpa dasar yang jelas bukan hanya berpotensi merugikan orang lain, tetapi juga merusak kebersihan hati dan akhlak pelakunya, terlebih ketika prasangka tersebut disebarkan dan menjadi konsumsi publik.

Di tengah perkembangan media sosial, ghibah dan fitnah tidak lagi terbatas pada ucapan lisan, melainkan menjelma dalam komentar, unggahan ulang, dan narasi yang menyudutkan. Setiap tindakan tersebut membawa konsekuensi moral yang besar, karena dampaknya dapat merusak kehormatan, mata pencaharian, dan ketenangan hidup seseorang yang mungkin sama sekali tidak bersalah dalam persoalan yang diperdebatkan.

Dengan ini menjadi pengingat penting bagi kita semua bahwa setiap informasi yang diterima membawa tanggung jawab yang tidak ringan. Menahan diri untuk tidak langsung bereaksi, bersikap kritis terhadap informasi yang diterima, serta tidak tergesa-gesa menyebarkan kabar yang belum jelas merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim yang menjunjung tinggi nilai keadilan dan kasih sayang.

Media sosial sejatinya dapat menjadi sarana untuk menebar kebaikan dan memperkuat empati sosial jika digunakan dengan bijak. Dengan menjaga lisan dan jari-jemari, kita tidak hanya melindungi kehormatan sesama, tetapi juga ikut menjaga nilai keadilan, persaudaraan, dan tanggung jawab sosial yang menjadi inti dari ajaran Islam.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA