Sumpah Itu Bukan Canda dalam Islam

Sumpah Itu Bukan Canda dalam Islam


Risdawati
29/01/2026
15 VIEWS
SHARE

“Sumpah demi apa pun!”, “Sumpah demi semesta!”, “Sumpah demi Rasulullah!”

Ungkapan-ungkapan ini terasa akrab di telinga. Ia sering diucapkan spontan, dianggap ringan, bahkan sering dipakai hanya untuk meyakinkan lawan bicara. Tanpa sadar, lisan kita kerap melontarkannya tanpa berpikir panjang. Namun, ini bukan sekadar gaya bahasa atau ungkapan populer yang sedang tren. Pertanyaannya, apakah sumpah seperti itu dibenarkan dalam Islam?

Dalam Islam, sumpah bukanlah perkara sepele. Ia bukan sekadar penguat ucapan atau hiasan bahasa, melainkan bentuk pengagungan. Karena itu, setiap sumpah membawa konsekuensi akidah yang serius. Menjadikan selain Allah Swt sebagai sandaran sumpah berarti menempatkan sesuatu pada posisi yang seharusnya hanya milik Allah. Perbuatan ini termasuk dalam kategori kesyirikan.

Allah Swt berfirman:

“… Janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 22).

Ayat ini menjadi peringatan tegas bahwa memosisikan makhluk apa pun bentuknya sebagai tandingan bagi Allah, termasuk dalam perkara sumpah, adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam.

Memang Allah Swt diperbolehkan bersumpah dengan menyebut makhluk-Nya, sebagai bagian dari kehendak dan kekuasaan-Nya. Namun makhluk tidak boleh bersumpah kecuali dengan menyebut nama Allah Swt, dalam keadaan apa pun. Larangan ini mencakup sumpah atas nama nabi, rasul, wali, malaikat, Ka’bah, maupun selainnya (I’anatul Mustafid, 2: 161).

Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa bersumpah kepada selain Allah, sungguh dia telah melakukan kesyirikan.” (HR. Abu Dawud)

Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhuma bahkan pernah menyatakan bahwa bersumpah dengan nama Allah meskipun disertai kebohongan lebih ia khawatirkan daripada bersumpah kepada selain Allah meskipun isinya benar. Pernyataan ini menunjukkan betapa beratnya dosa bersumpah kepada selain Allah meskipun isi sumpah tersebut benar.

Menjelaskan hal tersebut, Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan bahwa sumpah dengan menyebut nama Allah tetap mengandung unsur tauhid, walaupun di dalamnya terdapat kedustaan. Sebaliknya, sumpah dengan selain nama Allah meskipun isinya benar tetap mengandung kesyirikan. Ini menegaskan bahwa keburukan syirik jauh lebih besar dibandingkan dosa dusta, karena nilai tauhid lebih agung daripada sekadar kejujuran (I’anatul Mustafid, 2: 162).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa menjaga lisan adalah bagian dari menjaga iman. Sumpah bukan sekadar rangkaian kata, melainkan cerminan siapa yang kita agungkan dalam hati. Ketika seorang Muslim berhati-hati dalam bersumpah, sejatinya ia sedang menjaga kemurnian tauhidnya.

Karena itu, sebelum lisan tergelincir dalam ucapan yang dianggap ringan, ada baiknya kita berhenti sejenak dan mengingat, tidak semua yang terdengar biasa itu dibenarkan. Dalam Islam, kejujuran tidak memerlukan sumpah yang berlebihan, dan keyakinan kepada Allah Swt tidak butuh sandaran selain-Nya.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA