Sikap Tidak Mengganggu Termasuk Sedekah

Sikap Tidak Mengganggu Termasuk Sedekah


Nurul Aisyah
02/02/2026
17 VIEWS
SHARE

Selama ini, sedekah sering dipersempit maknanya hanya pada sesuatu yang bisa dilihat, disentuh, dan dihitung. Ia dipahami sebagai uang yang diberikan, makanan yang dibagikan, atau bantuan fisik yang disalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Cara pandang ini memang tidak salah, namun terlalu sempit untuk menggambarkan keluasan ajaran Islam. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak bentuk kebaikan yang tidak berwujud materi, namun dampaknya justru jauh lebih dalam dan lebih lama terasa.

Dalam interaksi antarmanusia, sering kali yang melukai bukanlah tindakan besar, melainkan sikap kecil yang diabaikan. Ucapan yang dilontarkan tanpa empati, nada bicara yang merendahkan, emosi yang dilepaskan tanpa kendali, atau perilaku yang membuat orang lain merasa terganggu dan tidak dihargai. Hal-hal semacam ini mungkin terlihat sepele, namun jika terus berulang, ia perlahan menggerogoti hubungan, menumbuhkan jarak, dan meninggalkan luka yang tidak selalu bisa segera sembuh.

Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana berbuat baik, tetapi juga bagaimana menahan diri agar tidak berbuat buruk. Bahkan, sikap menahan diri dari keburukan itu sendiri dinilai sebagai amal kebaikan. Rasulullah saw memberikan penegasan yang sangat kuat dalam sabdanya:

“Tahanlah dirimu, jangan sampai berbuat buruk kepada manusia. Sesungguhnya itu adalah sedekah darimu untuk dirimu sendiri.” (HR. Muslim)

Hadis ini menghadirkan sudut pandang yang sangat menenangkan sekaligus mendalam. Ia mengajarkan bahwa menahan diri bukan sekadar soal sopan santun atau etika sosial, melainkan ibadah yang bernilai sedekah. Menariknya, Rasulullah saw menyebutkan bahwa sedekah ini bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk diri kita sendiri. Artinya, ketika seseorang memilih untuk tidak menyakiti, tidak mengganggu, dan tidak merugikan orang lain, ia sedang menjaga keselamatan batinnya sendiri.

Menahan diri dari berbuat buruk bukanlah perkara mudah. Dalam banyak situasi, dorongan untuk bereaksi justru terasa sangat kuat, entah karena emosi, rasa tersinggung, kelelahan, atau luka yang belum selesai. Namun, di situlah nilai sedekah ini menjadi tinggi. Ia menuntut kesadaran, kedewasaan, dan kekuatan batin untuk memilih diam saat bisa melukai, memilih sabar saat bisa membalas, dan memilih menenangkan diri saat ego ingin dimenangkan.

Sikap tidak mengganggu orang lain juga mencerminkan kepedulian yang sering kali luput disadari. Tidak semua orang membutuhkan bantuan materi kita, tetapi hampir semua orang membutuhkan rasa aman, dihargai, dan tidak disakiti. Ketika seseorang memilih untuk menjaga lisannya, mengendalikan sikapnya, dan tidak menjadi beban emosional bagi orang lain, ia sedang memberi ruang aman bagi sesamanya untuk bernapas dan merasa dihormati.

Keindahan dari sedekah jenis ini terletak pada kesederhanaannya. Ia tidak membutuhkan harta, tidak menunggu waktu tertentu, dan tidak bergantung pada pengakuan manusia. Siapa pun bisa melakukannya, kapan pun, dalam kondisi apa pun. Bahkan dalam keterbatasan, seseorang tetap bisa bersedekah dengan memilih untuk tidak menyakiti dan tidak menyulitkan orang lain.

Sikap tidak mengganggu melatih kepekaan batin bahwa kebaikan tidak selalu harus ditunjukkan atau dipamerkan. Ada kebaikan yang justru paling bernilai ketika tidak terlihat, tidak disebut, dan tidak diketahui siapa pun selain Allah. Dalam diam, dalam kesabaran, dan dalam pengendalian diri, seseorang sedang menanam kebaikan yang akarnya kuat dan buahnya panjang.

Sedekah bukan hanya tentang memberi sesuatu yang kita miliki, tetapi juga tentang menjaga diri agar tidak menjadi sumber luka bagi orang lain. Ketika seseorang mampu menahan diri dari berbuat buruk, ia sedang bersedekah setiap hari, menjaga harmoni sosial, menenangkan jiwanya sendiri, dan menghadirkan kebaikan yang sering kali tak terlihat, tetapi sangat dirasakan.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA