Belajar Bersyukur dari Rasa Kehilangan

Belajar Bersyukur dari Rasa Kehilangan


Nurul Aisyah
28/01/2026
22 VIEWS
SHARE

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap merasa sedih karena apa yang tidak dimiliki. Kekurangan sering kali menjadi sumber keluh kesah, seolah kebahagiaan hanya mungkin hadir jika semua keinginan terpenuhi. Padahal, perasaan kurang itu tidak selalu lahir dari kebutuhan yang benar-benar mendesak, melainkan dari cara pandang yang terlalu fokus pada apa yang belum ada, bukan pada apa yang telah dimiliki.

Sebuah hikmah klasik dari Sa'di Shirazi menggambarkan hal ini dengan sangat sederhana namun mendalam. Ia berkata, “Aku menangis karena tak memiliki sepatu, sampai aku bertemu seorang pria yang tak memiliki kaki.” Ungkapan ini bukan sekadar kalimat puitis, melainkan cermin bagi manusia agar mau berhenti sejenak dan melihat kehidupan secara lebih utuh. Kesedihan yang kita rasakan bisa jadi sangat kecil jika dibandingkan dengan ujian yang dialami orang lain.

Sering kali manusia terjebak dalam perbandingan yang keliru. Kita membandingkan hidup dengan mereka yang berada di atas, bukan dengan mereka yang sedang berjuang di bawah. Akibatnya, rasa syukur semakin menipis dan keluhan terasa wajar. Padahal, di luar sana banyak orang yang tidak hanya kekurangan kenyamanan, tetapi juga kehilangan hal-hal mendasar yang selama ini kita anggap biasa.

Rasulullah saw. mengingatkan manusia agar tidak terjebak dalam perbandingan yang melelahkan jiwa. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian, dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan cara pandang yang menenangkan, bahwa rasa cukup sering kali lahir bukan dari penambahan, melainkan dari kesadaran.

Belajar bersyukur bukan berarti menafikan rasa sakit atau menutup mata dari kesulitan hidup. Bersyukur justru mengajarkan keseimbangan antara menerima kenyataan dan tetap berusaha memperbaiki keadaan. Dengan bersyukur, manusia tidak berhenti bergerak, tetapi melangkah dengan hati yang lebih lapang dan pikiran yang lebih jernih. Rasa syukur menumbuhkan kekuatan batin untuk menjalani hidup tanpa terus-menerus merasa kalah.

Rasa syukur memiliki peran besar dalam membentuk ketenangan jiwa. Orang yang bersyukur akan lebih mudah melihat hikmah di balik ujian, lebih sabar dalam kekurangan, dan lebih rendah hati dalam kelapangan. Hidup pun tidak lagi diukur dari seberapa banyak yang dimiliki, melainkan dari seberapa bermakna apa yang dijalani.

Kisah dan hikmah semacam ini mengingatkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari penambahan, tetapi sering kali lahir dari kesadaran. Ketika manusia mampu mengubah sudut pandang, rasa cukup akan tumbuh, dan keluhan perlahan berganti menjadi keikhlasan. Dari situlah, hidup terasa lebih ringan, meski keadaan belum sepenuhnya berubah.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA