Kisah Ummu Sulaim dan Makna Sabar yang Sesungguhnya

Kisah Ummu Sulaim dan Makna Sabar yang Sesungguhnya


Risdawati
30/01/2026
14 VIEWS
SHARE

Islam tidak pernah kekurangan sosok inspiratif dan mulia yang kisah hidupnya terus bergema lintas zaman. Dari mereka, umat belajar bahwa iman bukan hanya tentang keyakinan di lisan, melainkan keteguhan hati saat diuji. Salah satu teladan agung itu adalah Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha, seorang perempuan yang memperlihatkan makna sabar dalam bentuk yang jernih dan paling dewasa.

Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha memiliki nama lengkap Ar-Rumaisha Ummu Sulaim binti Milhān bin Khālid bin Zaid bin Ḥarām al-Anshāriyyah al-Khazrajiyyah. Ia dikenal sebagai sahabat perempuan Rasulullah saw yang berkepribadian luhur, cerdas, teguh dalam iman, serta mulia akhlaknya. Kecantikannya tidak hanya tampak pada rupa, tetapi juga tercermin dalam kejernihan sikap dan keteguhan prinsip hidupnya.

Sebelum Islam datang, Ummu Sulaim menikah dengan Malik bin Nadhr dan dari pernikahan itu Allah Swt menganugerahkan seorang anak bernama Anas bin Malik, yang kelak dikenal sebagai sahabat Nabi saw dan perawi hadis terkemuka. Namun ketika Ummu Sulaim menerima Islam dengan penuh keyakinan, ujian besar dalam hidupnya pun dimulai. Malik bin Nadhr menentang keras keislamannya. Amarah dan penolakan itu membuatnya meninggalkan Ummu Sulaim beserta anak mereka.

Dalam keadaan ditinggalkan, Ummu Sulaim tidak goyah. Ia tetap memeluk Islam dengan penuh kesadaran, membesarkan Anas dalam iman, dan menanggung perpisahan tanpa keluh kesah. Tak lama kemudian, Malik bin Nadhr terbunuh. Ummu Sulaim pun menjalani hidup sebagai seorang janda yang kehilangan suami, namun tidak kehilangan arah hidupnya.

Kesabaran Ummu Sulaim bukanlah kesabaran yang pasif, melainkan kesabaran yang bersandar penuh kepada Allah Swt. Ia terus menjaga imannya dengan teguh. Hingga setelah masa iddahnya berakhir, datanglah Abu Thalhah melamar. Abu Thalhah dikenal sebagai lelaki terpandang, kaya raya, dan disegani di kalangan kaumnya. Namun bagi Ummu Sulaim, harta dan kedudukan bukanlah tolok ukur utama dalam menerima sebuah lamaran.

Dengan sikap lembut namun penuh keteguhan, Ummu Sulaim menyatakan bahwa dirinya tidak akan menikah kecuali dengan seorang Muslim. Pernyataan itu bukan sekadar syarat, melainkan cerminan prinsip hidup yang ia pegang erat. Setelah mendengar penjelasan Ummu Sulaim dan merenungi ajaran Islam, Abu Thalhah pun akhirnya memeluk Islam. Keislamannya itulah yang kemudian menjadi mahar pernikahan mereka, sebuah peristiwa penting yang menegaskan bahwa iman adalah fondasi utama dalam membangun kehidupan dan rumah tangga.

Namun, kehidupan setelah pernikahan tidak berarti tanpa ujian. Sebagaimana rumah tangga lainnya, Ummu Sulaim dan Abu Thalhah pun diuji dengan cobaan yang berat. Salah satu ujian terbesar datang ketika salah seorang anak mereka, Abu ‘Umair, jatuh sakit dan akhirnya wafat. Saat itu, Abu Thalhah sedang tidak berada di rumah. Ummu Sulaim merawat anaknya hingga hembusan napas terakhir, lalu menutup wafatnya Abu 'Umair dengan rapi. Ia bahkan melarang siapa pun menyampaikan kabar duka tersebut kepada suaminya sebelum ia sendiri yang mengatakannya. Ia menenangkan diri, bukan karena tidak merasakan duka, melainkan karena imannya mendahului gejolak emosinya.

Ketika Abu Thalhah pulang ke rumah, Ummu Sulaim menyambutnya dengan ketenangan. Ia menyiapkan makanan dan melayaninya sebagaimana biasa, hingga suasana dirasa cukup tenang. Barulah kemudian ia bertanya dengan bahasa yang lembut, “Bagaimana pendapatmu jika seseorang meminjamkan sesuatu, lalu suatu hari mengambil kembali titipannya?” Abu Thalhah menjawab, “Tentu kita harus merelakannya.” Saat itulah Ummu Sulaim berkata, “Jika demikian, bersabarlah, karena anakmu telah diambil kembali oleh Allah.”

Ucapan itu membuat Abu Thalhah terkejut, bahkan bercampur marah. Ia pun bergegas menemui Rasulullah saw dan mengadukan perbuatan istrinya tersebut. Namun Rasulullah saw justru bertanya kepadanya, “Apakah pada malam itu kalian sempat berhubungan?” Abu Thalhah menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah saw pun mendoakan Ummu Sulaim dan Abu Thalhah. Dari kesabaran itu, Allah menggantikan kehilangan mereka dengan keturunan yang diberkahi.

Dari rangkaian ujian itulah, tampak jelas bagaimana kesabaran Ummu Sulaim bukan sekadar sikap menahan diri, melainkan buah dari iman yang hidup dan sadar akan hakikat kepemilikan Allah Swt. Kisah ini tidak mengajarkan untuk mematikan rasa duka atau meniadakan kesedihan, tetapi mengajarkan bagaimana iman menuntun cara seseorang menyikapi kehilangan.

Dari Ummu Sulaim, kita belajar bahwa sabar bukan berarti tidak merasa sakit, melainkan memilih tetap lurus di hadapan Allah Swt saat hati sedang diuji. Ia mengajarkan bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya, dan bahwa setiap titipan yang Allah berikan sejatinya akan kembali kepada-Nya, pada waktu yang paling tepat, dengan hikmah yang paling adil dan penuh kasih.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA