Sering Begadang Sambil Ngopi Manis? Hati-Hati Gula Darah Naik

Sering Begadang Sambil Ngopi Manis? Hati-Hati Gula Darah Naik


Risdawati
11/02/2026
17 VIEWS
SHARE

Begadang merupakan bagian dari hidup anak muda. Kurangnya waktu istirahat yang ditambah dengan asupan gula berlebih kerap dianggap sepele karena usia masih muda. Kebiasaan ini menjadi permasalahan karena sangat sering terjadi dan merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam menurunnya kesehatan pada masyarakat. Tidur termasuk kebutuhan primer bagi kesehatan fisik maupun mental. Terdapat beberapa risiko yang akan dihadapi, jika tubuh kita kurang tidur, salah satunya adalah resiko terkena hipertensi.

Dikutip dari Aceh Nutrition Journal, Saat ini sedang tren konsumsi minuman manis kekinian yang populer di kalangan mahasiswa atau dikenal sebagai sugar-sweetened beverage (SSB) yang merupakan minuman ringan dalam kemasan yang menambahkan pemanis berkalori tinggi sebagai salah satu bahan dalam minuman. Asupan dari SSB yang tinggi (>50 g/hari) diketahui berhubungan postif dengan peningkatan lingkar pinggang, trigliserida dan Glukosa Darah Sewaktu (GDS).

Manfaat dari tidur adalah untuk mengistirahatkan tubuh, agar di hari esok tubuh terasa sehat dan bugar. Selain itu, tidur juga memiliki beberapa dampak positif yaitu memperbaiki sel rusak, meningkatkan daya ingat, mencegah penyakit, meningkatkan energi, dan mencegah stres. Oleh karena itu, setiap manusia harus mendapatkan hasil istirahat yang maksimal agar mendapatkan kualitas tidur yang baik

Risiko Kurang Tidur Terhadap Lonjakan Gula Darah

Kebiasaan begadang kerap terjadi di masyarakat, padahal begadang memiliki dampak yang sangat buruk. Dampak negatif dari begadang yaitu mengakibatkan tubuh mudah terserang penyakit serius. Pola tidur yang kurang baik juga kerap terjadi, contohnya bermain ponsel hingga larut malam, mengerjakan tugas yang memiliki tenggat waktu sangat singkat, dan dibarengi dengan meminum kopi yang mengandung kafein dan gula yang banyak. Kebiasaan ini tidak hanya mengganggu kualitas tidur, tetapi juga berisiko terhadap kematian.

Bahaya Tersembunyi dari Makan Malam

Orang yang mengalami night eating syndrome juga memiliki durasi tidur yang lebih pendek, dan sering menunda waktu sarapan dan makan malam. Saat seseorang mengonsumsi makanan di malam hari kadar glukosa, insulin, dan trigliserida meningkat secara signifikan, yang mengakibatkan berkurangnya sensitivitas insulin. Sehigga sangat disarankan untuk mengurangi makan terlalu malam guna mencegah sindrom metabolik dan komponennya.

Membatasi waktu makan (10–12 jam/hari) dan mengurangi asupan malam hari terbukti menurunkan berat badan serta memperbaiki parameter metabolik seperti resistensi leptin dan inflamasi. Mengatur jadwal makan dan kualitas tidur adalah kunci utama pencegahan masalah metabolik kronis.

Tips Meminimalkan Dampak Buruk Begadang

Agar begadang tidak merusak kestabilan gula darah, diperlukan pengaturan pola makan dan aktivitas yang tepat. Simak tips praktis berikut untuk meminimalkan risiko metabolik saat Anda harus terjaga:

1. Pilih Camilan Rendah Glikemik: Hindari karbohidrat olahan seperti camilan manis, keripik, biskuit, atau minuman bersoda. Pilihlah opsi yang menjaga gula darah tetap stabil, seperti kacang almond, telur rebus, Greek yogurt, atau keju.

2. Prioritaskan Protein dan Serat: Pastikan asupan tidak hanya bersumber dari karbohidrat. Kombinasikan dengan protein tinggi dan serat untuk memberikan rasa kenyang lebih lama dan menjaga keseimbangan metabolisme.

3. Hidrasi & Batasi Kafein: Pastikan tubuh cukup air putih untuk membantu ginjal membuang kelebihan gula darah. Batasi kafein guna menghindari stres tubuh dan lonjakan glukosa.

4. Kelola Stres: Ciptakan lingkungan yang tenang dan hindari kebisingan agar tubuh tetap rileks meski sedang terjaga.

5. Sarapan Rendah Karbohidrat: Setelah begadang, sensitivitas insulin biasanya menurun. Hindari sarapan tinggi karbohidrat (seperti nasi uduk atau bubur) untuk mencegah lonjakan gula darah di pagi hari.

6. Prioritaskan Tidur Pengganti: Segera atur waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan fungsi metabolisme dan sensitivitas insulin tubuh.

 

Autor: Anisa Khoirul Amanah

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA