Katanya Mau Disebut Orang Beriman, Apa Boleh Sebercanda Itu?

Katanya Mau Disebut Orang Beriman, Apa Boleh Sebercanda Itu?


Siti Adidah
13/09/2023

“Tuhan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, yang Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (Q.S Sad: 66).

Sebagai manusia biasa sekaligus diakui menjadi golongan orang-orang Islam, tentu sedikit banyaknya kita sudah mengetahui perihal sikap atau perbuatan yang boleh dilakukan atau tidak dalam Islam. Dan sebagai orang yang beragama Islam, kita percaya bahwa Allah Swt. adalah Sang Maha Pengampun. Akan tetapi, kadang-kadang kita menyepelekan sifat Allah yang satu itu.

“Nanti saja tobatnya kalau sudah tua.”

“Ya kalau berbuat tidak baik, gampang tinggal tobat sama Allah. Allah kan Maha Pengampun.”

Selain dua kalimat di atas, pernah tidak kita mendengar kalimat yang serupa? Pernyataan-pernyataan sebagian orang yang menyepelekan sifat Allah yang Maha Pengampun. Tidak sedikit orang yang berpikir demikian, berbuat kerusakan di muka bumi, berbuat maksiat dengan dalih “Allah kan Maha Pengampun”. Apa boleh sebercanda itu? Beriman itu adalah ketika kita menjauhi segala larangan dan menaati segala perintah-Nya. Bukan ketika kita tahu Allah Maha Pengampun, kita bebas melakukan keburukan dan bebas juga kapan harus bertobat.

Baca juga: Tiga Perkara Kecil yang Menghalangi Jalan ke Surga

Allah memang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, akan tetapi sifat itu untuk menunjukkan keagungan Allah, bukan untuk dijadikan alasan kita berbuat seenaknya di dunia.  Tuhan memiliki hak prerogatif terhadap hambanya, bagaimana jadinya ketika kita sedang melakukan keburukan kemudian Allah mencabut nyawa kita? Seharusnya usia yang tidak kita ketahui akan sampai kapan ini menjadikan timbulnya rasa waswas untuk berbuat keburukan, dan menjadikan timbulnya motivasi untuk terus berbuat kebaikan.

Manusia juga tidak boleh merasa berputus asa dari rahmat Allah karena rahmat Allah amatlah luas. Namun demikian, manusia tidak bisa semena-mena dengan aturan Allah. Orang-orang yang ketika melakukan keburukan kemudian bertobat dan mengulangi keburukannya lagi, itu tidak jauh dengan orang-orang munafik.

Allah Swt., mengatakan bahwa orang yang diterima tobatnya adalah dia yang berbuat maksiat dan tidak mengulangi hal serupa. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surah Ali-Imron ayat 135 dan 136.

Baca juga: Inilah Perkara yang Berpotensi Menghapus Pahala, Poin 3 Sering Terjadi, Kan!?

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.  Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Q.S Ali Imron: 135-136).

Sebagaimana firman Allah, orang beriman tidak akan melakukan suatu keburukan padahal dia mengetahui dan menyadari keburukan tersebut. Orang beriman juga tidak akan mempergunakan sifat “Maha Pengampun Allah” untuk berbuat kemaksiatan, sedangkan salah satu ciri orang beriman adalah menjauhkan diri dari perkara yang buruk. Katanya mau disebut orang beriman, tapi tidak mencerminkan bahwa dirinya adalah orang beriman. Apa boleh sebercanda itu? Ya tidak boleh.

BACA JUGA