Menjaga Rawatib Zuhur, Menjaga Diri dari Api Neraka

Menjaga Rawatib Zuhur, Menjaga Diri dari Api Neraka


Risdawati
04/06/2026
23 VIEWS
SHARE

Banyak orang berlomba mengerjakan amalan besar demi meraih pahala yang berlimpah. Padahal, ada amalan sederhana yang hanya membutuhkan beberapa menit, tetapi memiliki keutamaan luar biasa, yaitu salat sunah rawatib Zuhur.

Rasulullah saw mengabarkan bahwa orang yang menjaga salat sunah ini akan mendapatkan perlindungan dari api neraka. Sayangnya, amalan yang ringan dan mudah dilakukan ini sering kali terlewatkan. Padahal, beberapa rakaat yang dikerjakan secara istikamah dapat menjadi bekal berharga dan salah satu sebab datangnya rahmat Allah Swt di akhirat kelak.

Dari Ummu Habibah radhiyallahu 'anha ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Siapa saja yang rutin menunaikan empat rakaat sebelum salat Zuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkan api neraka baginya.’” (HR. Tirmidzi no. 428 dan Ibnu Majah no. 1160, dinyatakan sahih oleh Albani).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Empat rakaat sebelum Zuhur memiliki keutamaan yang setara dengan salat pada waktu sahar (menjelang fajar).” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya (2/15/2), dinilai sahih oleh Syekh Albani dalam Silsilah Ahadits ash-Shahihah no. 1431).

Hadis-hadis tersebut menunjukkan bahwa salat rawatib Zuhur bukanlah amalan yang boleh dianggap sepele. Di balik beberapa rakaat yang dikerjakan sebelum dan sesudah salat Zuhur, terdapat keutamaan yang besar, termasuk janji perlindungan dari api neraka bagi mereka yang menjaganya dengan istikamah.

Selain itu, salat rawatib juga menjadi salah satu amalan yang dapat menyempurnakan kekurangan dalam salat wajib. Tidak sedikit orang yang mungkin lalai, kurang khusyuk, atau melakukan kesalahan yang mengurangi kesempurnaan salatnya. Dalam kondisi seperti itu, salat-salat sunah menjadi pelengkap yang menutupi kekurangan tersebut atas izin Allah Swt.

Karena itu, para ulama menganjurkan agar seorang Muslim menjaga salat rawatib dan tidak meremehkannya. Terlebih, rawatib Zuhur termasuk amalan yang relatif mudah dilakukan. Waktunya berada di tengah aktivitas harian, saat banyak orang sedang bekerja, belajar, atau menjalankan berbagai urusan. Justru di tengah kesibukan itulah salat rawatib menjadi bukti kesungguhan seorang hamba dalam menjaga hubungannya dengan Allah Swt.

Memang, menjaga konsistensi tidak selalu mudah. Ada kalanya seseorang terburu-buru, lelah, atau merasa tidak memiliki cukup waktu. Namun, jika dipikirkan kembali, empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat sesudahnya hanya membutuhkan beberapa menit. Dibandingkan dengan keutamaan yang dijanjikan, waktu yang kita luangkan terasa sangat sedikit.

Membiasakan rawatib Zuhur juga tidak harus dimulai dengan target yang berat. Yang terpenting adalah berusaha menjaga amalan ini secara bertahap dan terus-menerus. Sebab, amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit.

Karena itulah, jangan meremehkan amalan yang terlihat sederhana. Rawatib Zuhur mungkin hanya terdiri dari beberapa rakaat yang dikerjakan di sela-sela aktivitas harian, tetapi keutamaannya begitu besar di sisi Allah Swt. Apa yang tampak kecil di mata manusia bisa saja menjadi amalan yang paling berarti ketika kelak seseorang menghadap-Nya.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA