Kisah Rasulullah dan Anak Yatim yang Lusuh

Kisah Rasulullah dan Anak Yatim yang Lusuh


Siti Adidah
18/07/2023

Menjadi yatim bukan sebuah pilihan, itu sudah menjadi takdir Allah. Ketika anak-anak di luar sana masih bisa bermain dengan ayahnya, ada seorang anak yang tersiksa rindu terhadap orang tuanya yang telah wafat. Namun demikian, Allah sangat memuliakan anak-anak yatim, dan anak yatim adalah sosok yang harus dicintai dan dibahagiakan. Seperti kisah Rasulullah yang bertemu anak yatim di hari raya Idulfitri.

Idulfitri adalah momentum untuk bergembira dan berkumpul bersama keluarga. Menikmati hidangan khas hari raya dan mengenakan pakaian-pakaian terbaiknya. Di tengah keriangan anak-anak kecil bermain, ada seorang anak kecil yang ditekuk wajahnya dan termenung di salah satu sudut kota Madinah. Agak jauh dari mereka, tampak seorang anak sedang menangis dan bersedih hati. Seorang lelaki melihat pemandangan itu dengan seksama dan mendekati anak tersebut. Lelaki itu bertanya, “Wahai Ananda, mengapa engkau tidak bermain seperti teman-temanmu itu?” Dengan berurai air mata, si anak menjawab, “Wahai Tuan, saya sangat sedih. Teman-teman saya gembira memakai pakaian baru dan saya tak punya siapa-siapa untuk membelikan pakaian baru.”

Baca juga: Sebentar Lagi Lebaran Yatim, Yuk Bikin Mereka Bahagia!

Lelaki itu kembali bertanya, “Di mana orang tuamu?” anak kecil ini mengatakan bahwa ayahnya telah syahid karena ikut berperang bersama Rasulullah saw., sedangkan ibunya menikah lagi. Namun, semua harta ayahnya dibawa dan anak kecil itu diusir oleh ayah tirinya. Lelaki itu pun kemudian memeluk dan membelainya, “Wahai Ananda, maukah engkau jika saya menjadi ayahmu, ‘Aisyah sebagai ibumu, dan Fatimah menjadi saudaramu?”

Anak kecil itu terkejut dan baru menyadari bahwa lelaki tersebut adalah Rasulullah saw., Dia tampak bergembira. Rasulullah kemudian mengajaknya ke rumah dan memberikan pakaian yang layak untuknya. Beberapa saat kemudian, si anak kembali menemui teman-temannnya dengan wajah bahagia dan tampak mengenakan pakaian yang baru. Menyaksikan itu, teman sebayanya heran. Si anak berkata, “Kemarin aku lapar, haus, dan yatim. Tetapi, sekarang aku bahagia karena Rasulullah menjadi ayahku, ‘Aisyah ibuku, Ali pamanku, dan Fatimah saudariku. Bagaimana aku tak bahagia?” kini, giliran teman-temannya yang bersedih. Mereka ingin seperti si anak yang beruntung itu.

Setelah beberapa tahun kemudian, Rasulullah saw. wafat, anak kecil itu menangis dan bersimpuh di atas pusara Rasulullah. Anak itu berkata, “Ya Allah, hari ini aku menjadi yatim yang sebenarnya. Ayahku yang sangat mencintaiku sudah tiada.  Apakah aku harus hidup sebatang kara lagi?” 

Baca juga: Bolehkah Berzakat untuk Anak Yatim?

Tak jauh dari sana, sahabat Rasulullah saw. Abu Bakar lewat. Sosok khalifah pertama itu lantas menghampirinya dan berkata, “Akulah yang akan menjadi pengganti ayahmu yang sudah tiada.” Mendengar perkataan Abu Bakar, anak kecil itu sangat bahagia.

Kisah ini memberikan pelajaran bahwa mengasihi dan menyayangi anak yatim adalah tanggung jawab setiap muslim. Sebagaimana akhlak Rasulullah yang sangat baik terhadap anak yatim. Allah Swt., juga memuliakan setiap umat muslim yang peduli terhadap anak-anak yatim. Orang yang mengasihi dan membahagiakan hati anak yatim tempatnya adalah surga dan dekat dengan Rasulullah ibarat dua jari tangan. Rasulullah melarang orang-orang yang menelantarkan anak yatim. Al-Qur’an tegas mengatakan dalam surah Al-Ma’un bahwa barang siapa yang menghardik anak yatim adalah ia yang mendustakan agama.

BACA JUGA