Hari Pemberontakan PETA: Sejarah Perlawanan dan Refleksi Generasi Kini

Hari Pemberontakan PETA: Sejarah Perlawanan dan Refleksi Generasi Kini


Nurul Aisyah
14/02/2026
22 VIEWS
SHARE

Hari Pemberontakan PETA diperingati setiap 14 Februari sebagai penanda salah satu bab penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Pada hari itu, tahun 1945, pasukan Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar bangkit melawan tentara Jepang. Peristiwa ini bukan sekadar catatan tentang gerakan militer, melainkan tentang keberanian moral sekelompok pemuda yang tak lagi sanggup menyaksikan penindasan dan penderitaan rakyatnya. Di tengah tekanan dan risiko hukuman berat, mereka memilih melawan, meski peluang kemenangan sangat kecil.

PETA sendiri dibentuk pada 3 Oktober 1943 oleh pemerintah pendudukan Jepang untuk membantu pertahanan menghadapi Sekutu. Namun, pelatihan militer yang diberikan justru menumbuhkan kesadaran kebangsaan yang semakin kuat. Para pemuda yang dididik dalam barisan militer itu perlahan menyadari bahwa kekuatan sejati bukan hanya pada senjata, tetapi pada keyakinan akan hak sebuah bangsa untuk merdeka. Pemberontakan yang dipimpin Supriyadi di Blitar menjadi puncak dari kesadaran kolektif tersebut.

Secara militer, perlawanan itu memang berhasil dipadamkan. Banyak prajurit ditangkap, diadili, dan dijatuhi hukuman berat. Akan tetapi, secara moral dan historis, peristiwa ini meninggalkan jejak yang dalam. Kepercayaan terhadap kekuasaan Jepang mulai runtuh, dan semangat kemerdekaan semakin menyala di berbagai daerah. Dari pengalaman itulah tumbuh embrio kekuatan pertahanan nasional yang kelak berkembang menjadi Badan Keamanan Rakyat dan kemudian Tentara Nasional Indonesia.

Sejarah perlawanan ini menyisakan pertanyaan penting bagi generasi kini: bagaimana semangat itu dimaknai dalam konteks Indonesia hari ini? Tantangan yang dihadapi bangsa tidak lagi berbentuk penjajahan fisik, melainkan persoalan integritas, kepedulian sosial, persatuan, serta ketahanan moral di tengah arus informasi dan kepentingan yang kian kompleks. Refleksi atas Hari Pemberontakan PETA mengajak kita melihat kembali makna keberanian, bahwa membela tanah air tidak selalu berarti mengangkat senjata, melainkan juga menjaga nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, memperingati Hari Pemberontakan PETA bukan sekadar mengenang peristiwa masa lalu, melainkan merawat kesadaran kolektif bahwa kemerdekaan lahir dari keberanian dan pengorbanan para pendahulu. Refleksi generasi kini terletak pada kemampuan menjaga warisan moral tersebut agar tetap hidup dalam sikap, keputusan, dan tindakan. Sejarah telah menunjukkan bahwa semangat perlawanan dapat tumbuh dari kesadaran kecil yang dipelihara bersama. Kini, tugas kita adalah memastikan semangat itu tidak padam di tengah perjalanan bangsa menuju masa depan.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA