Tanggal 11 Februari setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Internasional Perempuan dan Anak Perempuan dalam Sains. Momentum ini bukan sekadar agenda seremonial global, melainkan pengingat penting bahwa dunia sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) masih menyimpan kesenjangan gender yang nyata. Di tengah laju pesat perkembangan kecerdasan buatan, transformasi digital, dan ekonomi berbasis inovasi, pertanyaan tentang siapa yang terlibat dalam membangun masa depan menjadi semakin relevan.
Peringatan ini ditetapkan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2015 melalui resolusi A/RES/70/212 dengan tujuan mendorong akses penuh serta partisipasi setara perempuan dan anak perempuan dalam bidang sains dan teknologi. Pada tahun 2026, tema global yang diangkat adalah “Bridging the Gender Gap in STEM: Advancing AI, Innovation, and Inclusive Leadership.” Tema ini menegaskan pentingnya menutup kesenjangan gender di bidang STEM sekaligus mendorong keterlibatan perempuan dalam pengembangan kecerdasan buatan, inovasi teknologi, dan kepemimpinan yang inklusif.
Penekanan pada kecerdasan buatan dan inovasi menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh berjalan tanpa perspektif gender. AI menawarkan peluang besar dalam bidang kesehatan, pendidikan, mitigasi perubahan iklim, hingga sistem keuangan digital. Namun tanpa keterlibatan perempuan dalam proses riset, pengembangan, dan pengambilan keputusan, teknologi berisiko mereproduksi dan memperkuat bias yang sudah ada di masyarakat.
Secara global, data UNESCO menunjukkan bahwa perempuan hanya merepresentasikan sekitar 30 persen dari total peneliti di dunia. Angka ini mencerminkan tantangan struktural yang masih dihadapi, mulai dari stereotip gender, keterbatasan akses pendidikan, hingga minimnya figur teladan perempuan di bidang sains. Fenomena “leaky pipeline” menggambarkan bagaimana partisipasi perempuan terus menurun di setiap jenjang pendidikan dan karier STEM, meskipun banyak anak perempuan menunjukkan prestasi akademik yang tinggi di usia sekolah.
Bias budaya yang memandang sains dan teknik sebagai bidang maskulin masih kuat di berbagai negara. Perempuan sering kali didorong pada pilihan karier yang dianggap lebih “sesuai”, sementara akses terhadap bidang teknik dan teknologi tidak selalu didukung secara setara. Padahal sejarah mencatat kontribusi besar perempuan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, meskipun kerap kurang mendapat pengakuan.
Kesenjangan juga terlihat dalam aspek pendanaan riset dan kepemimpinan akademik. Peneliti perempuan cenderung menerima hibah penelitian yang lebih kecil dan menghadapi hambatan untuk mencapai posisi strategis. Dalam konteks AI dan teknologi digital, kurangnya keberagaman dalam tim pengembang berpotensi melahirkan sistem yang tidak sensitif terhadap kebutuhan perempuan dan kelompok rentan lainnya.
Mendorong partisipasi perempuan dalam sains bukan hanya soal keadilan, tetapi juga strategi pembangunan yang rasional dan berkelanjutan. Keberagaman dalam tim riset terbukti menghasilkan solusi yang lebih inovatif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Tantangan global seperti perubahan iklim, krisis kesehatan, dan transformasi ekonomi digital membutuhkan perspektif yang inklusif. Mengabaikan potensi separuh populasi dunia berarti secara sadar mengurangi kapasitas inovasi kolektif umat manusia.
Di Indonesia, peringatan ini memiliki arti strategis dalam konteks pembangunan sumber daya manusia. Target peningkatan kualitas talenta di bidang sains dan teknologi tidak akan tercapai secara optimal tanpa keterlibatan perempuan secara setara. Dunia pendidikan dan kebijakan publik perlu menciptakan ekosistem yang mendukung, mulai dari lingkungan belajar yang bebas stereotip, program mentoring, hingga kebijakan kerja yang lebih inklusif.
Menuju sains yang inklusif berarti memastikan bahwa perempuan dan anak perempuan memiliki akses, kesempatan, serta ruang kepemimpinan yang setara. Ketika kesenjangan gender dalam STEM benar-benar dijembatani, inovasi yang lahir tidak hanya lebih maju secara teknologi, tetapi juga lebih adil dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.