Banyak orang merasa sudah berada di jalan yang benar karena rutinitas ibadahnya berjalan dengan baik dan terlihat konsisten dari waktu ke waktu. Salat tidak ditinggalkan, puasa dijaga dengan penuh kedisiplinan, dan sedekah pun rutin dilakukan sebagai bentuk kepedulian sosial. Semua ini tampak baik di permukaan dan sering kali menjadi ukuran kesalehan di tengah masyarakat. Namun dalam Islam, kebaikan yang tampak tersebut tidak selalu bernilai ibadah di sisi Allah. Ada ukuran yang lebih dalam dan lebih prinsipil daripada sekadar terlihat rajin, aktif, dan konsisten dalam menjalankan amalan.
Islam memandang ibadah secara luas, tetapi pada saat yang sama juga sangat terukur dan tidak dibiarkan tanpa batas yang jelas. Ibadah tidak hanya terbatas pada salat dan puasa yang bersifat ritual, melainkan mencakup seluruh ucapan dan perbuatan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Baik yang tampak maupun yang tersembunyi, semuanya dapat bernilai ibadah selama dicintai dan diridai oleh Allah serta dilakukan sesuai dengan ketentuan-Nya. Inilah pemahaman para ulama salaf yang menempatkan ibadah sebagai konsep hidup yang menyeluruh, bukan hanya aktivitas ritual yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja.
Allah Swt. sendiri menegaskan tujuan utama penciptaan manusia dalam firman-Nya:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh kehidupan seorang muslim sejatinya diarahkan untuk bernilai ibadah dan penghambaan kepada Allah. Artinya, bukan hanya waktu-waktu tertentu yang dianggap sakral, seperti saat salat atau puasa, tetapi setiap aspek kehidupan dapat menjadi ibadah. Aktivitas sehari-hari, pekerjaan, interaksi sosial, bahkan niat dalam hati, semuanya berpotensi bernilai ibadah jika dijalani dengan niat yang lurus dan cara yang benar sesuai tuntunan syariat.
Islam juga memberikan batas yang tegas agar makna ibadah tidak menjadi kabur dan disalahartikan. Tidak semua perbuatan baik bisa disebut sebagai ibadah apabila tidak memiliki dasar yang jelas dalam ajaran Islam. Tanpa dalil yang sahih, sebuah amalan tidak dapat dikategorikan sebagai ibadah, meskipun niatnya terasa tulus dan tujuannya terlihat baik di mata manusia. Prinsip ini penting agar umat Islam tidak terjebak pada amalan-amalan yang sekadar mengikuti perasaan, kebiasaan, atau tradisi tanpa landasan syariat.
Rasulullah saw mengingatkan hal ini dengan sangat tegas:
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim)
Hadis ini menjadi pengingat yang kuat bahwa niat baik saja tidak cukup untuk menjadikan suatu perbuatan bernilai ibadah. Ibadah harus dibangun di atas dua fondasi utama yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, yaitu keikhlasan karena Allah dan kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah saw. Jika salah satu dari kedua fondasi ini hilang, maka amal yang tampak baik dan indah di mata manusia bisa kehilangan nilainya di sisi Allah dan tidak diterima sebagai ibadah.
Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa ibadah yang diterima oleh Allah memiliki dua syarat utama yang harus dipenuhi secara bersamaan. Pertama, ikhlas hanya karena Allah, tanpa adanya dorongan riya, keinginan dipuji, atau kepentingan duniawi lainnya. Kedua, amalan tersebut dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw, bukan berdasarkan perasaan pribadi, kebiasaan turun-temurun, atau tradisi yang tidak memiliki dasar yang jelas. Apabila salah satu dari syarat ini tidak terpenuhi, maka amal tersebut gugur meskipun secara lahiriah terlihat baik dan mengesankan.
Dengan demikian, pertanyaan tentang ibadah bukan hanya soal “apa yang kita lakukan”, tetapi juga “mengapa dan bagaimana kita melakukannya”. Islam mengajarkan kehati-hatian dalam beramal agar setiap perbuatan benar-benar bernilai ibadah dan tidak sia-sia. Dengan belajar agama secara benar, meluruskan niat, dan senantiasa mengikuti Al-Qur’an serta Sunnah, seorang muslim berusaha menjaga agar setiap langkah hidupnya tetap berada dalam ridha Allah, bukan sekadar terlihat saleh di mata manusia.