Resep Syukur: Hidangan Spesial Hari Asyura yang Mengikat Tali Silaturahmi Keluarga

Resep Syukur: Hidangan Spesial Hari Asyura yang Mengikat Tali Silaturahmi Keluarga


Risdawati
23/06/2026
19 VIEWS
SHARE

Biasanya, ketika kita mendengar kata “Asyura” atau 10 Muharam, pikiran kita langsung tertuju pada satu hal: puasa. Dan itu benar, karena puasa di hari ini memang memiliki keutamaan luar biasa, bahkan Rasulullah saw menyebutnya sebagai puasa sunah yang paling utama setelah Ramadan. Namun, ada sisi lain dari hari istimewa ini yang sering kali luput dari perhatian kita, yaitu momen kebersamaan setelah berbuka puasa.

Tradisi Kuliner Dunia Muslim: Lebih dari Sekadar Mengisi Perut

Di berbagai penjuru dunia Muslim, hari Asyura tidak hanya diperingati dengan menahan lapar dan dahaga, tetapi juga dirayakan dengan hidangan-hidangan spesial. Ini bukan sekadar soal mengisi perut, melainkan sebuah tradisi kuliner yang sarat makna tentang rasa syukur dan tali silaturahmi.

Jika kita melihat ke Timur Tengah, misalnya, sangat umum menemukan keluarga berkumpul saat malam hari untuk menikmati kurma segar, teh herbal, atau hidangan manis seperti halva (kue tradisional berbasis kacang atau tepung) sebagai tanda kegembiraan atas diselamatkannya Nabi Musa ‘alaihis salam dari Firaun, selain itu, tradisi ini menjadi tanda untuk berbuka puasa bersama keluarga.

Berbeda dengan Timur Tengah, di India dan Pakistan, masyarakat Muslim sering memasak bubur gurih atau manis khusus yang disebut Ashura atau Harees, yang dibuat dari campuran gandum, daging, dan rempah-rempah, lalu dibagikan kepada tetangga dan kerabat. Tradisi ini mengajarkan bahwa kebahagiaan spiritual terasa lebih lengkap ketika dinikmati bersama orang lain.

Lalu, bagaimana dengan kita di Indonesia? Meskipun mungkin tidak ada satu nama hidangan spesifik yang wajib dimakan di hari Asyura seperti di negara-negara tersebut, semangat tradisinya bisa kita adopsi dengan cara yang sangat lokal dan akrab. Bayangkan suasana rumah yang hangat saat matahari mulai terbenam di hari kesepuluh Muharam. Alih-alih hanya berbuka dengan kurma dan air putih saja, mengapa tidak menyiapkan menu spesial yang sedikit berbeda dari hari-hari biasa?

Bisa berupa bubur sumsum yang gurih dengan taburan kelapa parut, soto ayam yang kuahnya bening dan harum rempahnya, atau sekadar kolak pisang yang manis dan menyegarkan. Hal sederhana ini justru menjadi pembeda yang signifikan. Ia memberi sinyal kepada anggota keluarga, terutama anak-anak, bahwa hari ini adalah hari yang istimewa. Ia menciptakan memori kolektif bahwa Islam bukan hanya tentang aturan yang ketat, tetapi juga tentang keindahan, rasa syukur, dan kehangatan rumah tangga.

Meja Makan sebagai Media Ibadah dan Perekat Keluarga

Menyiapkan hidangan spesial ini sebenarnya adalah bentuk ibadah juga. Dalam Islam, niat memegang peranan penting. Jika kamu memasak dengan niat untuk menyenangkan hati keluarga, menghormati tamu, atau sekadar merayakan hari besar agama dengan penuh suka cita, maka setiap potongannya bernilai pahala. Ini adalah wujud nyata dari konsep taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah melalui aktivitas sehari-hari yang paling manusiawi, yaitu makan dan bergaul.

Selain itu, tradisi makan bersama ini juga memperkuat ikatan sosial. Di era di mana kita semakin sibuk dengan layar gadget, menyempatkan diri duduk bersama, berbagi satu piring makanan, dan bercerita tentang rencana baik di tahun Hijriah yang baru saja dimulai adalah obat terbaik untuk kesepian modern. Kita bisa memanfaatkan momen ini untuk saling mengingatkan dengan lembut, meminta maaf atas kesalahan kecil di tahun sebelumnya, dan berdoa bersama agar tahun baru ini membawa keberkahan bagi semua.

Jadi, mari kita ubah sedikit rutinitas kita. Tahun ini, saat memasuki bulan Muharam, jangan lupa untuk merencanakan menu spesial untuk malam Asyura. Ajak pasangan berdiskusi mau masak apa, libatkan anak-anak dalam proses persiapan, atau undang orang tua untuk datang makan malam. Biarkan aroma masakan yang menggugah selera menjadi pengantar doa dan rasa syukur kita.

Karena pada akhirnya, esensi dari perayaan hari besar dalam Islam adalah kembali kepada Allah dengan hati yang bersih dan hubungan dengan sesama yang harmonis. Dan tidak ada cara yang lebih efektif untuk merekatkan hubungan itu selain melalui meja makan yang penuh dengan hidangan lezat dan tawa bersama. Selamat Tahun Baru Hijriah, semoga tahun ini dipenuhi dengan rezeki yang halal, hati yang tenang, dan keluarga yang selalu utuh dalam rida-Nya.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA