Plenger: Ketika Satu Kata Mewakili Keheranan Warganet

Plenger: Ketika Satu Kata Mewakili Keheranan Warganet


Risdawati
01/07/2026
30 VIEWS
SHARE

Pernah membuka kolom komentar media sosial lalu menemukan komentar seperti, “Plenger banget,” atau “Ini mah plenger?”

Bagi pengguna TikTok, Instagram, Facebook, atau X, istilah ini mungkin sudah tidak asing. Kata plenger belakangan sering digunakan untuk menggambarkan seseorang, tingkah laku, atau sebuah peristiwa yang dianggap begitu nyeleneh, absurd, atau sulit dijelaskan dengan logika. Singkatnya, ketika warganet kehabisan kata untuk bereaksi, “plenger” sering menjadi jawabannya.

Meski terdengar seperti sekadar bahasa gaul, kemunculan istilah ini menunjukkan bagaimana masyarakat digital terus menciptakan cara-cara baru untuk mengekspresikan rasa heran, kagum, atau sekadar mengundang tawa.

Dari Bahasa Gaul Menjadi Bahasa Warganet

Tidak ada catatan pasti mengenai siapa yang pertama kali memopulerkan kata plenger. Namun, istilah ini semakin sering muncul di media sosial melalui video-video yang menampilkan tingkah unik, kejadian tidak terduga, hingga komentar-komentar jenaka. Seiring waktu, penggunaannya meluas dan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari di dunia maya.

Menariknya, kata ini tidak memiliki satu makna yang benar-benar baku. Dalam praktiknya, “plenger” lebih berfungsi sebagai ekspresi spontan. Satu kata yang bisa mewakili banyak perasaan sekaligus: heran, bingung, geli, atau tak habis pikir melihat sesuatu yang dianggap di luar kebiasaan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa bahasa selalu berkembang mengikuti zamannya. Media sosial bukan hanya menjadi tempat berbagi informasi, melainkan juga ruang lahirnya kosakata baru yang kemudian digunakan oleh banyak orang.

Mengapa Istilah Seperti Ini Cepat Viral?

Setiap generasi memiliki bahasa khasnya sendiri. Jika dulu ada istilah yang populer pada masanya, kini media sosial membuat kemunculan bahasa gaul berlangsung jauh lebih cepat. Sebuah kata bisa lahir dari percakapan sederhana, lalu dalam hitungan hari digunakan oleh jutaan orang.

Istilah seperti plenger juga membuat komunikasi terasa lebih ringan. Satu kata sering kali sudah cukup untuk menyampaikan reaksi tanpa perlu menjelaskan panjang lebar. Karena itu, tidak sedikit warganet yang menggunakannya saat melihat konten yang unik, menghibur, atau benar-benar di luar dugaan.

Di balik candaan yang mengiringinya, ada sisi positif yang bisa dilihat. Humor menjadi salah satu cara membangun interaksi di ruang digital. Orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal dapat tertawa bersama karena memahami konteks candaan yang sama. Inilah yang membuat bahasa gaul terus hidup dan berkembang.

Namun, ada satu hal yang tetap perlu diingat. Tidak semua hal layak dijadikan bahan candaan. Ketika sebuah istilah digunakan untuk merendahkan, mempermalukan, atau menyerang seseorang, humor kehilangan maknanya sebagai hiburan.

Humor dalam Pandangan Islam

Islam tidak melarang seseorang bercanda atau membuat orang lain tertawa. Rasulullah saw juga dikenal memiliki selera humor dan sesekali bercanda dengan para sahabat. Namun, candaan beliau selalu mengandung kebenaran, tidak dibuat-buat, dan tidak menyakiti.

Rasulullah saw bersabda:

“Celakalah orang yang berbicara lalu berdusta hanya untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.” (HR. At-Tirmidzi).

Selain itu, Allah Swt juga mengingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka yang diperolok lebih baik daripada mereka yang mengolok.” (QS. Al-Hujurat: 11).

Ayat dan hadis tersebut mengajarkan bahwa humor memiliki batas. Mengikuti tren bahasa gaul seperti plenger tentu tidak menjadi masalah. Namun, jangan sampai istilah itu berubah menjadi ejekan, perundungan, atau label yang menyakiti orang lain. Sebab, candaan yang baik bukan hanya mengundang tawa, tetapi juga tetap menjaga adab dan menghormati sesama.

Istilah plenger mungkin suatu hari akan tergantikan oleh kata-kata viral lainnya. Namun, fenomena di baliknya menunjukkan bahwa bahasa akan terus berkembang mengikuti cara masyarakat berkomunikasi. Mengikuti tren boleh saja, selama tetap bijak dalam menggunakannya. Sebab, kata-kata yang kita tuliskan di media sosial tidak hanya mencerminkan selera humor, tetapi juga mencerminkan karakter dan adab kita sebagai seorang muslim.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA