Money Dysmorphia: Saat Saldo Cukup, tetapi Hati Tetap Merasa Kekurangan

Money Dysmorphia: Saat Saldo Cukup, tetapi Hati Tetap Merasa Kekurangan


Risdawati
31/07/2026
14 VIEWS
SHARE

“Isi rekeningmu sebenarnya tidak berkurang. Standar 'cukup' di kepalamu saja yang terus melonjak.”

Pernahkah kamu merasa penghasilanmu tidak pernah cukup, padahal kebutuhan terpenuhi dan tabungan masih ada? Atau merasa tertinggal setelah melihat teman seusia membeli rumah, berlibur ke luar negeri, atau memamerkan investasi di media sosial?

Jika iya, mungkin yang sedang kamu hadapi bukan sekadar masalah keuangan, melainkan cara memandang keuangan itu sendiri. Fenomena ini dikenal sebagai money dysmorphia, yaitu kondisi ketika seseorang merasa dirinya kekurangan uang atau gagal secara finansial, meskipun kenyataannya kondisi ekonominya relatif aman dan stabil.

Apa Itu Money Dysmorphia?

Money dysmorphia bukanlah gangguan mental yang telah ditetapkan sebagai diagnosis medis. Istilah ini diadaptasi dari body dysmorphia disorder, yaitu kondisi ketika seseorang memiliki persepsi yang keliru terhadap tubuhnya. Bedanya, money dysmorphia berkaitan dengan cara seseorang memandang kondisi keuangannya.

Menurut Psikolog Smriti Joshi, kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari trauma keuangan, kecemasan terhadap masa depan, hingga kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Media sosial pun ikut memperkuat perasaan tersebut karena sering kali hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Akibatnya, banyak orang merasa hidupnya kurang berhasil hanya karena membandingkan kenyataan dengan potongan kehidupan orang lain.

Mengapa Gen Z Rentan?

Money dysmorphia paling banyak dialami oleh generasi muda, terutama Gen Z. Sebagai generasi yang tumbuh bersama media sosial, mereka hampir setiap hari terpapar konten tentang gaya hidup mewah, penghasilan fantastis, investasi, hingga pencapaian finansial di usia muda.

Di sisi lain, kenaikan biaya hidup, persaingan kerja, dan ketidakpastian ekonomi juga membuat banyak anak muda merasa harus terus mengejar target finansial. Akibatnya, ukuran “cukup” bukan lagi ditentukan oleh kebutuhan, melainkan oleh pencapaian orang lain.

Survei Intuit Credit Karma menunjukkan bahwa sekitar 43 persen Gen Z mengaku mengalami money dysmorphia dan merasa kondisi keuangannya lebih buruk daripada kenyataan.

Tanda-Tanda Money Dysmorphia

Money dysmorphia sering kali muncul tanpa disadari. Beberapa tandanya antara lain:

1. Merasa uang tidak pernah cukup meskipun memiliki penghasilan atau tabungan yang memadai.

2. Terus-menerus khawatir terhadap kondisi keuangan di masa depan.

3. Sulit menikmati hasil kerja karena merasa belum sesukses orang lain.

4. Sering membandingkan kondisi finansial dengan teman atau konten di media sosial.

5. Menilai keberhasilan diri hanya dari jumlah uang, aset, atau penghasilan.

Dalam beberapa kasus, kondisi ini bahkan dapat membuat seseorang terlalu takut membelanjakan uang, atau sebaliknya, memaksakan gaya hidup demi terlihat sukses di mata orang lain.

Cara Mengatasinya

Money dysmorphia tidak akan hilang hanya dengan menambah penghasilan. Yang perlu diperbaiki justru cara kita memandang uang. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:

a. Menilai kondisi keuangan berdasarkan data, bukan perasaan.

b. Menetapkan tujuan finansial yang realistis sesuai kemampuan diri.

c. Mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, terutama di media sosial.

d. Meningkatkan literasi keuangan agar lebih percaya diri dalam mengelola penghasilan.

e. Belajar mensyukuri setiap kemajuan finansial, sekecil apa pun.

Pada akhirnya, media sosial hanya memperlihatkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang, bukan keseluruhan cerita. Karena itu, jangan jadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur kebahagiaan atau kesuksesanmu.

Sebab, kekayaan sejati tidak selalu diukur dari besarnya saldo rekening, melainkan dari kemampuan mengelola rezeki dengan bijak dan memiliki hati yang merasa cukup (qana'ah). Ketika rasa syukur tumbuh, kita tidak lagi sibuk mengejar standar yang diciptakan orang lain, melainkan fokus membangun kondisi finansial yang sehat sesuai perjalanan hidup kita sendiri.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA