Melestarikan Lingkungan, Mendulang Pahala Jariah

Melestarikan Lingkungan, Mendulang Pahala Jariah


Risdawati
02/01/2026
15 VIEWS
SHARE

Banyak yang berpikir pahala jariah hanya berkaitan dengan wakaf lahan, pembangunan tempat ibadah, atau donasi pendidikan. Namun, dalam ajaran Islam, menjaga kelestarian lingkungan juga merupakan bentuk amal jariah yang pahalanya terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan oleh makhluk hidup. Sebagaimana hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah saw bersabda:

“Ada tujuh yang pahalanya mengalir kepada hamba setelah kematiannya sedangkan ia berada di kuburnya, (yaitu) orang yang mengajarkan ilmu, mengalirkan sungai, menggali sumur, menanam pohon kurma, membangun masjid, mewariskan mushaf, dan meninggalkan anak yang saleh yang memohonkan ampunan untuknya setelah kematiannya.” (HR. Ibnu Majah no. 242, dihasankan oleh Albani di dalam Sahih Al–Jami’ no. 2231).

Hadis ini dengan jelas menyebutkan tujuh cara mendapatkan pahala, yaitu dengan cara menjaga lingkungan. Hal ini juga menegaskan peran manusia sebagai khalifah di bumi, sehingga harus bertanggung jawab untuk merawat, melindungi, melestarikan, dan tidak merusaknya. Setiap usaha menjaga lingkungan, jika dilakukan dengan niat karena Allah, bisa menjadi sumber pahala yang tak pernah berhenti.

Menanam Pohon, Menanam Kebaikan

Menanam pohon bukan sekadar bermanfaat untuk lingkungan, melainkan juga sebagai bentuk sedekah. Setiap buah yang dikonsumsi, oksigen yang dihasilkan, dan makhluk yang berteduh di bawahnya, semuanya menjadi bagian pahala bagi penanamnya, bahkan tanpa disadari. Ini adalah sedekah yang hidup dan terus memberikan manfaat.

Rasulullah saw bersbda:

“Tidaklah seorang Muslim yang menanam pohon, atau menanam tanaman, kemudian burung atau manusia atau hewan makan darinya, kecuali dari itu baginya sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menjelaskan bahwa menanam pohom termasuk amalan yang pahalanya terus mengalir tanpa henti. Selain itu, pada hadis tersebut tidak dibatasi pohon apa yang ditanam, yang terpenting pohon tersebut harus memberikan manfaat kepada makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Namun, terdapat hadis lain yang menjelaskan secara khusus bahwa pohon yang ditanam adalah pohon kurma. Karena pohon kurma setiap bagiannya memiliki manfaat yang banyak dan penuh keberkahan. Rasulullah saw bersabda:

“Permisalan seorang mukmin sebagaimana pohon kurma. Apapun yang kau ambil darinya akan bermanfaat untukmu.” (HR. Ath-Thabrani di dalam Al-Mu’jam Al-Kubra no. 13514, disahihkan oleh Al-Albani di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. 2285).

Mengalirkan Air sebagai Sumber Kehidupan

Air merupakan sumber utama kehidupan bagi manusia, hewan, dan lingkungan. Oleh karena itu, berbagai upaya dalam menyediakan dan menjaga akses air bersih, seperti mengalirkan sungai, menjaga kebersihan aliran air, serta menggali sumur dipandang sebagai amal mulia dalam Islam. Selama air tersebut dimanfaatkan oleh makhluk hidup, pahala dari perbuatan tersebut terus mengalir sebagai amal jariah.

Merujuk pada hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, yang dimaksud dengan mengalirkan sungai adalah upaya membuat saluran atau percabangan dari mata air maupun sungai besar agar air dapat mengalir ke wilayah yang membutuhkan, baik untuk keperluan manusia maupun hewan. Selain itu, menjaga kebersihan sungai dari pencemaran juga termasuk bagian penting dari amal ini, karena air yang bersih memungkinkan pemanfaatan yang berkelanjutan dan mencegah mudarat bagi lingkungan.

Sementara itu, menggali sumur merupakan bentuk lain dari penyediaan sumber air, terutama di daerah yang sulit memperoleh akses air bersih. Sumur yang digali dan dimanfaatkan oleh masyarakat akan terus memberikan manfaat selama airnya digunakan, sehingga pahalanya pun terus mengalir bagi orang yang mewakafkan tenaga, harta, atau usahanya dalam pembangunan sumur tersebut.

Menjaga lingkungan bukan hanya soal kepedulian sosial, tetapi juga investasi pahala jariah. Dengan merawat bumi, kita sedang menyiapkan tabungan kebaikan yang terus mengalir, bahkan setelah kita tiada. Sebab, setiap kebaikan yang dirawat dengan niat yang benar akan kembali kepada pelakunya.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA