Sa’id bin Musayyib: Ketika Takwa Menjadi Ukuran

Sa’id bin Musayyib: Ketika Takwa Menjadi Ukuran


Risdawati
14/08/2026
1 VIEWS
SHARE

Bagi sebagian orang tua, lamaran dari keluarga terpandang mungkin sulit ditolak. Apalagi jika calon menantu adalah putra mahkota, pewaris kekuasaan, dan berasal dari keluarga yang hidup dalam kemewahan. Namun, Sa’id bin Musayyib memilih jalan berbeda.

Ulama besar dari generasi tabi’in itu pernah menolak lamaran Abdul Malik bin Marwan untuk putranya, Al-Walid bin Abdul Malik. Saat itu, Al-Walid telah dipersiapkan sebagai putra mahkota. Kekayaan, kedudukan, dan masa depan yang menjanjikan ada di hadapannya. Namun, semua itu tidak cukup bagi Sa’id untuk menjadikannya pilihan bagi putrinya.

Bagi Sa’id, pernikahan bukan tentang mempertemukan anak dengan keluarga yang paling tinggi kedudukannya. Ia adalah amanah untuk menyerahkan kehidupan seorang anak kepada orang yang akan mendampinginya. Karena itu, yang ia cari bukan gemerlap dunia, melainkan agama dan akhlak.

Memilih yang Saleh, Bukan yang Berkuasa

Kisah tersebut tidak berhenti pada penolakan terhadap lamaran keluarga penguasa. Pilihan Sa’id justru jatuh kepada seorang pemuda yang hidup sederhana, yakni Abdullah bin Abi Wada’ah, salah seorang muridnya.

Ketika itu, Abdullah baru kehilangan istrinya. Beberapa hari ia tidak menghadiri majelis Sa’id karena sibuk mengurus pemakaman. Saat kembali, Sa’id menanyakan keadaannya dan menyarankan agar ia menikah kembali.

Abdullah merasa tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Hartanya sedikit. Bahkan ia menganggap tidak ada orang tua yang bersedia menikahkan putrinya dengan dirinya dalam kondisi seperti itu. Namun, jawaban Sa’id membuatnya terkejut. Ia justru menawarkan putrinya sendiri.

Pernikahan itu berlangsung dengan mahar yang sederhana. Tidak ada pesta mewah atau kemegahan keluarga. Namun, Sa’id melihat sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan harta: kesungguhan Abdullah dalam agama dan akhlaknya sebagai seorang penuntut ilmu. Bahkan setelah akad, Sa’id tidak serta-merta melepaskan tanggung jawabnya sebagai ayah. Pada malam hari, ia mengantarkan putrinya ke rumah Abdullah.

Kisah itu semakin menarik ketika Abdullah kemudian mengetahui siapa sebenarnya perempuan yang dinikahinya. Ia bukan hanya cantik, tetapi juga memiliki ilmu agama, menguasai Al-Qur’an dan hadis, serta memahami hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Pilihan Sa’id akhirnya menunjukkan satu hal: ia tidak sedang mencari menantu yang mampu mengangkat status keluarganya. Ia sedang mencari seseorang yang layak dipercaya untuk menjaga putrinya.

Ketika Dunia Bukan Lagi Ukuran Utama

Kisah Sa’id terasa dekat dengan kehidupan hari ini. Ketika membicarakan calon pasangan anak, orang tua tentu perlu mempertimbangkan banyak hal. Pekerjaan, kemampuan menafkahi, pendidikan, dan kesiapan membangun rumah tangga bukan perkara sepele.

Namun, ada hal yang jangan sampai tersisih oleh semua pertimbangan itu adalah agama dan akhlak. Sebab kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan dalam keadaan nyaman. Ketika ekonomi sedang sulit, akhlak akan terlihat. Ketika muncul perbedaan pendapat, kesabaran akan diuji. Ketika seseorang memiliki kesempatan untuk berbuat semaunya, di situlah ketakwaan menunjukkan perannya.

Kekayaan dapat membantu seseorang menjalani kehidupan. Tetapi kekayaan tidak otomatis membuat seseorang menjadi pasangan yang baik. Begitu pula dengan kedudukan. Jabatan dapat membuka banyak pintu, tetapi tidak menjamin seseorang tahu bagaimana memperlakukan pasangan dengan hormat. Nama besar keluarga mungkin membuat seseorang disegani, tetapi tidak menjamin ia mampu menjadi tempat aman bagi orang yang kelak hidup bersamanya. Karena itu, kisah Sa’id mengajarkan bahwa memilih pasangan untuk anak bukan sekadar memilih siapa yang paling mapan, tetapi siapa yang memiliki bekal untuk menjaga amanah.

Kesalehan Anak Juga Perlu Diperjuangkan

Perhatian Sa’id terhadap agama anaknya tidak hanya terlihat dalam urusan memilih pasangan. Ada kisah lain yang menggambarkan bagaimana ia memandang kesalehan anak sebagai sesuatu yang layak diperjuangkan. Sa’id pernah mengatakan kepada anaknya bahwa ia memperbanyak salat karena menginginkan kebaikan bagi sang anak. Kisah tersebut dikutip dari Muslimah.or.id dalam Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam.

Ada benang merah yang kuat dari kisah-kisah tersebut. Sa’id tidak hanya memikirkan bagaimana anaknya mendapatkan kehidupan yang baik secara duniawi. Ia juga memikirkan siapa yang akan mendampinginya dan bagaimana hubungan anaknya dengan Allah. Ia memilihkan pasangan berdasarkan agama dan akhlak. Ia juga berusaha mendekatkan anaknya kepada kebaikan melalui doa dan ibadah.

Barangkali inilah yang sering terlupakan ketika orang tua menginginkan masa depan terbaik untuk anak. Kita bisa sibuk memikirkan sekolah terbaik, pekerjaan terbaik, rumah terbaik, hingga pasangan terbaik. Namun, semua itu akan kehilangan arah jika fondasi agamanya tidak kuat. Anak memang membutuhkan kehidupan yang layak. Tetapi lebih dari itu, ia membutuhkan bekal untuk menghadapi kehidupan yang tidak selalu sesuai harapan.

Bukan Tentang Siapa yang Paling Kaya

Sa’id bin Musayyib tidak sedang mengatakan bahwa kekayaan atau kedudukan tidak penting. Ia sedang menunjukkan bahwa keduanya bukan ukuran utama dalam memilih pasangan. Sebab seorang putra mahkota mungkin memiliki istana, sementara seorang penuntut ilmu hanya memiliki harta yang sederhana.

Namun, ketika seorang ayah menyerahkan putrinya kepada seorang laki-laki, pertanyaan terpenting bukanlah, “Seberapa banyak yang ia miliki?” Melainkan, “Seberapa baik ia akan menjaga amanah ini?” Pernikahan bukan sekadar pertemuan dua keluarga atau penyatuan status. Ia adalah perjalanan dua manusia yang akan saling memengaruhi, saling menguatkan, sekaligus mempertanggungjawabkan perannya di hadapan Allah.

Itulah sebabnya kisah Sa’id bin Musayyib tetap relevan untuk direnungkan. Dunia mungkin mengajarkan kita untuk memilih yang paling tinggi kedudukannya. Sa’id mengajarkan sesuatu yang berbeda: pilihlah yang tinggi akhlaknya. Sebab kekayaan bisa berkurang, jabatan bisa berakhir, dan kemewahan bisa hilang. Tetapi agama dan akhlak yang dijaga dengan sungguh-sungguh dapat menjadi bekal untuk membangun rumah tangga yang tetap teguh ketika kehidupan berubah.

Pada akhirnya, yang dicari seorang ayah bukanlah menantu yang membuat anaknya tampak lebih tinggi di mata manusia. Ia mencari seseorang yang dapat membantunya tetap dekat kepada Allah.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA