Gen Z Kembali ke HP Jadul, Ada Apa dengan Teknologi Smartphone?

Gen Z Kembali ke HP Jadul, Ada Apa dengan Teknologi Smartphone?


Risdawati
11/08/2026
20 VIEWS
SHARE

Ponsel pintar atau smartphone terus berkembang. Setiap tahun, berbagai perusahaan teknologi berlomba menghadirkan perangkat dengan kamera yang semakin canggih, prosesor lebih cepat, layar lebih tajam, hingga beragam fitur yang membuat ponsel mampu melakukan semakin banyak hal.

Perkembangan tersebut tentu membawa banyak kemudahan. Namun, teknologi tidak selalu bergerak dalam satu arah. Semakin canggih sebuah perangkat, bukan berarti semakin banyak pula fitur yang benar-benar dibutuhkan penggunanya.

Di tengah perlombaan menghadirkan smartphone terbaru, muncul fenomena yang menarik: sebagian anak muda, termasuk Gen Z, mulai melirik kembali ponsel sederhana atau feature phone atau dumbphone yang lebih dikenal sebagai HP jadul.

Dari Alat Komunikasi Menjadi Perangkat Serba Bisa

Perkembangan smartphone tidak hanya terlihat dari spesifikasinya, tetapi juga dari semakin banyaknya fungsi yang dibawa dalam satu perangkat. Dari alat untuk menelepon dan mengirim pesan, smartphone kini menjadi kamera, alat navigasi, perangkat kerja dan belajar, sarana transaksi, pusat hiburan, hingga pintu menuju berbagai layanan digital. Aplikasi dan koneksi internet membuat kemampuan perangkat terus bertambah sesuai kebutuhan penggunanya.

Kemudahan tersebut membuat smartphone semakin melekat dalam aktivitas sehari-hari. Satu perangkat dapat menggantikan banyak perangkat lain, sekaligus menyediakan akses ke berbagai layanan. Namun, ketika semakin banyak aktivitas berpindah ke dalam satu perangkat, semakin besar pula peran smartphone dalam kehidupan penggunanya. Dengan kata lain, ponsel tidak lagi hanya digunakan saat dibutuhkan, tetapi dapat terus terhubung dengan informasi, komunikasi, hiburan, dan berbagai layanan digital.

Ketika Kecanggihan Membawa Konsekuensi

Kecanggihan teknologi bukan sesuatu yang buruk. Persoalannya, perangkat yang semakin lengkap juga dapat membuat interaksi pengguna dengan smartphone semakin sering. Notifikasi, media sosial, pesan instan, hiburan, dan arus informasi yang terus diperbarui dapat menjadi sumber distraksi. Penelitian dalam Scientific Reports pada 2023 menemukan bahwa keberadaan smartphone saja dapat berkaitan dengan penurunan kinerja perhatian dalam eksperimen terhadap 42 peserta berusia 20–34 tahun.

Penelitian lain pada tahun yang sama menemukan bahwa penggunaan smartphone selama 45 menit berkaitan dengan penurunan kewaspadaan dan kemampuan inhibisi dalam kelompok yang diteliti.

Kondisi keterhubungan digital juga terlihat dalam survei Pew Research Center terhadap remaja di Amerika Serikat. Pada 2024, 95 persen remaja yang disurvei memiliki akses ke smartphone dan 46 persen mengatakan mereka berada di internet hampir terus-menerus. Survei lain dari lembaga yang sama menemukan 38 persen remaja merasa menghabiskan terlalu banyak waktu menggunakan smartphone, sementara 36 persen mengatakan mereka telah mengurangi penggunaannya.

Data tersebut tidak berarti smartphone adalah teknologi yang buruk atau menjadi penyebab tunggal masalah kesehatan mental. Justru, data tersebut menunjukkan bagaimana smartphone telah menjadi bagian penting dari kehidupan digital dan mengapa sebagian pengguna mulai mempertanyakan kembali pola penggunaannya.

Di sinilah isu kesehatan mental cukup relevan sebagai konteks, tetapi bukan satu-satunya cerita. Dari sisi teknologi, muncul pertanyaan yang lebih sederhana: bagaimana jika solusi untuk mengurangi gangguan digital justru datang dari perangkat yang memiliki lebih sedikit kemampuan?

Gen Z Mulai Melirik HP Jadul

Ketertarikan terhadap feature phone atau dumbphone kembali muncul di sejumlah negara, termasuk di kalangan anak muda. Sejumlah laporan mencatat bahwa sebagian Gen Z mulai menggunakan ponsel sederhana untuk mengurangi paparan media sosial dan konektivitas digital, meski fenomenanya masih merupakan tren yang relatif kecil dibandingkan dominasi smartphone.

Studi yang diterbitkan pada 2025 juga secara khusus mengamati perpindahan dari smartphone ke feature phone di Indonesia sebagai bentuk digital detox. Penelitian tersebut menggunakan metode mikro-netnografi dengan menganalisis percakapan pengguna di media sosial. Hasilnya menunjukkan adanya pergeseran perilaku pengguna menuju feature phone digerakkan oleh kelelahan digital yang kemudian memicu kelelahan emosional.

Kondisi ini melahirkan urgensi bersama untuk mencapai kejernihan kognitif, sekaligus bentuk pencarian atas otentisitas dan kesederhanaan hidup di tengah lingkungan yang jenuh secara teknologi. Guna menangkap fenomena tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan mikro-netnografi yang difokuskan untuk memotret kedalaman pengalaman subjektif dan wacana yang berkembang di kalangan pengguna, alih-alih mengklaim bahwa mayoritas masyarakat Indonesia telah sepenuhnya meninggalkan smartphone.

Dari sudut pandang teknologi, daya tarik HP jadul justru terletak pada keterbatasannya. Perangkat ini biasanya menawarkan fungsi dasar seperti menelepon dan berkirim pesan, dengan akses aplikasi dan internet yang jauh lebih terbatas dibandingkan smartphone.

Keterbatasan tersebut dapat menjadi semacam batas alami. Tidak ada banyak aplikasi untuk dibuka, tidak banyak notifikasi yang masuk, dan tidak semua aktivitas digital dapat dilakukan dari satu perangkat.

Meskipun begitu, bukan berarti HP jadul lebih unggul daripada smartphone. Untuk bekerja, belajar, navigasi, transaksi digital, fotografi, dan berbagai kebutuhan lain, smartphone tetap jauh lebih mampu.

Fenomena ini justru menunjukkan paradoks perkembangan teknologi. Selama bertahun-tahun, kemajuan perangkat diukur dari semakin banyaknya kemampuan yang ditambahkan. Kini, sebagian pengguna justru tertarik pada teknologi yang menawarkan lebih sedikit. Keterbatasan yang dahulu dianggap sebagai kekurangan, dalam kondisi tertentu justru bertransformasi menjadi daya tarik utama.

Tak Semua yang Canggih Harus Dipilih

Smartphone akan terus berkembang. Kamera semakin pintar, prosesor semakin cepat, konektivitas semakin luas, dan kecerdasan buatan semakin terintegrasi ke dalam perangkat. Namun, kebutuhan pengguna tidak selalu bergerak secepat perkembangan teknologi. Munculnya kembali HP jadul menunjukkan bahwa teknologi yang lebih baru dan lebih canggih tidak otomatis menjadi teknologi yang paling sesuai bagi setiap orang.

Pada akhirnya, teknologi bukan hanya soal seberapa banyak kemampuan yang dapat dimasukkan ke dalam sebuah perangkat, tetapi juga seberapa tepat kemampuan tersebut menjawab kebutuhan. Sebab, perangkat yang paling canggih belum tentu menjadi perangkat yang paling kita perlukan.

Perasaan kamu tentang artikel ini?

BACA JUGA